BolaSkor.com - Premier League musim 2019-2020 telah berakhir pada akhir pekan lalu. Liverpool berhasil mengakhiri masa penantiannya selama 30 tahun untuk meraih gelar juara.

Perjalanan Premier League musim ini tak berjalan mulus seperti musim-musim sebelumnya. Jadwal kompetisi sempat ditangguhkan sejak pertengahan Maret lalu karena adanya pandemi virus corona.

Setelah sempat terombang-ambing, kompetisi akhirnya dilanjutkan mulai 17 Juni. Sejumlah protokol kesehatan yang ketat harus dijalani untuk mewujudkan hal ini.

Baca Juga:

Sembilan Klub Premier League Ternyata Sempat Minta CAS Tolak Banding Manchester City

Kepa Arrizabalaga Memble, Chelsea Hubungi Tiga Kiper

Lewat Instagram, Sang Ayah Umbar Kode Masa Depan Pierre-Emerick Aubameyang

Selain itu, seluruh pertandingan di masa pandemi digelar secara tertutup. Hal ini tentu membuat atmosfer di stadion menjadi sangat berbeda mengingat Premier League dikenal dengan tingginya antusiasme penonton.

Meski berjalan secara tak normal, kompetisi pada akhirnya bisa selesai tanpa masalah berarti. Mungkin hanya polemik VAR yang sedikit mencoreng Premier League musim ini.

Liverpool sudah mengunci gelar juara saat kompetisi tersisa tujuh laga. Sementara perebutan empat besar dan degradasi belangsung hingga pekan terakhir.

Sejumlah fakta unik mengiringi jalannya Premier League 2019-2020 yang tak normal ini. Berikut lima di antaranya yang dilansir dari BBC:


1. Arsenal lebih banyak berada di empat besar ketimbang Manchester United

Arsenal vs Manchester United

Fakta menarik mengiringi keberhasilan Manchester United finis di empat besar klasemen akhir Premier League 2019-2020. Ternyata tim asuhan Ole Gunnar Solskjaer itu hanya menghabiskan waktu selama 22 hari di posisi tersebut.

Jumlah tersebut menjadi yang paling sedikit dari penghuni empat besar lainnya. Ironisnya, Arsenal yang menyelesaikan kompetisi di posisi kedelapan justru menghabiskan waktu lebih banyak di posisi empat besar ketimbang Manchester United, yaitu 39 hari.

Jumlah hari Manchester United di posisi empat besar bahkan kalah banyak dari Chelsea dan Leicester City. Seperti diketahui, dua klub tersebut akhirnya mampu dikangkangi Setan Merah pada akhir musim.

Chelsea tercatat berada di empat besar selama 282 hari. Sementara Leicester City bahkan jauh lebih lama yaitu 325 hari meskipun harus puas finis di posisi kelima.


2. Aston Villa lebih banyak berada di zona degradasi ketimbang Bournemouth

Aston Villa

Aston Villa memenangi persaingan dengan Bournemouth untuk bertahan di Premier League. Padahal The Villans lebih banyak menghabiskan waktu di zona degradasi ketimbang saingannya tersebut.

Villa yang berstatus tim promosi sempat berada di zona degradasi selama 193 hari. Jumlah itu sedikit lebih banyak dari Bournemouth yang menghabiskan 180 hari.

Sementara Norwich City dan Watford memang layak menjadi dua klub lain yang terdegradasi. Keduanya paling lama berada di posisi tersebut dengan 311 hari dan 200 hari.


3. Brighton Ungguli Manchester United sebagai tim yang paling diuntungkan VAR

Brighton & Hove Albion

Manchester United dianggap sebagai tim yang paling sering mendapat bantuan VAR sepanjang musim ini. Namun secara statistik, ternyata ada klub lain yang lebih diuntungkan.

Gawang Manchester United tercatat tujuh kali terhindar dari kebobolan karena ditolong VAR. Jumlah tersebut sama dengan yang diterima Southampton.

Sementara Brighton mendapat keuntungan seperti itu sebanyak delapan kali. Selain itu, VAR juga satu kali membatalkan hukuman penalti kepada mereka.

Jadi klub yang pantas dilabeli menjadi anak emas VAR adalah Brighton. Sayang mereka hanya mampu finis di peringkat ke-15 pada akhir musim.


4. Manchester City Puncaki klasemen Premier League di masa pandemi

Manchester City

Liverpool memang berhasil merebut gelar juara Premier League 2019-2020. Namun jika kompetisi dihitung sejak restart pada masa pandemi, maka Manchester City pemenangnya.

Premier League musim 2019-2020 menjalani restart di masa pandemi sejak 17 Juni setelah sempat ditangguhkan pada pertengahan Maret silam. Tercatat mayoritas klub memainkan sembilan laga hingga akhir musim.

Manchester City sukses meraup 24 poin selama masa pandemi. Namun jumlah tersebut diraih dari sepuluh pertandingan.

Peringkat kedua ditempati rival sekotanya, Manchester United. Paul Pogba dan kawan-kawan mengumpulkan 21 poin dari sembilan pertandingan.

Sementara Liverpool harus puas menempati peringkat keenam dengan raihan 17 poin. Hal itu bisa dimaklumi karena usai memastikan gelar juara, tim asuhan Jurgen Klopp seperti mengendurkan kekuatannya.


5. Pandemi virus corona tak membuat karakter Premier League berubah

Pandemi virus corona nampaknya tak terlalu memberikan pengaruh terhadap klub dan pemain yang berlaga di Premier League. Padahal mereka menghadapi situasi tak biasa yaitu jeda libur panjang dan bertanding di stadion tertutup.

Jika dilihat dari statistik, tidak ada perbedaan signifikan terkait Premier League sebelum atau setelah pandemi. Kompetisi tetap bergulir dengan kualitas yang nyaris sama.

salah satu contohnya terlihat dari rata-rata gol per pertandingan. Sebelum dan setelah pandemi, rasio gol per laga Premier League tetap menyentuh angka 2,72.

Selain itu, tampil di stadion tertutup juga tak otomatis menguntungkan tim tamu. Persentase kemenangan mereka baik sebelum dan setelah pandemi sama-sama menyentuh angka 40,3 persen.

Padahal hal sebaliknya terjadi di Bundesliga. Jumlah kemenangan tim tamu di sana meningkat tajam setelah kompetisi bergulir kembali tanpa penonton.