Pelajaran di Balik Sukses Sepak Bola Islandia

Pelajaran di Balik Sukses Sepak Bola Islandia

BolaSkor.com - Timnas Indonesia bakal menjajal Islandia pada laga uji coba di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Minggu (14/1). Sejatinya banyak pelajaran yang bisa dicuri dari kisah sukses Islandia, negara terkecil yang bisa tampil di Piala Dunia.

Islandia mulai mencuri perhatian saat tampil di Piala Eropa 2016 silam. Ketika itu mereka mampu melaju hingga perempat final setelah sebelumnya menyingkirkan Inggris. Islandia memang akhirnya kalah 2-5 di tangan Prancis. Namun sukses tim kecil dari negara mini ini kontan menjadi perhatian dunia.

Sukses Islandia berlanjut dengan lolos ke Piala Dunia 2018. Peringkat FIFA pun melonjak hanya dalam lima tahun. Prestasi yang mengejutkan bagi negara di sebuah pulau kecil yang hanya merasakan sina matahari tiga bulan dalam setahun. Lebih hebat lagi, olahraga utama Islandia adalah bola tangan, bukan sepak bola.

Jadi apa yang menjadi rahasia sukses Islandia? Paling tidak ada empat faktor yang menjadi kunci sukses sepak bola Islandia. Moha bisa bermanfaat bagi persepakbolaan di Indonesia.

1. Sukses berawal dari pendidikan

Pendidikan dianggap vital dalam perkembangan anak-anak di Islandia. Pemerintah menerapkan kebijakan setiap anak ambil bagian paling tidak tiga sesi olahraga di sekolah tiap setiap pekan.

Anak-anak di Islandia sudah mendapatkan pelatihan yang diberikan oleh pelatih berakreditas UEFA sejak mereka berusia empat tahun. Pada 2016 lalu, Islandia memiliki 600 pelatih terakreditas atau satu pelatih tiap 550 orang. Sebagai pembanding, Inggris rata-rata satu pelatih untuk 11.000 warganya. Saat ini Islandia sudah memiliki lebih dari 800 pelatih dengan lisensi UEFA A atau B. Mereka melatih tim profesional sekaligus membina pemain usia muda.
Setiap pelatih diberi kebebasan menerapkan metode latihan. Tak ada keharusan harus melatih dengan sistem atau metode seragam karena tak semua anak bisa menjalankannya.

Federasi Sepak Bola Islandia (KSI) menyatakan usaha mereka memperkuat pendidikan sepak bola menjadi motor utama menanjaknya prestasi sepak bola Islandia. Nyaris semua pemain yang memperkuat timnas adalah buah dari program ini. Program yang menekankan pada pelatih yang berkualitas. Islandia saat ini merupakan negara dengan pelatih elit per kapita terbanyak di dunia.

2. Berdasarkan kemampuan

Uniknya dalam pembinaan pemain belia, Islandia tak menerapkan pembagian usia. Para pemain muda biasanya diundang untuk berlatih untuk mengisi waktu. Lalu para pemain kemudian dibagi beberapa kelompok berdasar kemampuan.

Namun semua pemain, apapun kemampuannya, tetap mendapatkan pelatihan yang sama. Pelatih mengembangkan semua anak. Semua boleh ikut latihan.

"Kami punya grup sesuai kemampuan. Jadi pemain terbaik berlatih bersama, pemain medioker berlatih bersama, dan pemain yang tak bertalenta berlatih bersama. Namun mereka mendapatkan pelatihan dengan standar yang sama. Pemain bisa pindah kelompok jika kemampuannya meningkat," terang pelatih timnas Heimir Hallgrímsson dikutip The Scotsman.


3. Fasilitas latihan

Selain pelatih berkualitas, fasilitas juga menjadi faktor penting. Karena iklim yang tak memungkinkan, Islandia banyak terbantu dengan adanya rumput sintetis. Saat ini di Islandia terdapat tujuh lapangan indoor ukuran standar. Untuk negara kecil dan berpenduduk sedikit macam Islandia, jumlah tersebut terbilang banyak.

Selain dingin, minimnya sinar matahari juga menjadi masalah. Karenanya KSI fokus membangun fasilitas indoor kelas atas. Dengan adanya fasilitas indoor ini, sepak bola bisa berlangsung sepanjang tahun, tak lagi hanya tiga hingga enam bulan.

Saat ini memiliki 23 lapangan ukuran besar, tujuh lapangan indoor, dan 200 lapangan dengan rumput artifisial dengan ukuran lebih kecil. Kebanyakan lapangan kecil menjadi bagian dari sekolah. Semua lapangan di Islandia dibiayai oleh klub dan sponsor serta pemerintah lokal.

4. Aktif olahraga sejak dini

Olahraga menjadi bagian penting dari pendidikan Islandia. Riset di Islandia mengungkap adanya hubungan langsung antara olahraga dengan prestasi di sekolah.

Sekitar 90 persen anak usia 10 tahun di Islandia melakoni dua olahraga. Ini diyakini akan membangun skill motorik pada anak dan menjadi modal saat mereka ingin menjadi atlet.

Karena pentingnya olahraga, di Islandia pelatih bukan lagi menjadi tenaga sukarela, mereka mendapatkan bayaran dengan status pekerja. Banyak pelatih yang menjadikan melatih sebagai profesi kedua, termasuk Hallgrímsson, yang bekerja sebagai dokter gigi saat tak melatih timnas.

5. Rencana untuk masa depan

Sukses Islandia tak muncul seketika. Ini merupakan buah dari perencanaan panjang. Perubahan mulai dilakukan Islandia pada awal 2000. Artinya butuh 15 tahun untuk bisa melihat hasilnya. Dalam 15 tahun yang menguras banyak dana, tenaga, dan pikiran.

Dari semua itu, benang merah dari yang dilakukan Islandia adalah pentingnya pelatih berkualitas dan terintegrasinya pendidikan dan olahraga.

Leave a Comment