BolaSkor.com - Kontribusi seorang kiper dalam kesuksesan sebuah tim kini semakin diakui. Mayoritas klub-klub besar bahkan selalu punya satu penjaga gawang tangguh untuk diandalkan selama satu musim.

Peran kiper dalam kesuksesan sebuah klub memang jarang disorot. Lensa kamera lebih sering diarahkan kepada penyerang atau jenderal lapangan tengah.

Hal itu bisa dimaklumi karena kemenangan sebuah klub ditentukan oleh pencetak gol. Sementara ketangguhan kiper dalam menjaga gawang hanya bisa menghindarkan timnya dari kekalahan.

Baca Juga:

5 Hal Mengenai Teun Koopmeiners, Kapten Muda AZ Alkmaar Incaran Liverpool

3 Perubahan Barcelona Sejak Kalah 1-3 dari Madrid di Clasico

5 Pemain yang Pernah Membela Porto dan Chelsea

Namun kontribusi seorang kiper tidak bisa dikesampingkan begitu saja. Perannya sudah semakin dianggap sejajar oleh klub.

Hal itu bisa dilihat dari harga kiper yang mulai melambung di bursa transfer. Peran mereka kini juga tak hanya sebatas menahan tembakan lawan, tapi juga menjadi orang yang memulai serangan.

Menariknya, sejumlah klub pernah dan masih memiliki dua kiper dengan kualitas setara. hal ini punya dampak positif dan negatif.

Adanya dua kiper tangguh membuat pelatih tak perlu khawatir jika salah satu di antaranya cedera. Performa tim bisa tetap stabil yang sangat penting untuk meraih gelar juara.

Namun persaingan dua kiper untuk merebut hati pelatih bisa menimbulkan rivalitas tersendiri di dalam tim. Hal ini bisa mengganggu harmonisasi tim itu sendiri jika tak mampu dijaga dengan baik.

Persaingan sengit antara dua kiper tangguh pernah terjadi di sejumlah klub. Berikut lima contoh di antaranya:

1. David De Gea dan Dean Henderson (Manchester United)

David De Gea dan Dean Henderson

David De Gea merupakan kiper utama Manchester United selama hampir satu dekade terakhir. Namun status tersebut kini coba diusik oleh Dean Henderson.

Henderson mulai rutin dipercaya mengawal gawang Manchester United dalam beberapa pertandingan terakhir. Hal itu tak lepas dengan absennya De Gea yang cuti untuk menemani proses persalinan pasangannya.

Manajer Manchester United, Ole Gunnar Solskjaer enggan memilih nama yang berhak menyandang status kiper utama. Ia akan menurunkan penjaga gawang yang paling siap.

2. Thibaut Courtois dan Petr Cech (Chelsea)

Petr Cech dan Thibaut Courtois

Petr Cech sudah menjadi kiper utama Chelsea sejak awal masa kepemimpinan Roman Abramovich. Ia diboyong dari Rennes usai gelaran Piala Eropa 2004.

Selama satu dekade, status cech sebagai kiper utama Chelsea tak tergantikan. Ia bahkan menjadi salah satu pahlawan saat The Blues menjuarai Liga Champions 2012.

Namun singgasana Cech terusik jelang musim 2014-2015 bergulir. Chelsea memanggil pulang Thibaut Courtois yang tampil gemilang bersama Atletico Madrid.

Cech hanya tampil 15 kali sepanjang musim itu. Jose Mourinho yang menjalani periode keduanya sebagai manajer Chelsea memilih mengandalkan Courtois sebagai kiper utama.

Demi mendapat kesempatan bermain yang lebih banyak, Cech rela menyeberang ke Arsenal pada akhir musim. Hal itu membuatnya sempat mendapat ancaman pembunuhan dari suporter Chelsea yang menilainya sebagai pengkhianat.


3. Marc-Andre ter Stegen dan Claudio Bravo (Barcelona)

Claudio Bravo dan Marc-Andre ter Stegen

Pada musim panas 2014, Barcelona memboyong dua kiper sekaligus dalam diri Marc-Andre ter Stegen dan Claudio Bravo. Keduanya diplot sebagai pengganti Victor Valdez dan Jose Pinto.

Pelatih Barcelona, Luis Enrique mencoba berlaku adil kepada dua kipernya. Bravo menjadi andalan di ajang LaLiga, sedangkan Ter Stegen mendapat kesempatan tampil kala Blaugrana berlaga di Liga Champions dan Copa del Rey.

Situasi ini bertahan selama dua tahun sebelum akhirnya Barcelona menjual Bravo ke Manchester City. Sejak saat itu, status Ter Stegen sebagai kiper utama tak tergusur sampai sekarang.


4. Iker Casillas dan Diego Lopez (Real Madrid)

Iker Casillas dan Diego Lopez

Persaingan sengit antara dua kiper juga pernah terjadi di Real Madrid. Momen itu berawal pada Januari 2013 ketika Jose Mourinho yang duduk di kursi pelatih mendatangkan Diego Lopez.

Lopez dengan cepat langsung dipercaya menjadi kiper utama Madrid. Mourinho tak ragu untuk mencadangkan Iker Casillas.

Banyak pihak menilai keputusan menjadikan Lopez sebagai kiper utama tak lepas dari hubungan buruk antara Mourinho dan Casillas. Namun yang bersangkutan menunjukkan kepantasannya untuk mengawal gawang Los Blancos.

Ironisnya, Madrid mengakhiri musim tanpa gelar juara. Mourinho pun terpaksa lengser dari kursi pelatih.

Namun kepergian Mourinho tak otomatis membuat Lopez kehilangan status kiper utama. Carlo Ancelotti yang ditunjuk sebagai pelatih baru kerap merotasi dua penjaga gawangnya.


5. Jens Lehmann dan Manuel Almunia (Arsenal)

Manuel Almunia dan Jens Lehmann

Persaingan panas antara dua kiper juga pernah terjadi di Arsenal. Dua nama yang terlibat adalah Jens Lehmann dan Manuel Almunia.

Lehmann awalnya diplot menjadi kiper utama Arsenal sejak awal musim 2003-2004. Ia didatangkan untuk mengisi posisi yang ditinggalkan David Seaman.

Sementara Almunia datang semusim berselang. Namun ia baru mulai memberi persaingan sengit kepada Lehmann dua tahun kemudian.

Manajer Arsenal, Arsene Wenger secara perlahan mulai mempercayai Almunia untuk bermain sejak menit pertama. Hal itu tak lepas dari menurunnya performa Lehmann.

Almunia akhirnya merebut status kiper utama Arsenal pada musim 2007-2008. Lehmann kemudian memilih pulang kampung ke Jerman di akhir kompetisi.