BolaSkor.com - Setelah ditinggal Antonio Conte pada 2014, grafis tim nasional Italia menurun drastis. Ditangani oleh Gian Piero Ventura, Gli Azzurri justru terpuruk, dengan klimaksnya...gagal lolos ke Piala Dunia 2018.

Untuk kali pertama sejak tahun 1959, Italia gagal lolos ke Piala Dunia. Italia kalah agregat gol 0-1 dari Swedia di play-off. Parahnya, setelah tersingkir, empat pemain veteran Italia langsung memutuskan gantung sepatu, mereka adalah Giorgio Chiellini, Andrea Barzagli, Daniele De Rossi, dan Gianluigi Buffon.

Publik dan awak media pun ramai-ramai menjadikan Ventura sebagai kambing hitam keterpurukan Italia. Tidak salah. Tapi, Chiellini justru melihat sisi berbeda dari dekadensi performa Italia, yang terakhir menjuarai Piala Dunia pada tahun 2006.

Uniknya, bek Juventus berusia 33 tahun itu menyalahkan manajer Manchester City, Pep Guardiola, sebagai biang menurunnya performa Italia. Menurut Chiellini, Pep mengubah sudut pandang banyak pelatih Italia dengan filosofi sepak bola ofensif, menghibur, seperti yang diperlihatkannya saat ini di Man City dan dahulu, bersama Barcelona serta Bayern Munchen.

Akibatnya, banyak pelatih-pelatih asal Italia yang ingin memeragakan gaya bermain serupa, dengan membangun serangan dari belakang dan mengesampingkan pertahanan yang kokoh, lugas, tanpa kenal kompromi ala bek-bek Italia di masa lampau. Di saat Italia masih terkenal dengan sistem bermain catenaccio alias pertahanan gerendel.

"Dia (Pep) pelatih yang fantastis dengan pikiran yang fantastis. Tapi, pelatih-pelatih Italia mencoba mengikutinya tanpa memiliki wawasan yang sama, dan kemudian, di 10 tahun terakhir, kami kehilangan identitas kami," tutur Chiellini kepada Daily Mail, Sabtu (10/2).

"Kami kehilangan identitas pemain seperti (Paolo) Maldini, (Franco) Baresi, (Fabio) Cannavaro, (Alessandro) Nesta, (Giuseppe) Bergomi, (Claudio) Gentile, (Gaetano) Scirea di antara tahun 1984 dan 1995, kami hanya punya (Leonardo) Bonucci."

"Dalam 10 tahun terakhir, kami tidak mengorbitkan satu pun bek bagus. Saya harap sekarang kami memulai kembali sepak bola Italia. Hasil di Piala Dunia merupakan bukti dari masalah kami," tegas Chiellini.

Pengaruh dari luar memang tidak selamanya bagus. Terkadang, jika tak bisa disaring, pengaruh tersebut bisa memengaruhi identitas suatu daerah tertentu. Dalam hal ini, sepak bola Italia terkena dampaknya. FIGC selaku federasi sepak bola Italia seharusnya mendengarkan saran yang diberikan Chiellini.