BolaSkor.com - Manchester City mendapatkan kabar positif dari Badan Arbitrase Olahraga Dunia alias CAS. Banding mereka mengenai sanksi dari UEFA, Federasi Sepak Bola Eropa terkait aturan FFP (Financial Fair Play) diterima CAS.

Alhasil Man City masih dapat bermain di kompetisi Eropa selama dua tahun dan denda mereka dikurangi dari 30 juta euro menjadi 10 juta euro. Berikut pernyataan dari CAS yang memenangi gugatan City atas sanksi UEFA.

"CAS menekankan bahwa sebagian besar dugaan pelanggaran yang dilaporkan oleh Adjudicatory Chamber dari UEFA Club Financial Control Body (CFCB) tidak dibuat atau dibatasi waktu," demikian pernyataan dari CAS.

"Karena tuduhan sehubungan dengan penyembunyian pendanaan ekuitas yang tidak jujur jelas merupakan pelanggaran yang lebih signifikan daripada menghalangi penyelidikan CFCB, tidak tepat untuk memberlakukan larangan untuk berpartisipasi dalam kompetisi klub Eropa karena kegagalan Man City untuk bekerja sama dengan investigasi CFCB saja."

Baca Juga:

Bebas dari Hukuman UEFA, Manchester City Urung Absen di Dua Kompetisi Eropa

Pencabutan Regulasi FFP dan Perubahan Besar Harga Pemain karena Virus Corona

Eks Manajer Legendaris Arsenal Bahas FFP dan Pembatasan Gaji Pemain di Eropa

Manchester City

"Namun, mengingat i) sumber keuangan Man City; ii) pentingnya kerja sama klub dalam investigasi yang dilakukan oleh CFCB, karena sarana investigasinya yang terbatas; dan iii) pengabaian Man City terhadap prinsip tersebut dan penghalang investigasinya, panel CAS menemukan bahwa denda yang signifikan harus dikenakan pada Man City dan menganggapnya tepat untuk mengurangi denda awal UEFA sebesar dua pertiga, yaitu sebesar 10 juta euro."

Keberhasilan City memenangi banding atas sanksi yang diberikan UEFA menambah catatan klub-klub di Eropa di kategori yang sama. Selain Man City ada juga tiga klub lainnya yang terbebas dari sanksi UEFA atau hukuman diringankan setelah melakukan banding ke CAS. Berikut ketiga klub tersebut

1. Fenerbahce

Fenerbahce

Klub tenar asal Turki ini pernah mendapatkan sanksi dari UEFA pada 2019 karena melanggar FFP dan berpotensi absen dari kompetisi Eropa. CAS pun menjadi solusi terakhir bagi Fenerbahce untuk melawan hukum tersebut.

CAS membantu Fenerbahce dengan meringankan hukuman tersebut. Fenerbahce masih bisa tampil di kompetisi Eropa, akan tapi penghasilan tahunan dari kompetisi Eropa itu akan ditahan hingga maksimal dua juta euro.

Selain itu klub juga dilarang mendaftarkan pemain baru untuk menyeimbangkan kembali neraca keuangan klub. Pembatasan pendapatan per tahun itu akan dibatasi hingga satu juta euro jika Fenerbahce bisa menata ulang kembali hutang mereka, serta menyehatkan kondisi keuangan.

2. AC Milan

AC Milan

Kala era Silvio Berlusconi berakhir dan Milan dijual pada konsorsium China sebesar 740 juta euro pada April 2017, klub langsung jor-joran belanja pemain hingga 10 pemain untuk merekrut nama-nama seperti Andre Silva dan Leonardo Bonucci.

Hasilnya pada 2018 UEFA menjatuhi hukuman karena Milan melanggar aturan FFP, apalagi mereka gagal lolos ke Liga Champions dan pendapatan berkurang. Akan tapi CAS membantu Milan mengurangi hukuman tersebut.

Hukuman tampil setahun Milan di kompetisi Eropa ditangguhkan dan mereka yang kala itu diasuh Gennaro Gattuso diperbolehkan tampil di Liga Europa.

3. PSG

Neymar dan Kylian Mbappe

Tim yang tidak jauh berbeda dari Man City: sama-sama dimiliki konsorsium Timur Tengah dan tim bertabur bintang hasil dari jor-joran beli pemain. UEFA memberikan sanksi kepada PSG atas pelanggaran FFP setelah melihat banderol gaji pemain dan harga transfer pemain.

Kasus itu disinyalir berkaitan dengan mega transfer Neymar sebesar 222 juta euro dari Barcelona pada 2017, serta Kylian Mbappe sebesar 180 juta euro total dari AS Monaco.

Hasilnya pun sama dengan City dan membuat publik terkejut: PSG lolos dari sanksi UEFA setelah melakukan banding kepada CAS. PSG terhindar dari potensi hukuman tampil di kompetisi Eropa pada 2019 lalu meski masih terus dipantau oleh UEFA.