BolaSkor.com - Jose Mourinho dipaksa memutar otak ketika Manchester United menjamu Liverpool pada laga ke-30 Premier League 2017-2018, di Old Trafford, Sabtu (10/3).

Bukan tanpa sebab, Liverpool tengah menunjukkan performa menanjak. Mohammed Salah dan kawan-kawan belum terkalahkan sejak 30 Januari 2018.

Tak pelak, Liverpool berhasil merangsek naik di papan atas klasemen Premier League. Saat ini, anak asuh Jurgen Klopp tersebut menduduki peringkat ketiga klasemen sementara dengan mengumpulkan 60 poin.

Jika melihat peta persaingan, pertandingan ini disebut-sebut menjadi pertarungan untuk memperebutkan posisi kedua. Tak heran kemenangan menjadi sangat penting untuk Manchester United.

Untuk itu, Jose Mourinho perlu memikirkan matang-matang tentang pilihan taktik. Jika tidak nasib Mourinho bisa berada di ujung tanduk.

Taktik parkir bus

Pilihan pertama Mourinho adalah mengabaikan kritik dan menerapkan taktik parkir bus. Liverpool akan sangat berbahaya saat diberi ruang untuk melakukan serangan. Namun, bukan rahasia lagi The Reds cenderung kesulitan saat mendobrak tim yang bertahan dengan kompak seperti ketika melawan Man United di Anfield.

Mourinho mungkin mempertimbangkan fakta bahwa anak asuh Klopp sedang berada dalam kondisi terbaik setelah memenangi empat dari lima pertandingan terakhir. Pada lima pertandingan tersebut The Reds mencetak 13 gol.

Bermain bertahan akan meminimalkan kemungkinan Man United kebobolan terlebih dahulu. Terlebih, Mohamed Salah, Roberto Firmino dan Sadio Mane tengah tampil trengginas.

Namun, apabila menerapkan taktik tersebut cibiran mungkin akan dilontarkan pendukung Manchester United. Sebab, para suporter tak ingin The Red Devils menerapkan taktik parkir bus karena bermain di kandang. Suporter tentu ingin para pemain Manchester United bermain tanpa rasa takut dan mengakhiri laga dengan kepala tegap.

Tampil menyerang?

Jose Mourinho menerapkan taktik menyerang? Hal itu masih menjadi tanda tanya. Padahal, Manchester United memiliki banyak pemain bintang di dalam skuat. Selain itu, 0pertahanan Liverpool masih jauh dari kata kokoh.

Sejarah menunjukkan bahwa taktik tersebut akan menjadi pendekatan yang berisiko. Liverpool telah mencetak lebih banyak gol dibanding klub premier League lainnya melalui taktik serangan balik pada musim ini.

Contohnya, Arsenal dan Manchester City harus menanggung malu karena tampil menyerang dan melupakan pertahanan ketika bersua Sadio Mane dan kawan-kawan.

Belajar dari Tottenham Hotspurs

Pada hari Minggu, tantangan bagi Mourinho adalah menemukan keseimbangan yang tepat. Bermain terlalu bertahan akan memantik kemarahan suporter dan mengundang lebih banyak tekanan ke tim. Adapun terlalu menyerang berisiko dihukum oleh serangan balik cepat Liverpool.

Mourinho akan melakukannya dengan baik untuk mempelajari kemenangan Tottenham 4-1 atas Liverpool pada bulan Oktober. Ketika itu, racikan taktik Mauricio Pochettino mampu meredam ketajaman lini depan Liverpool yang baru saja membantai Maribor 7-0 di ajang Liga Champions.

Spurs hanya menguasai 36 persen penguasaan bola pada pertandingan tersebut namun membuat pemain Liverpool frustrasi. Pada pertandingan tersebut Pochettino memasang tiga pemain belakang Toby Alderweireld, Jan Vertonghen dan Davinson Sanchez. Tiga pemain tersebut diapit oleh Serge Aurier dan Kieran Trippier. Sementara itu, Harry Winks, Christian Eriksen dan Dele Alli menjadi trio lini tengah.

Ketika itu, Tottenham Hotspur bermain sangat efektif. The Lilywhites mampu memanfaatkan ruang dan membuat pertahanan Liverpool berulang kali melakukan kesalahan. Tottenham Hotspur menghasilkan 11 tembakan ke gawang adapun The Reds hanya empat kali.

Jose Mourinho tentu memiliki skuat yang dapat melakukan hal serupa. Meski memiliki kelemahan di sisi pertahanan, lini tengah Man United mulai padu dengan kemunculan Scott McTominay yang mendampingi Nemanja Matic.