BolaSkor.com - Perang bintang antara Real Madrid dengan Paris Saint-Germain (PSG) di Santiago Bernabeu berakhir untuk kemenangan El Real. Tuan rumah leg pertama 16 besar Champions League menang 3-1 atas PSG via dua gol Cristiano Ronaldo (satu gol dari titik putih) dan Marcelo, yang membalas gol Adrien Rabiot.

Pertandingan berjalan ketat yang dibuktikan melalui penguasan bola sama kuat 50-50. Madrid mendominasi penguasaan bola di babak pertama, dan memenangi duel perebutan bola di lini tengah seiring keberadaan Toni Kroos, Casemiro, Luka Modric, dan Isco. Lini tengah PSG yang diisi Marco Verratti, Giovani Lo Celso, dan Rabiot tak bisa mengimbanginya.

Penyerang sentral PSG, Edinson Cavani, bahkan jarang menyentuh bola di babak pertama dan terisolasi di lini depan, karena jarang mendapatkan suplai bola dari rekan setimnya. Di babak kedua, PSG baru sedikit membaik dari segi penguasaan bola, dan menciptakan beberapa peluang yang tidak diselesaikan dengan penyelesain akhir yang klinikal.

Edinson Cavani jarang menerima bola dan terisolasi di lini depan saat melawan Real Madrid (StatsZone)

Dari faktor non-teknis, kemenangan yang diraih Madrid, setelah tertinggal dari gol Rabiot, tidak lepas dari pengalaman segudang mereka di Champions League. Semangat pantang menyerah yang mereka perlihatkan menegaskan, bahwa 12 titel Champions League tidak diraih secara kebetulan.

Tapi itu baru dari faktor non-teknis, dari teknis pertandingan itu sendiri, ada beberapa kunci atau faktor yang menjadi pembeda dalam pertandingan. Termasuk salah satunya, diperlihatkan melalui kejeniusan pelatih Madrid, Zinedine Zidane.

1. Pergantian Jitu

Gol Ronaldo lahir dari pergerakan yang dilakukan Asensio (Getty Images)

Dari pergantian pemain yang dilakukan kedua pelatih, terlihat jelas perbedaan level yang cukup mencolok. Ketika Unai Emery, pelatih PSG, menarik keluar Cavani dan menggantinya dengan bek kanan, Thomas Meunier, ia mengindikasikan agar PSG lebih kompak dalam bertahan.

Saat Emery melakukan pergantian tersebut, kedudukan sama kuat 1-1 di antara kedua tim. Namun, perubahan taktik Emery, langsung direspon Zidane dengan pergantian ofensif kala memasukkan Gareth Bale, Lucas Vazquez, dan Marco Asensio, untuk menggantikan Casemiro, Karim Benzema, dan Isco.

Hasilnya pun positif, khususnya jika melihat performa Asensio. Pemain asal Spanyol berusia 22 tahun berandil besar menyempurnakan comeback Madrid, dengan mengawali dua proses gol kedua dan ketiga Madrid. Pertama, umpan silang mendatar Asensio terdefleksi kaki Meunier, gagal disapu sempurna Alphonse Areola, dan mendarat di lutut Ronaldo yang langsung mengonversinya menjadi gol.

Lalu untuk gol ketiga Madrid, Asensio langsung yang memberikan assist kepada Marcelo. Asensio pantas dinobatkan sebagai supersub yang mengubah hasil akhir pertandingan. Sementara bagi Emery, malang nasibnya. Memasukkan Meunier justru menjadi blunder, karena ia justru banyak memberikan celah kepada Asensio di sisi kanan pertahanan PSG.

Menempatkan Dani Alves maju ke depan melakukan kesalahan taktik yang diterapkan Emery. PSG lebih kompak bermain di lini belakang ketika Alves berada di posisi terbaiknya, bek kanan.

2. Tidak Ada Gelandang Bertahan, PSG Juga Tidak Klinikal

Champions League merupakan panggung klub-klub top Eropa. Tiap kesalahan kecil di dalam pertandingan akan dihukum dengan hasil akhir yang buruk. Ini terjadi pada laga PSG melawan Madrid.

PSG sedianya punya cukup peluang untuk mencetak lebih dari satu gol. Terlepas dari kesulitan Cavani lepas dari kawalan Sergio Ramos atau Raphael Varane, PSG menciptakan beberapa peluang di babak kedua melalui kaki Kylian Mbappe, Neymar, dan Alves. Sayang, di antara peluang yang mereka ciptakan, tidak ada gol yang tercipta.

Total 12 tendangan dan empat tendangan tepat sasaran PSG urung berbuah lebih dari satu gol. Sementara Madrid, efektif membunuh lawan melalui gol kedua dan ketiga. Mereka juga bisa menciptakan gol lebih banyak lagi jika kiper PSG, Areola, tidak bermain gemilang menepis bola yang datang.

Selain itu, absennya Thiago Motta, begitu terasa di kubu PSG. Emery menempatkan Rabiot lebih ke depan, sementara Lo Celso kelimpungan menghadapi dinamika lini tengah barisan bintang Madrid. Pun demikian dengan Verratti, yang akhirnya berjuang sendirian melapis lini belakang PSG.

Empat gelandang melawan tiga gelandang. Jelas Madrid memenangi duel perebutan bola. Ketika Kroos, Casemiro, dan Modric stabil menjaga kekuatan di lini tengah, Isco diberi peran bebas oleh Zidane hingga terus terlibat aktif proses serangan Madrid. Gelandang serang asal Spanyol bergerak hampir di seluruh area untuk membuka pertahanan PSG.

Heatmap pergerakan Isco (Whoscored)

Mungkin, Isco takkan bergerak bebas jika PSG memiliki Motta atau memainkan eks pemain Madrid yang berada di bangku cadangan, Lassana Diarra, mungkin.