BolaSkor.com - Manchester United telah mengonfirmasi pelatih berusia 63 tahun, Ralf Rangnick sebagai manajer interim hingga akhir musim 2021-2022 menggantikan Ole Gunnar Solskjaer. Selepas kontraknya berakhir Rangnick akan menjadi konsultan bagi United selama dua tahun ke depan.

"Manchester United dengan senang hati mengumumkan penunjukan Ralf Rangnick sebagai manajer sementara hingga akhir musim, sang pelatih sedang mengerjakan visa yang dibutuhkan (untuk bekerja di Inggris)," demikian pernyataan di laman resmi United.

"Setelah periode ini, Ralf dan klub telah sepakat bahwa ia akan melanjutkan peran konsultan selama dua tahun ke depan."

Rangnick bukan salah satu dari pelatih top di Eropa jika itu kaitannya dengan raihan trofi, tapi di Jerman ia mendapatkan respek tinggi karena inovasinya dengan gaya main sepak bola yang kini dikenal dengan istilah gegenpressing.

Baca Juga:

4 Pemain Man United yang Posisinya Terancam karena Kedatangan Rangnick

Nostalgia - Ketika Jurgen Klopp Diajari Gegenpressing oleh Ralf Rangnick

Man United Tampil Beda, Carrick Bantah Campur Tangan Rangnick

Sebelum melatih United Rangnick melatih Stuttgart, Hannover, Schalke, Hoffenheim, dan RB Leipzig. Selain menjadi pelatih Rangnick juga dapat berperan sebagai Direktur Teknik atau Olahraga dengan talentanya mengembangkan pemain-pemain muda.

Ada juga hal-hal menarik lainnya yang mungkin belum banyak diketahui mengenai Ralf Rangnick. Berikut 10 hal yang mungkin tak diketahui mengenai Rangnick dilansir dari laman resmi United:

1. Lahir di Tahun Kelam dalam Sejarah Man United

Rangnick lahir pada 29 Juni 1958, sebulan setelah United kalah di final Piala FA kontra Bolton Wanderers dengan skor 0-2 di Wembley (dari gol Nat Lofthouse). Meski kalah perjalanan United ke final tidak mudah dan butuh perjuangan.

Di tahun yang sama juga terjadi momen kelam dalam sejarah klub, ketika kecelakaan pesawat atau Tragedi Munchen terjadi saat pesawat yang mengangkut skuad dan staf pelatih Man United gagal lepas landas dengan baik.

2. Tak Asing dengan Inggris

Kala masih menjadi pelajar Rangnick sempat tinggal lama di Inggris dan belajar di Universitas Sussex, bahkan sempat jadi pemain di Southwick. Rangnick punya gelar sarjana Inggris dan dari sana kecintaannya akan sepak bola datang.

Rangnick pernah mengunjungi Goldstone Ground (Brighton), Highbury (Arsenal), dan Upton Park (West Ham United). "Kenangan itu masih membuat saya merinding. Ini tentang sepak bola, gairah, emosi, dan cinta olahraga."

3. Kenang Laga Brighton vs Liverpool pada 1979

Sebagai fans Brighton, Rangnick mengingat laga yang disaksikannya pada 1979 antara Brighton vs Liverpool. Pemuda-pemuda Brighton yang tampil kala itu bermain melawan Man United di final Piala FA 1983. Rangnick fans Brighton dan ia mengingat betul laga-laga tim berjuluk The Seagulls.

4. Pernah Main di Klub Inggris

Pada musim 1979-1980 Rangnick muda pernah bermain di level non-liga, Southwick. Rangnick bermain 11 laga di Divisi Satu Sussex County dan tim berakhir sebagai runner-up. Tapi karier Rangnick di sana tak panjang karena cedera dan ia butuh operasi. Posisi bermainnya adalah gelandang atau full-back.

