BolaSkor.com - Leg pertama 16 besar Champions League telah berlangsung, antara Juventus dengan Tottenham Hotspur di J-Stadium. Laga berakhir 2-2 di Turin melalui dua gol yang dicetak Gonzalo Higuain, serta dua gol yang masing-masing dicetak Harry Kane dan Christian Eriksen.

Tottenham sekali lagi telah membuktikan, bahwa mereka tak ingin sekedar meramaikan Champions League. Di fase grup H yang berisikan Borussia Dortmund, APOEL, dan juara bertahan, Real Madrid, Tottenham sukses keluar sebagai juara grup.

Dalam perjalanannya, Tottenham lima kali meraih kemenangan, termasuk dua kemenangan melawan Dortmund, dan satu kemenangan saat melawan Madrid dengan skor 3-1 di Wembley Stadium. Satu hasil seri diraih saat imbang 1-1 melawan Madrid di Santiago Bernabeu.

Penampilan hebat yang diperlihatkan Tottenham itu memperlihatkan perkembangan pesat tim, di bawah asuhan Mauricio Pochettino. Tottenham memiliki kombinasi pemain muda-senior yang bagus di tiap lini, serta memiliki pemain andalan seperti: Harry Kane, Christian Eriksen, Dele Alli, Erik Lamela, dan Son Heung-min.

Kala melawan Juventus yang sarat pengalaman bermain di Eropa, Tottenham bermain bijak, tanpa harus mengubah gaya bermain ofensif yang mereka miliki. Bukti 72 persen penguasaan bola merupakan tanda, bahwa Tottenham sama sekali tidak mengubah filosofi bermain.

"Hanya di tujuh menit pertama kami sulit mengontrol situasi. Setelahnya, selama 83 menit kami mendominasi Juventus dan ini hal yang harus dipuji. Tidak banyak tim datang ke sini dan mendominasi Juventus," tutur Pochettino.

Memang, apa yang diucapkan Pochettino tidak salah. Tottenham bak tertidur di 10 menit pertama, karena tiba-tiba kebobolan oleh dua gol cepat Higuain. Gol pertama El Pipita tercipta indah - meski terlihat offside dalam tayangan ulang, saat ia menyambar umpan Miralem Pjanic dari tendangan bebas dengan sepakan first time, tanpa mampu diantisipasi Hugo Lloris.

Lalu untuk gol kedua, tercipta dari titik putih, setelah sebelumnya Federico Bernardeschi dilanggar Ben Davies. Higuain pun sedianya bisa mencetak dua gol tambahan, andai satu peluangnya tidak melebar, dan satunya tidak gagal dari titik putih tepat sebelum turun minum.

Sementara gol dari Kane tercipta di menit 35. Top skor Tottenham menerima umpan terobosan dari rekan setimnya, onside karena sejajar dengan Alex Sandro, dan melewati Gianluigi Buffon sebelum mengakhirinya dengan gol. Kemudian, gol Eriksen tercipta di menit 71, dari tendangan bebas yang mengarah ke pojok kanan gawang Juventus.

Pertandingan berjalan seru untuk fans netral, karena laga berjalan intens dari awal hingga akhir pertandingan, dan berikut kami jabarkan analisis mengenai pertandingan tersebut, dengan tiga kunci pertandingan yang menentukan hasil akhir laga di Turin tersebut.

1. Dembele dan Eriksen Bos di Lini Tengah

Tottenham semakin baik semenjak Mousa Dembele kembali bermain. Dembele merupakan salah satu gelandang terbaik Premier League karena gaya bermainnya yang langka. Ia box to box yang dapat membantu tim bertahan, juga menyerang. Tapi, Dembele juga memiliki kemampuan unik menjaga bola dari terjangan lawan, dan mendribelnya melewati pemain.

