BolaSkor.com - Hasil laga pertama 16 besar Liga Champions bisa dikatakan sudah menjamin Liverpool mendapatkan satu tempat di perempat final. Dengan lima gol tandang, rasanya sulit bagi FC Porto membuat kejutan atau keajaiban pada laga kedua di Anfield.

Penampilan Liverpool di Stadion Dragao tentu sangat memuaskan bagi sang manajer, Jurgen Klopp. Dalam pertandingan tersebut, anak asuhnya praktis memenangi pertarungan penting di lini tengah. Tak hanya itu, pasukannya juga mampu membuat lima gol dan mencatat clean sheet ketiga dalam empat laga.

Duel di markas Porto juga mengingatkan publik betapa mematikannya Liverpool. Filosofi gegenpressing yang dikombinasikan dengan etos kerja yang kuat menjadi modal bagi The Reds untuk menghancurkan lawan, termasuk Porto. Musim ini, sudah tujuh kali Liverpool menang dengan memcetak empat gol atau lebih di semua kompetisi.

Yang menarik, dalam laga kontra Porto, Liverpool sangat diuntungkan dengan terlebih dulu membuat dua gol saat laga belum genap 30 menit. Situasi yang memaksa Porto untuk keluar menyerang. Kondisi yang ideal bagi Liverpool, yang jika ditilik lebih dalam merupakan sebuah tim yang menjadikan serangan balik sebagai senjata.

Tak sedikit lawan yang memilih membiarkan Liverpool untuk menguasai bola sembari mencari kesempatan melancarkan serangan balik yang membuat barisan belakang The Reds gugup. Namun tentu saja skenario itu akan buyar jika Liverpool berhasil unggul lebih dulu. Lawan yang mau tak mau harus menyerang demi menyamakan kedudukan akan berisiko menerima counter maut dari Liverpool.

Liverpool sendiri memang beberapa kali gagal memanfaatkan keunggulan. Beberapa kali mereka gagal meraih kemenangan meski sempat unggul dua atau tiga gol. Contohnya saja saat melawan Sevilla, ketika mereka membuang keunggulan tiga gol.

Namun, ada perubahan yang terlihat, meski tak mencolok, dari Liverpool usai laga kontra Sevilla. Liverpool tak lagi keukeuh menjalankan gegenpressing sepanjang laga.

"Mereka tahu tak perlu lagi bermain menekan saat unggul beberapa gol. Mereka bisa bertahan dan melakukan counter dan itu sisi lain yang sudah dilihat Klopp," ujar Stephen Warnock, mantan bek Liverpool kepada BBC Radio 5.

Melihat perjalanan musim ini, Liverpool memang lebih sering memetik kemenangan setelah unggul lebih dulu. Saat ini Liverpool ada di urutan teratas klub di Premier League yang mencetak gol di 30 menit pertama dengan 19 gol. Sedangkan di Liga Champions, Liverpool mencetak 12 gol di 30 menit pertama.

Selama ini permainan Klopp acap dibandingkan dengan Pep Guardiola. Keduanya senang melakukan tekanan dengan garis pertahanan tinggi. Namun yang membedakannya adalah; Guardiola mengagungkan penguasaan bola.

Liverpool di bawah Klopp memang acap banyak menguasai bola. Namun, hal itu justru tak membawa hasil seperti Guardiola bersama Manchester City. Di musim ini baru delapan laga di Premier League Liverpool mencatat penguasaan bola di atas 60 persen. Dan, percaya atau tidak, dari delapan laga tersebut, The Reds hanya tiga kali memetik kemenangan.

Letak perbedaan Liverpool dengan Man City adalah The Reds lemah dalam mencari dan membuka peluang karena minimnya gelandang yang bisa menjadi distributor sekaligus kreator. Liverpool tak punya Kevin De Bruyne atau David Silva. The Reds semata mengandalkan kelihaian dan kecepatan tiga penyerang, Roberto Firmino, Sadio Mane, dan Mohamed Salah.

Trio depan Liverpool tak butuh banyak sentuhan untuk bisa menjebol gawang lawan. Karena itu pula mengapa Jose Mourinho dan Antonio Conte membiarkan Liverpool banyak menguasai bola saat mereka berlaga di Anfield. Hasilnya, Liverpool gagal menang pada kedua laga tersebut.

Meski begitu, Liverpool masih akan menjadikan gegenpressing sebagai roh utama permainan. Lewat permainan menekan khas Klopp inilah Liverpool akan membuat lawan tak nyaman dan membuat kesalahan. Saat kesalahan dibuat, Liverpool akan menyerang bak piranha.

Laga kontra Porto merupakan gambaran paling ideal untuk memetakan kekuatan Liverpool.