Wawancara Wakil CEO Persis Solo: Blak-blakan soal Rahasia Kegagalan Masuk Liga 1

Wawancara Wakil CEO Persis Solo: Blak-blakan soal Rahasia Kegagalan Masuk Liga 1 Wakil CEO Persis Solo, Dedi M Lawe (tengah) saat berbicara dihadapan stakeholder di kota Solo. (BolaSkor.com/Nofik Lukman)

BolaSkor.com - Gelontoran dana hampir Rp 10 Miliar ternyata tak mampu memuluskan langkah Persis Solo ke Liga 1 2018. Laskar Sambernyawa secara mengejutkan menderita kekalahan kedua pada babak 8 besar Liga 2.

Dalam pertandingan di Stadion Patriot Candrabhaga, Kota Bekasi, Jawa Barat, Senin (13/11/17) malam, Laskar Sambernyawa dikalahkan Kalteng Putra FC 0-1. Empat hari sebelumnya, tim besutan Freddy Muli juga dikalahkan Martapura FC 0-1.

Dua kekalahan membuat Persis Solo menjadi tim pertama yang tersingkir dari babak 8 besar. Para pemain, pelatih maupun 3000 suporter yang datang ke Bekasi tak bisa menyembunyikan kekecewaannya. Mayoritas dari mereka bahkan tak kuasa menahan air mata, lantaran kekalahan ini jauh diluar dugaan.

Lolos sebagai juara grup saat babak 16 besar, Persis sejatinya banyak diunggulkan ketimbang Martapura FC atau Kalteng Putra. Namun tak banyak yang tahu jika Laskar Sambernyawa menemui banyak halangan selama masa persiapan.

Wakil Chief Executive Officer (CEO) Persis Solo, Dedi M Lawe mengatakan, sebagai sebuah klub tertua di Indonesia, Persis belum mendapat dukungan penuh dari semua stakeholder di kota Solo. Bahkan tak sedikit stakeholder yang disebutnya lebih senang M Wahyu dan kawan-kawan gagal melaju ke Liga 1.

Berikut wawancara Bolaskor.com dengan Dedi M Lawe :

Bagaimana pandangan manajemen tentang kegagalan lolos ke Liga 1?

Terus terang hasil ini jauh di luar dugaan. Tidak pernah membayangkan akan tersingkir lebih awal. Kami datang ke Jakarta (Bekasi) dengan penuh keyakinan untuk lolos ke Liga 1. Tentu kami sangat kecewa, tapi inilah kenyataannya.

Menurut Anda, apa yang membuat Persis Solo gagal?

Kita tidak bisa begitu saja menyalahkan pemain, pelatih atau manajemen. Tapi saya sendiri merasa Persis Solo sebagai sebuah klub kebanggaan belum mendapat dukungan penuh dari semua stakeholder atau pun pemerintah kota Solo.

Ada sebagian orang atau kelompok yang masih berpikir bahwa klub ini hanya milik PT Persis Solo Saestu. Padahal perusahaan atau manajemen ini memang harus ada sebagai penggerak klub. Soal pemiliknya, ya tentu Persis Solo ini milik semua stakeholder di kota Solo.

Contohnya saja fasilitas lapangan untuk latihan. Selama ini kami sangat kesulitan untuk mencari lapangan. Kami harus cari lapangan yang bahkan letaknya tidak di Solo. Ada yang di Karanganyar, juga di Sukoharjo. Tentu ini cukup menyulitkan. Ada juga faktor-faktor lainnya lagi.

Berapa jumlah anggaran yang sudah dikeluarkan musim ini?

Soal detail anggaran baru akan dihitung dalam rapat evaluasi setelah Liga 2 selesai. Tapi kalau gambarannya hampir mendekati angka Rp 10 Miliar. Anggaran terbesar tentu untuk gaji pemain, pelatih. Untuk bayar denda ke Komdis PSSI juga cukup besar. Angkanya Rp 500-600 Juta.

Bagaimana persiapan menuju musim depan ? Kita tahu persaingan Liga 2 2018 akan sangat ketat.

Musim depan pasti persaingannya lebih berat. Jumlah klub hanya ada 24. Pasti semua berkeinginan lolos ke Liga 1. Soal persiapan akan dibicarakan setelah Liga 2 musim ini selesai. Pastinya ada rapat evaluasi, ada perombakan dan bertemu stakeholder di Solo, termasuk pemerintah kota.

Kami anggap bahwa musim ini jadi pelajaran bahwa untuk lolos ke Liga 1, yang dibutuhkan bukan hanya mental pemain di lapangan. Tapi semua stakeholder juga harus benar-benar sadar bahwa untuk membentuk tim kuat, dibutuhkan dukungan dari semua pihak.

Soal potensi Persis Solo sebagai klub profesional di Indonesia?

Persis Solo tim yang sangat potensial. Dalam hal ini kaitannya untuk menggalang dana bagi klub. Musim ini pemasukan dari tiket penonton cukup bagus. Stadion bisa terisi penuh.

Merchandise juga memberi pemasukan untuk klub. Tapi memang ini belum kita kelola dengan maksimal. Kedepan semua pihak harus kerja lebih keras lagi agar tim ini bisa disebut sebagai klub yang benar-benar profesional. Jadi bukan sekadar memiliki PT saja. Tapi kinerja dari setiap elemen memang harus profesional.

Bagaimana soal suporter?

Ke depan suporter harus lebih sadar bahwa setiap perbuatan, yang menanggung adalah klub. Musim ini kita harus keluarkan banyak uang untuk membayar denda dari Komdis PSSI yang dijatuhkan ke suporter. Selanjutnya tidak boleh seperti ini lagi. (Laporan Kontributor Nofik Lukman/Solo)

Leave a Comment