BolaSkor.com - Berbeda pendapat atau pandangan merupakan hal yang lumrah terjadi dalam kehidupan sehari-hari di dunia. Pun demikian dalam dunia sepak bola yang melibatkan pemain dengan pelatih, pelatih dengan pemain, hingga pelatih timnas hingga federasi sepak bola.

Situasi itu tengah menjadi perbincangan hangat belakangan ini di Indonesia di antara PSSI (Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia) dengan pelatih Timnas Indonesia, Shin Tae-yong. Selisih paham PSSI dan Shin menjadi telenovela klasik bagi suporter Tanah Air.

Semua dimulai dengan komentar Shin kepada media Korea Selatan yang menuturkan ketidaknyamanan bekerja sama dengan PSSI, termasuk keinginannya menggelar pemusatan latihan di Korsel karena kurva virus corona di Indonesia yang belum menurun. PSSI selaku federasi yang memberikan Shin kontrak bersikap tegas dan membentuk Satgas Timnas Indonesia.

Baca Juga:

Nostalgia - Lothar Matthaus, Kapten Timnas Jerman yang Bikin Diego Maradona Tak Berkutik

Tatkala Marcelo Bielsa Menghadapi Ultras dengan Granat di Tangannya

Curhat Indra Sjafri tentang Shin Tae-yong

Pengamat Nilai Shin Tae-yong dan PSSI Harus Perbaiki Komunikasi

Menilik selisih paham keduanya masalah kebenaran publik bisa menilainya sendiri. Tidak ada yang salah. Shin punya alasan sendiri menuturkan komentar-komentar tersebut, sementara PSSI juga memiliki hak sebagai federasi yang mengontraknya.

Selisih paham PSSI dan Shin bukan satu-satunya contoh ketika pelatih timnas berbeda pendapat dengan federasi sepak bola yang mengontraknya. Berikut BolaSkor.com menjabarkan tiga contoh lainnya:

1. Bert van Marwijk

Bert van Marwijk

Pelatih berusia 68 tahun asal Belanda memiliki CV kepelatihan panjang dari tahun 1998 sampai saat ini. Bert van Marwijk terakhir melatih timnas Uni Emirat Arab (UEA) pada 2019 setelah sebelumnya membesut Feyenoord, timnas Belanda, Hamburg, Arab Saudi, dan Australia.

Hubungan Van Marwijk dengan Federasi Sepak Bola Arab Saudi (SAFF) sudah panas sejak 2016. Pemberitaan media lokal menilai Van Marwijk tidak profesional karena jarang ada di sana dan menyaksikan laga-laga liga setempat.

Klimaksnya pada 2017 - jelang Piala Dunia 2018 - Van Marwijk meninggalkan jabatannya karena tak sepakat dengan kontrak yang diajukan SAFF. Selain itu Van Marwijk juga tidak suka dengan intervensi SAFF yang memecat beberapa staf kepelatihannya.

2. Diego Maradona

Diego Maradona

Ikon sepak bola Argentina selalu vokal mengkritik sosok-sosok yang menghuni kursi tertinggi AFA (Federasi Sepak Bola Argentina). Diego Maradona juga pernah merasakan bagaimana kepemimpinan AFA ketika dia melatih Argentina pada medio 2008-2010.

Pasca memimpin Argentina di Piala Dunia 2010 AFA kabarnya ingin mengontrak Maradona selama empat tahun. Akan tapi AFA kemudian berubah pikiran setelah sebagian besar direksi memutuskan untuk tak memperpanjang kontraknya.

Pada akhirnya Maradona pergi dan ia mengklaim Julio Grondona, Presiden AFA kala itu - sekaligus mantan pelatihnya di timnas Argentina dan pelatih Sevilla - sebagai sosok yang pembohong dan mengkhianatinya.

"Mereka (AFA) ingin saya terus berlanjut (melatih Argentina), tapi tujuh staf saya tak melanjutkannya, jika dia memberitahu saya itu maka itu artinya dia tak ingin saya untuk terus bekerja," tutur Maradona.

3. Marcelo Bielsa

Marcelo Bielsa

Pelatih esentrik dan ternama dunia ini melatih timnas Chili pada medio 2007-2011. Pada 2011 Marcelo Bielsa dihadapkan pada pilihan untuk pergi atau bertahan. Publik di Chili menginginkannya untuk bertahan karena Bielsa perlahan meningkatkan performa Chili.

Akan tapi pada 2011 Bielsa mundur karena Jorge Segovia jadi Presiden Federasi Sepak Bola Chili (FFCH). Menurut Bielsa Segovia melakukan segalanya yang bisa dilakukan agar ia mundur sebagai pelatih. Benar saja Bielsa mundur dan kini membesut Leeds United.