BolaSkor.com - Serie A 2019-20 memasuki giornata ke-14. Di antara empat tim papan atas klasemen Serie A saat ini, ada dua tim kejutan yang bertarung di dalamnya: Lazio dan Cagliari. Klub yang disebut terakhir tak pernah diduga sebelumnya.

Selain pertarungan Scudetto yang direbutkan Juventus, juara bertahan delapan kali beruntun, dan Inter Milan, keberadaan Lazio di papan atas juga tidak terlalu mengejutkan karena mereka telah memperlihatkan perkembangan beberapa tahun terakhir di bawah arahan Simone Inzaghi.

Hanya tinggal masalah waktu Lazio bisa terus berkembang ke level selanjutnya dan tampil hebat seperti sekarang ini. Tapi kasus yang dialami Cagliari cukup unik. Mereka ditinggal Nicolo Barella serta dua pemain berpengalaman, Darijo Srna (pensiun) dan Simone Padoin (tanpa klub).

Baca Juga:

Sudah Menyesal Lepas Radja Nainggolan, Inter Milan?

Misi Khusus Direktur Olahraga Juventus Menyaksikan Bologna Vs Parma

Radja Nainggolan Berambisi Buktikan Inter Milan Keliru Mendepaknya

Selain itu, dengan skuat seadanya, Cagliari tidak pernah masuk sebagai salah satu kandidat petarung zona Eropa, apalagi Liga Champions. Namun, fenomena yang dilakukan Atalanta musim lalu dan lolos Kualifikasi Liga Champions disinyalir menginspirasi Cagliari dan tim kecil lainnya.

Cagliari jadi tim 'hipster' yang dapat didukung musim ini di Serie A, sebagai tim kuda hitam petarung zona Liga Champions. Cagliari saat ini meraih 28 poin dari 14 laga, di bawah Inter (37 poin), Juventus (36 poin), dan Lazio (30 poin).

Merangkum dari berbagai sumber, BolaSkor.com coba menjabarkan beberapa kunci kehebatan Cagliari hingga mereka bisa bersaing di papan atas klasemen Serie A 2019-20. Berikut penjabaran lengkapnya:

1. Transfer Cerdas

Radja Nainggolan Serie A
Radja Nainggolan

Fabrizio Cacciatore, Christian Oliva, Nahitan Nandez, Federico Mattiello, Marko Rog, Radja Nainggolan, dan Luca Pellegrini, merupakan rekrutan anyar Cagliari musim ini. Beberapa pemain direkrut permanen, pemain seperti Rog, Mattiello, Nainggolan, dan Pellegrini dipinjam.

Bagi Cagliari rekrutan itu sudah cukup bagus untuk mengejar target sintas di Serie A atau bersaing di papan tengah. Di luar dugaan, para pemain tampil lebih baik dari yang diprediksi.

Kepergian Barella ditutupi dengan baik oleh Nainggolan, Nandez, dan Rog. Di belakang, kehadiran Pellegrini dan Mattiello menambah kekuatan di area tersebut. Para rekrutan anyar itu memberikan keseimbangan dalam skuat berjuluk I Rossoblu.

2. Kejelian Rolando Maran

Rolando Maran Klasemen Serie A 2019-20
Rolando Maran

Pelatih berusia 56 tahun memasuki musim keduanya melatih Cagliari. Rolando Maran sukses menjaga eksistensi tim dari Sardinia di Serie A musim lalu, kini ia membawa pengalamannya melatih klub-klub seperti Brescia, Catania, dan Chievo Verona, ke Cagliari.

Sadar lini tengah Cagliari punya stok pemain menumpuk, Maran menerapkan taktik 4-3-1-2 dengan memadatkan pemain di lini kedua - empat gelandang, tiga gelandang tengah dan satu gelandang serang.

Luca Cigarini, Nandez, Nainggolan, dan Rog menjadi mesin penggerak Cagliari di lini tengah. Nainggolan, 31 tahun, bahkan menjadi trequartista dengan peran pendukung dua penyerang Cagliari.

Pada posisi itu, pemain berdarah Batak-Indonesia dapat memaksimalkan kualitasnya dalam melepaskan tendangan jarak jauh. Radja Nainggolan telah bermain 11 kali di Serie A dengan catatan empat gol dan empat assists.

Di lini depan, Giovanni Simeone, Alberto Cerri, Leonardo Pavoletti, dan Joao Pedro, senantiasa menjadi momok bagi pertahanan tim-tim lawan. Joao Pedro, 27 tahun, bahkan telah mencetak sembilan gol dan bersaing dengan Ciro Immobile (17 gol) dan Romelu Lukaku (10 gol) dalam persaingan top skor Serie A.

Kejelian Rolando Maran memanfaatkan kualitas dalam skuatnya itu memberikan keseimbangan dalam taktik 4-3-1-2.

3. Bermain Tanpa Beban

Joao Pedro Serie A
Joao Pedro

"Tidak biasa untuk Cagliari memiliki 28 poin setelah 14 pekan. Bermimpi tidak merugikan, tapi momen-momen negatif akan datang dan tim mana pun yang mencoba sesuatu baru biasanya mengalami sedikit momen mundur, tapi selagi kami bisa, kami akan terus bermimpi."

Radja Nainggolan menuturkan hal tersebut kepada Sky Sport Italia usai menang dramatis 4-3 melawan Sampdoria beberapa waktu lalu. Cagliari memang harus terus bermimpi. Apalagi, mereka tak punya beban selayaknya tim besar Italia lainnya.

Misi Cagliari, selagi belum mengumpulkan 40 poin, adalah lolos dari zona degradasi. Tidak ada beban bagi mereka untuk menjuarai sesuatu seperti halnya Inter Milan atau Juventus. Tak ayal hal tersebut menjadi nilai lebih Cagliari untuk terus bersaing di papan atas klasemen.

Finish di zona Liga Champions sudah menjadi pencapaian spesial bagi Cagliari, yang terakhir kali menjuarai Serie A pada 1969-70 bersama bintang legendaris mereka, Luigi Riva.