BolaSkor.com - Arema sudah dikenal sebagai tim dengan tradisi juara yang kuat di mata publik sepak bola Indonesia. Pada setiap musim kompetisi, tim Singo Edan selalu berada dalam unggulan untuk bersaing di jalur juara.

Namun di luar prestasi itu, ada sejumlah pertandingan yang memiliki cerita khusus. Berikut ini Bolaskor menyusun 5 pertandingan paling bersejarah Arema, yang akan selalu dikenang dalam perjalanan di kompetisi.

1. Arema vs Kawasaki Frontale 1-3

Arema akhirnya kembali mencicipi atmosfer Liga Champions Asia (LCA) untuk pertama kalinya dalam 13 tahun atau sejak 1994. Sebagai juara Copa Indonesia 2006, Arema berhak mewakili Indonesia bersama Persik Kediri, yang menjuarai Liga Indonesia.

Euforia besar itu membuat Stadion Gajayana di Kota Malang pada Rabu, 7 Maret 2007, penuh sesak. Lebih dari 25 ribu Aremania membirukan Gajayana, saat menjamu Kawasaki Frontale, sebagai lawan pertama di Grup G.

Sayangnya, besarnya dukungan dan atmosfer kompetisi yang berbeda jauh, membuat anak asuh Miroslav Janu tampil gugup. Kawasaki unggul secara cepat saat pertandingan belum genap 1 menit, melalui sepakan Magnum Tavarez.

Tribun stadion lalu bergetar hebat menyambut gol penyama kedudukan. Aremania dengan gegap gempita menyambut gol Elie Aiboy pada menit 15, sekaligus mempertebal optimistis mereka meraih tiga angka perdana di pentas LCA.

Baca Juga:

5 Laga Paling Bersejarah Persib Bandung

Nostalgia - Perjalanan Arema sebagai Kampiun Pertama Copa Indonesia dan Data dalam Angka yang Tercatat

Perbedaan kualitas sepak bola membuat Arema harus menerima kenyataan pahit. Magnum Tavarez mencetak gol keduanya pada menit 73 dilanjutkan Kengo Nakamura menit 83, sehingga skor akhir menjadi 1-3.

Arema Malang (4-4-2): Hendro Kartiko (K) Alexander Pulalo, Bruno Casmir, Sunar Sulaiman/Agung Yudha 76, Arif Suyono/Rasmoyo 84 (B) Ponaryo Astaman, Akbar Rasyid, Sutaji, Elie Aiboy/Jainal Ichwan 75 (T) Basile Essa Mvondo, Patricio Morales (D)

Pelatih: Miroslav Janu

Kawasaki Frontale (4-4-2): Eiji Kawashima (K) Hiroki Ito, Yoshinobu Minowa, Shuhei Terada, Hiroyuki Taniguchi/M.Ochiai 85 (B) Carlos Juninho, Magnum Tavares/M.Ohashi 83, Kengo Nakamura, Yusuke Mori (T) Kazuhiro Marakami, Kazuki Ganaha/M.Kurotsu 66 (D)

Pelatih: Takashi Tekizuka

2. Persiwa Wamena vs Arema 2-2

Partai Persiwa Vs Arema. (Ongisnade)

Partai pertama babak 8 besar ini memang belum menentukan nasib kedua tim. Namun, keputusan wasit yang dianggap sangat kontroversial, membuat pertandingan harus dihentikan pada menit 70.

Dua gol Patricio Morales menit 11 dan 35, tidak disahkan Jajat Sudrajat yang menilai striker Arema asal Chile itu offside. Di tengah periode itu, Persiwa mencuri gol menit 30 melalui sundulan kepala Mariano Oscar.

Riak kericuhan sudah terjadi pasca dianulirnya gol kedua Pato. Asisten wasit (AW) 1, Yuli Suratno yang berada di sisi timur lapangan, dihantam seorang suporter hingga membuatnya terkapar dan digantikan oleh AW cadangan, Suhaidi Yunus.

Upaya mengejar gol tetap dilakukan maksimal oleh Arema. Lagi-lagi, gol milik Emile Mbamba menit 52 dianulir wasit asal Cianjur tersebut.

Emosi 10 ribuan Aremania yang membirukan Stadion Brawijaya Kediri pada Rabu 16 Januari 2008, akhirnya memuncak. Persiwa memperlebar skor menjadi 2-1 lewat gol Pieter Rumaropen menit 65.

Lima menit berselang, kerumunan suporter tak kuasa untuk menyerbu lapangan. Pertandingan harus ditunda, setelah situasi semakin memanas, dengan adanya aksi pembakaran papan iklan hingga perusakan fasilitas stadion.

Sisa 20 menit pertandingan akhirnya dilanjutkan di Stadion Gelora Delta Sidoarjo pada Senin, 21 Januari 2008. Arema memaksakan hasil imbang lewat gol Emile Mbamba pada menit 81, sehingga merubah skor akhir menjadi imbang 2-2.

3. PSPS Pekanbaru vs Arema 1-1

Pertandingan pekan ke-33 di Stadion Rumbai, Rabu 26 Mei 2010, memang hanya berakhir imbang. Namun, satu angka itu sudah cukup bagi Arema untuk memastikan gelar juara kompetisi ISL edisi 2009/2010 lalu.

Noh Alam Shah menjadi pahlawan Arema lewat gol menit 39, meski disamakan oleh penalti Herman Dzumafo Epandi menit 50. Tim Singo Edan mengunci puncak klasemen dengan 70 poin, sedangkan Persipura yang menjadi saingan berat, mengumpulkan 66 poin.

Sayangnya, partai penentuan juara itu sempat diwarnai aksi tak sportif dengan perselisihan antar pemain pada menit 51. Sejumlah pemain PSPS mengerumuni Alam Shah, lantaran tidak terima dengan sikutnya ke muka Dedi Gusmawan, hingga bek PSPS itu kesakitan.

Baca Juga:

Nostalgia - Drama Kontra Persipura di Buligir Day Berakhir Juara bagi Persib

5 Pemain Lokal Terbaik Persib Sepanjang Sejarah

Muhammad Ridhuan dkk tak tinggal diam dengan memagari striker andalannya itu, hingga terjadi lah aksi saling dorong hingga nyaris berujung perkelahian. Wasit Iis Isya Permana sempat menghentikan pertandingan selama 10 menit, dan melanjutkannya hingga peluit panjang.

PSPS Pekanbaru (4-4-2): Dede Sulaiman (K) Dedi Gusmawan, Agus Cima, Dedi Junaidi, Joel Bennaken Bossoken (B) Emile Tchana/Ade Candra 28, April Hadi, Putut Waringin Jati/Ade Rianto 52, Rusdianto/Ade Suhendra 72 (T) Herman Dzumafo Epandi, Muhammad Isnaini (D)

Pelatih: Abdul Rahman Gurning

Arema Indonesia (4-4-1-1): Kurnia Meiga (K) Zulkifly Syukur, Purwaka Yudi, Pierre Njanka, Waluyo (B) Ahmad Bustomi, Esteban Guillen, Muhammad Ridhuan/Rony Firmansyah 73, Dendi Santoso/Rahmat Affandi 79 (T) Chmelo Roman, Noh Alam Shah (D)

Pelatih: Robert Rene Alberts