Berduet dengan Eric Dier yang memiliki fungsi melapis lini belakang, Dembele semakin menjadi-jadi dalam perebutan bola di lini tengah saat melawan Juventus. Dembele dan Eriksen, yang mengatur serangan Tottenham, menjadi bos di lini kedua yang menyulitkan Juventus untuk membangun serangan dengan tenang.

Hal itu bisa dilihat dari jumlah 94 operan sukses Dembele dan 70 operan sukses Eriksen, yang mencapai kaki rekan setimnya. Mereka bebas mengeksploitasi ruang karena tidak ada pemain Juventus yang mengawal pergerakan mereka, melainkan bermain bertahan dengan menerapkan sistem zonal marking - pengawalan berdasarkan zona atau daerah permainan.

Heatmap pergerakan Dembele dan Eriksen (Whoscored)

Ketika Dembele dan Eriksen bebas mengkreasikan permainan Tottenham, rekan setim lainnya juga bisa lebih bebas menyerang pertahanan Juventus. Keleluasaan bergerak Dembele dan Eriksen ini merupakan kunci performa hebat Tottenham di Turin.

2. Juve Kehilangan Dybala dan Matuidi

Dua sosok yang hilang dari pertandingan semalam bagi Juventus, adalah Paulo Dybala dan Blaise Matuidi. Tanpa Dybala, Juventus tidak terlalu memberikan ancaman saat melakukan serangan dengan serangan balik atau membangun serangan.

Higuain bahkan sampai harus mundur mendekati tengah lapangan untuk menjemput bola. Semakin jauh Higuain dari area 16 meter lawan, maka kans Juventus juga tipis untuk mencetak gol. Peran itu biasanya dimainkan oleh Dybala, yang memang sering membangun serangan dengan berlari dari lini kedua.

Bernardeschi yang diharapkan dapat menggantikan peran Dybala, gagal melakukannya. Pun demikian di lini tengah tanpa Matuidi. Absennya gelandang asal Prancis merupakan penyebab bebasnya lini tengah Tottenham menguasai bola. Dembele atau Eriksen tidak dikawal dengan ketat, hingga mereka bisa mengkreasikan serangan Tottenham.

Alhasil, tanpa Matuidi, Pjanic dan Sami Khedira hilang arah. Pjanic yang lebih maksimal ketika membantu serangan, dipaksa bertahan. Begitu juga dengan Khedira, yang tampak bingung untuk membatasi pergerakan dinamis para gelandang Tottenham.

3. Tuan Rumah Terlalu "Takut" Menyerang

"Saya harus katakan lagi dan lagi - Juve kurang kecepatan. Kami harus bermain dengan 4-3-3 dengan dua sayap yang cepat, serta dua full-backs yang cepat. Bermain defensif selama 80 menit di kandang itu memalukan."

Komentar di atas diucapkan oleh Mikkel, salah satu fans Juventus di Twitter. Omongannya tidak salah, karena Juventus memang terlalu defensif saat melawan Tottenham. Entah ini kebijakan strategi Massimiliano Allegri atau tidak, tapi Juventus takkan ke mana-mana jika terus bermain seperti itu.

Jikalaupun mengincar lawan melalui serangan balik, Juve seharusnya bisa lebih klinikal dalam mencetak gol. Saat melawan Tottenham, para pemain Juve seakan langsung mundur ke belakang saat diserang, dan cenderung mudah kehilangan bola saat ditekan pemain lawan.

19 kali bola berhasil direbut pemain Tottenham dari kawalan pemain Juventus. Hal ini juga yang terus membuat Tottenham dominan di lini tengah. Kini, tak ada pilihan lain untuk Allegri, selain memotivasi anak asuhnya untuk bermain habis-habisan di London, pada leg kedua yang berlangsung Maret mendatang.

"Kami tahu laga akan sulit. Kami menghadapi Tottenham di Champions League, tim yang sangat mengandalkan fisik dan memiliki kemampuan teknik bagus. Sekarang, laga di London akan seperti final, dan kami harus bertarung untuk lolos," ucap Allegri.