BolaSkor.com - Liga Malaysia menjadi salah satu destinasi pemain Indonesia. Musim ini saja ada enam pemain Indonesia yang membela klub Malaysia. Lima mengikuti liga utama, sedang satu ikut kasta kedua.

Andik Vermansah menjadi salah satu pemain Indonesia yang mampu bertahan di Malaysia. Empat musim pemain asal Jember itu bersama Selangor FA. Dan musim ini jadi bagian skuad Kedah FA. Pada laga perdana bersama Kedah FA, dia mencuri perhatian lewat aksi solo run lebih dari setelah lapangan dan kemudian jadi kreator gol tunggal Kedah FA.

Selain Andik, ada Bambang Pamungkas dan Elie Aiboy yang membela Selangor FA pada tahun 2005-2007. Bambang sempat jadi pencetak gol terbanyak liga kasta kedua Malaysia. Duetnya bersama Elie benar-benar menginspirasi Selangor FA untuk kembali menduetkan pemain dari Indonesia. Musim ini Selangor FA merekrut Evan Dimas Darmono dan Ilham Udin Armayn.

Dari kursi pelatih, Rahmad Darmawan juga terbilang lama. Tiga musim ia habiskan bersama T-Team. Dia menjadi sedikit pelatih di Malaysia yang mampu bertahan lama dengan satu tim yang sama. Sementara lainnya bertumbangan saat memasuki musim pertama, bahkan ada juga yang enam pertandingan saja.

Cerita dari Malaysia selalu terdengar indah. Ada gaji besar, fasilitas mewah hingga sorotan dari publik pecinta sepak bola Negeri Jiran. Namun dibalik itu, ada juga cerita tentang kejamnya klub Malaysia dalam memutus kontrak para pelatih.

Bolaskor.com berkesempatan untuk berbincang dengan Rahmad Darmawan. Pelatih yang kini menukangi Sriwijaya FC itu pernah ke Malaysia dengan status pemain, saat membela ATM FA dan sebagai pelatih T-Team.

Apa sebenarnya perbedaan antara Indonesia dengan Malaysia ? Ini Kata Rahmad Darmawan

Soal atmosfer penonton?

Di Malaysia atmosfer penonton masih kalah dengan Indonesia. Disini lebih heboh. Kalau di Malaysia jumlah penontonnya tidak sebanyak Indonesia.

Kedisiplinan klub?

Kalau sistem, kebetulan mungkin klub-klub Malaysia sudah terbiasa ikut pada aturan, ikut pada regulasi jadi aturan jalan dengan lebih efektif.

Kualitas pemain?

Pemain Malaysia lebih mudah untuk mengenal taktikal, mengenal strategi, tidak membutuhkan waktu yang terlalu lama. Pada dasarnya mungkin terbiasa dengan kompetisi reguler yang Malaysia buat pada kompetisi usia 16, usia 19. Sehingga pada level senior itu sudah menjadi sesuatu yang biasa.

Sorotan pada kinerja pelatih?

Di tahun pertama saya (2015), dari 12 pelatih super league, hanya tiga yang tidak diganti. Sementara sembilan lainnya diganti di tengah jalan. Tahun kedua disana, ada delapan pelatih yang diganti di tengah jalan, hanya empat yang tidak. Disana keputusan sangat cepat.

Kepercayaan pada pelatih asing?

Sebenarnya, bahwa kepercayaan mereka pada pelatih asing juga bergantung pada hasil dari pertandingannya. Bahkan disana lebih kejam terhadap keputusan, memutuskan pelatih untuk terus atau bertahan sangat kejam.

Pelatih yang dulu disini, coach Jacksen F Tiago, baru naikkan ke Malaysia Super League, melakoni tiga atau enam pertandingan Super League sudah harus diganti. Evaluasi terhadap pelatih terlalu cepat.

(Kalau Pelatih Timnas Indonesia Luis Milla bilang jangka pelatih di Indonesia terlalu pendek?) Di Malaysia jangkanya lebih pendek lagi. (Laporan Kontributor Al Khairan Ramadhan/Solo)