Kilas Balik 2017: Terbaik dan Terburuk

Kilas Balik 2017: Terbaik dan Terburuk Kiper Italia Gianluigi Buffon usai gagal ke Piala Dunia 2018. (Sky Sports)

BolaSkor.com - Pasang-surut mewarnai kancah sepak bola dunia sepanjang tahun 2017. Ada yang menjadi kenangan yang manis, ada pula yang pahit. Ada keriaan, ada pula kesedihan. ada yang terbaik, ada yang terburuk.

Berikut segala hal yang terbaik dan terburuk yang menghiasi sepak bola dunia sepanjang 2017.

Pertandingan terbaik: Manchester City 5-3 Monaco (22 Februari)

Laga leg pertama babak 16 besar Liga Champions menjadi pertunjukan yang memiliki semua faktor tontonan menarik.

Lewat pertempuran sengit, City mampu keluar sebagai pemenang setelah dua kali dalam posisi tertinggal. Laga ini dihiasi dengan sebuah gol cantik yang dibuat Radamel Falcao. Duel ini juga memperkenalkan Kylian Mbappe di panggung besar bola dunia.

Performa Tim Terbaik: Barcelona 6-1 PSG (9 Maret)

Laga ini merupakan saat dimana Barcelona membuat keajaiban. Blaugrana mengawali laga dengan defisit empat gol setelah kalah 0-4 di leg pertama babak 16 besar Liga Champions. Sebelum kick off banyak yang menyebut laga ini merupakan akhir dari masa keemasan Barca.

Namun, dunia menjadi saksi bagaimana Barcelona secara ajaib membalikkan keadaan dan menghancurkan PSG yang pada leg pertama tampil perkasa. Barcelona lolos dengan mencetak enam gol. Barca mencetak tiga gol di pada tujuh menit terakhir, termasuk gol Sergi Roberto di menit ke-95 atau sepuluh detik sebelum peluit dibunyikan wasit.

Pemain Muda Terbaik: Kylian Mbappe

Tahun 2017 menjadi titik lesat seorang Kylian Mbappe. Semula tak ada yang mendengar nama pemain muda 18 tahun ini hingga dia tampil fenomenal dalam laga Monaco kontra Man City di Stadion Etihad, Februari 2017.

Selepas itu Mbappe menginspirasi Monaco menjadi kampiun Ligue 1 dan lolos ke semifinal Liga Champions. Kini Mbappe membela rival Monaco, PSG sebagai pemain pinjaman dan diproyeksikan bergabung dengan nilai transfer 166 juta pound.

Transfer Terbaik: Ederson (Manchester City)

Manchester City mengeluarkan 34,7 juta untuk mendatangkan Ederson dari Benfica. Padahal City sudah memiliki kiper kelas dunia macam Joe Hart dan Claudio Bravo. Bahkan Bravo baru semusim didatangkan City.

Namun, Pep Guardiola menilai salah satu kunci kegagalan timnya menjadi juara adalah tidak adanya sosok kiper yang sesuai dengan keinginannya. Semula Bravo dipercaya bisa melakukannya, tapi terbukti gagal. Pencarian Guardiola akhirnya berakhir dengan masuknya Ederson, kiper yang tangguh menjaga gawang, tapi juga bisa mengolah dan melepaskan umpan layaknya seorang gelandang.

Pelatih Terbaik: Zinedine Zidane

Tak dimungkiri lagi, 2017 adalah tahunnya Zinedine Zidane dan Real Madrid. Memang Zidane ada dalam tekanan di musim ini. Namun, secara keseluruhan, 2017 adalah masa gemilang bagi pria yang akrab disapa Zizou ini.

Di tahun 2017, Zidane mengawal Madrid mempertahankan trofi Liga Champions, menjuarai La Liga, Piala Super Spanyol, Piala Super Eropa, dan Piala Dunia Antarklub.

Peluang Gagal Terburuk: John Guidetti, Celta Vigo vs MU (12 Mei)

Pada laga leg kedua semifinal Piala Europa yang berlangsung di Stadion Olf Trafford, 12 Mei 2017, sejatinya Celta Vigo bisa menyingkirkan MU dan tampil di final, sekaligus menghentikan asa Setan Merah tampil di Liga Champions musim berikutnya.

Laga sudah memasuki detik terakhir, skor 1-1 dengan agregat 2-1, Celta mendapat peluang emas ketika bola mendarat di hadapan John Guidetti yang berdiri kurang dari tiga meter di depan gawang MU. Jika Guidetti mencetak gol, MU tak mungkin mengejar dan Celta melaju ke final. Namun, mantan tombak Man City itu gagal total.

Transfer Terburuk: Joe Hart (West Ham)

Saat mendapatkan Joe Hart sebagai pinjaman dari Man City, kubu West Ham disebut mendapatkan rezeki nomplok. Pasalnya mereka bisa memakai jasa salah satu kiper terbaik Inggris yang menjadi langganan timnas.

Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Hart hanya bisa mencatat tiga clean sheets dalam 14 laga hingga akhirnya posisinya digesera oleh Adrian, yang mampu mencatat tiga clean sheets dalam empat penampilan pertamanya.

Keputusan Terburuk: Gol hantu Panama versus Kosta Rika

Dalam laga terakhir kualifikasi Piala Dunia 2018 zona Concacaf, yang menjadi duel hidup mati, sebuah keputusan terburuk terjadi.

Panama dinilai berhasil membuat gol yang membuat skor imbang. Padahal bola hasil tembakan Blas Perez yang menghantam tiang, jelas-jelas belum melewati garis gawang. Gol tetap disahkan dan melecut spirit Panama yang kemudian mencetak gol kemenangan di menit ke-88 sekaligus meloloskan mereka ke putaran final Piala Dunia 2018 di Rusia untuk pertama kalinya.

Kegagalan Terburuk: Italia Tak Lolos ke Piala Dunia

Tahun 2017 bisa jadi merupakan masa terkelam dalam sepak bola Italia. Untuk pertama kalinya sejak 1958 Italia gagal tampil di Piala Dunia.

Kegagalan ini pun disebut sebagai akhir dari sebuah era dalam sepak bola Italia. Banyak pihak yang menuntut adanya revolusi dalam persepakbolaan Italia, khususnya di tubuh federasi sepak bola (FIGC). Giampiero Ventura sang pelatih yang dianggap menjadi biang kegagalan pun dipecat.

Leave a Comment