BolaSkor.com - Kabar-kabar mengenai pemecatan Ole Gunnar Solskjaer sudah santer beredar semenjak Manchester United kalah 0-5 dari Liverpool, sebelum jeda internasional di bulan November.

Solskjaer masih aman posisinya bahkan di kala Man United kalah 0-2 dari Manchester City. Akan tapi setelah jeda internasional situasinya tak membaik setelah jeda internasional dan laga melawan Watford.

Kekalahan atau hasil imbang bukan hasil yang diharapkan, tapi itu jadi kenyataan di markas Watford. United takluk dengan skor telak 1-4 dan setelah direksi mengadakan pertemuan, keputusannya adalah Solskjaer dipecat.

Baca Juga:

Ogah Tunggu Musim Depan, Pochettino Ingin Gabung Manchester United Secepatnya

Solskjaer Kenang Momen Pahit Gagal Juara Liga Europa

Sederet Statistik Solskjaer di Man United, Termasuk Perbandingan dengan Pendahulu

Pemecatan itu menjadi klimaks dari buruknya performa United. Kendati demikian dalam tiga tahun melatih United, Solskjaer sedianya tidak memecah suasana di kamar ganti pemain dan terjaga kondusif.

Meski begitu hasil adalah segalanya. Kekalahan demi kekalahan, termasuk melawan tim non-unggulan, tidak bisa ditolerir untuk klub sekaliber United. Lantas, apa masalah utama Man United yang berujung pemecatan Solskjaer?

1. Mencadangkan Donny van de Beek

Donny van de Beek

Selama lima tahun membela Ajax Amsterdam pasca promosi dari akademi, Donny van de Beek mempopulerkan dirinya sebagai salah satu gelandang bertalenta. Kemampuannya tak diragukan dalam mengoper bola serta membantu serangan.

Akan tapi sejak gabung Man United pada 2020 Van de Beek (24 tahun) jarang main. Itu menimbulkan pertanyaan dari banyak pihak, apalagi Solskjaer cenderung lebih sering memainkan Fred untuk berduet dengan Scott McTominay.

Apabila di musim pertamanya Van de Beek jarang main dengan dalih proses adaptasi, maka di musim kedua dan berikutnya gelandang asal Belanda itu seyogyanya lebih banyak bermain. Tidak sekedar jadi bagian rotasi atau pemain yang bermain di Piala Liga dan Piala FA.

2. Sistem Bermain

Kekalahan 0-5 dari Liverpool dan 0-2 dari Man City sudah memperlihatkan bobroknya Man United di era Solskjaer. Dengan skuad yang dimiliki saat ini, United sedianya dapat bermain lebih baik lagi secara kolektif.

Alih-alih bermain kolektif permainan Man United cenderung mengandalkan kualitas individu hingga hal tersebut mudah diekspos lawan. Padahal jika disatukan di satu sistem yang jelas, skuad United mumpuni.

United punya pemain seperti Cristiano Ronaldo, Bruno Fernandes, Paul Pogba, Van de Beek, Jadon Sancho, Raphael Varane, dan jika semua 'diracik' dengan baik maka United bisa bersaing di papan atas klasemen. Kekalahan dari City dan Liverpool memperlihatkan kelas berbeda dari United.

3. Pertahanan Terbuka

130 juta poundsterling sudah dihabiskan United kala memboyong Aaron Wan-Bissaka dan Harry Maguire. Keduanya pembelian mahal tetapi kontribusinya dalam bertahan tak terlihat signifikan.

Meski rapuhnya pertahanan United bukan hanya salah keduanya melainkan karena kolektivitas tim yang tidak ada, tidak ada kesatuan, dengan banderol tersebut United seharusnya bisa lebih efisien mencari bek-bek.

Belum lagi dengan kedatangan Raphael Varane dari Real Madrid. Kebobolan 21 gol dari 12 laga Premier League jelas tak mencerminkan harapan fans kepada Man United.