5. Idolakan Garry Birtles

Kala masih bermain Rangnick punya satu idola: legenda Nottingham Forest, Garry Birtles. Birtles tampil apik di bawah arahan Brian Clough di Nottingham yang memenangi dua titel Liga Champions pada 1979 dan 1980. Birtles setelahnya sempat gabung United, mencetak 11 gol, dan kembali ke Forest pada 1982.

6. Pencetus Gegenpress

Terinspirasi dari nama-nama pelatih legendaris seperti Valeriy Lobanovskyi dan Arrigo Sacchi, Rangnick mengembangkan istilah permainan gegenpress yang mendapatkan respek dari kolega mudanya seperti Jurgen Klopp, Thomas Tuchel, dan Julian Nagelsmann.

7. Metode Jam Hitung Mundur

Metode menarik yang pernah digunakan Rangnick di sesi latihan bernama hitung mundur dengan menggunakan jam. Itu dibuat unguk mengembangkan kecepatan pemain-pemainnya dalam berpikir.

"Kami memiliki jam hitung mundur yang dibuat khusus untuk kami. Asisten pelatih mengaktifkannya dan mulai berdetak. Kami menggunakannya untuk permainan yang disebut aturan delapan detik," tutur Rangnick kala masih melatih Hoffenheim.

"Para pemain dapat mendengar detak itu dan mereka tahu mereka harus mendapatkan bola kembali dalam waktu delapan detik atau, jika mereka menguasai bola, mereka perlu melepaskan tembakan dalam waktu 10 detik."

"Ini bisa menjengkelkan bagi mereka pada awalnya, tetapi apa yang kami perhatikan adalah jenis pelatihan ini dapat memengaruhi pemain. Dalam beberapa minggu, mereka menyesuaikan gaya permainan mereka dan itu menjadi naluri."

Menarik dinanti apakah Rangnick akan menerapkan hal yang sama di Man United.

8. Pernah Bertemu Man United

Semifinal Liga Champions 2011, Schalke arahan Rangnick bertemu Man United besutan Sir Alex Ferguson. Man United terlalu kuat bagi Schalke dan lolos dengan agregat gol 6-1 hasil dari kemenangan 2-0 dan 4-1.

Perjalanan Schalke kala itu layak diapresiasi. Mereka keluar sebagai pemuncak klasemen di grup yang berisikan Benfica, Lyon, dan Hapoel Tel Aviv. Lalu menyingkirkan Valencia dan Inter Milan (menang agregat gol 7-3) di fase gugur.

9. Nyaris Latih Timnas Inggris

Pada 2016 Rangnick nyaris melatih timnas Inggris dan Direktur Teknik FA, Dan Ashworth menghubunginya. "Selepas Piala Eropa, dia (Ashworth) memanggil saya lagi dan bertanya apakah saya datang untuk wawancara untuk timnas Inggris," terang Rangnick di FourFourTwo.

Rangnick sempat tertarik melatih Inggris, tapi pada akhirnya direksi lebih menginginkan pelatih dari Inggris untuk melatih Inggris dan pada akhirnya Sam Allardyce melatih Three Lions.

10. Ide untuk Sepak Bola

Lima pergantian pemain ada karena pandemi virus corona, tapi Rangnick ingin aturan itu terus berlanjut. Apa alasannya?

"Itu (lima pergantian pemain) membuat permainan lebih cepat, mengurangi cedera dan membuat skuad dalam semangat yang lebih baik," ucap Rangnick.

Selain itu, Rangnick juga punya ide agar ada perubahan ukuran gawang agar gol lebih banyak tercipta dan jadi hiburan untuk fans.

"Saya yakin kita harus mendiskusikan masalah yang saya angkat 15 tahun lalu. Apakah dimensi gawang masih masuk akal? Ketika gawang ditetapkan setinggi 2,44m dan lebar 7,32m, rata-rata orang - dan itu termasuk penjaga gawang - adalah 10 cm lebih pendek," papar Rangnick.

"Jika Anda membuat gawang lebih lebar 30 cm dan lebih tinggi 20 cm, Anda pasti akan melihat beberapa gol lagi."