BolaSkor.com - Piala Dunia bukan hanya ajang bagi pesepak bola untuk membawa negaranya menjadi yang terbaik di jagat raya. Turnamen ini juga biasanya dijadikan momentum bagi mereka untuk memperbaiki karier.

Setiap gelaran Piala Dunia biasanya diiringi munculnya bintang-bintang baru yang mencuri perhatian. Tak jarang mereka langsung dipinang klub besar usai turnamen.

Meski begitu, sejumlah pelatih ternama enggan mendatangkan pemain yang bersinar di Piala Dunia. Selain kualitasnya belum teruji, harga mereka biasanya melonjak.

Terbukti banyak pemain yang bersinar di Piala Dunia kemudian melempem saat berkarier di klub besar. Nama mereka lalu meredup hingga akhirnya menghilang dari peredaran.

Namun bukan berarti tidak ada yang mampu melewati tren buruk tersebut. Pemain yang kariernya terus melesat usai tampil gemilang di Piala Dunia.

BolaSkor.com telah merangkum lima pemain yang kariernya melesat usai tampil gemilang di Piala Dunia. Berikut rinciannya:

1. Thierry Henry

Thierry Henry merupakan salah satu kunci kesuksesan Prancis menjuarai Piala Dunia 1998. Padahal saat itu dirinya hanya bermain untuk AS Monaco.

Henry menjadi salah satu pemain utama Prancis di Piala Dunia 1998. Beroperasi di sisi kanan, ia mampu mengoleksi tiga gol sepanjang turnamen.

Usai membawa Prancis juara, Henry memang masih bertahan di Monaco. Namun kemudian Juventus meminangnya pada bursa transfer musim dingin 1999.

Henry memang sempat menjalani masa-masa sulit di Juventus. Ia hanya mampu mencetak tiga gol dari 20 laga pada paruh kedua musim 1998-1999.

Juventus kemudian menjual Henry ke Arsenal pada musim panas 1999. Namun siapa sangka kepindahan ini membuatnya berkembang menjadi salah satu penyerang terbaik dunia.

Usai Piala Dunia 1998, Henry mampu meraih enam trofi bergengsi bersama Arsenal, dan tujuh trofi dengan Barcelona. Selain itu, ia juga sempat membawa Prancis menjuarai Piala Eropa 2000 dan Piala Konfederasi 2003 hingga menjadi finalis Piala Dunia 2006.


2. Park Ji-sung

Kesuksesan Korea Selatan menembus semifinal Piala Dunia 2002 tak lepas dari kontribusi Park Ji-sung. Perannya nyaris tak tergantikan di lini tengah meski hanya mengoleksi satu gol.

Musim dingin pasca Piala Dunia 2002, Ji-sung dipinang PSV Eindhoven. Meskipun transfer ini sempat diwarnai keraguan.

Ketika itu banyak pihak yang meragukan kemampuan Ji-sung untuk berkarier di Eropa. Alasan utama PSV meminangnya memang karena adanya sosok Guus Hiddink di kursi pelatih yang notabene mantan arsitek Korea Selatan di Piala Dunia.

Namun secara perlahan, Ji-sung mampu menunjukkan kualitasnya. Salah satu prestasi terbesarnya adalah membawa PSV melaju ke semifinal Liga Champions 2004-2005.

Setelah kesuksesan itu, karier Ji-sung kian melesat. Manchester United asuhan Sir Alex Ferguson bahkan rela menebusnya dengan harga 4 juta poundsterling.

Transfer Ji-sung sempat dianggap sebagai strategi Manchester United untuk mencuri hati suporter di Asia. Namun hal itu pada akhirnya tak terbukti.

Ji-sung secara perlahan mampu menjadi pemain kunci Manchester United. Ia bahkan mampu bertahan selama tujuh musim dan mempersembahkan 13 trofi bergengsi.


3. Toni Kroos

Toni Kroos tak tergantikan dalam perjalanan Timnas Jerman meraih trofi Piala Dunia 2014. Ia juga mampu membukukan dua gol dan empat assist.

Penampilan gemilang tersebut membuat Real Madrid meminang Kroos empat hari usai laga final Piala Dunia 2014. Ia datang dengan status bebas transfer.

Kroos kemudian menjelma menjadi salah satu gelandang terbaik dunia. Torehan empat trofi Liga Champions bersama Madrid menegaskan hal itu.


4. Keylor Navas

Tidak banyak yang tahu ketangguhan Keylor Navas hingga bergulirnya Piala Dunia 2014. Dalam turnamen tersebut, ia tampil solid dalam mengawal gawang Kosta Rika.

Navas berperan penting membawa Kosta Rika melaju hingga perempat final. Ia hanya kebobolan dua gol di waktu normal sebelum disingkirkan Belanda lewat drama adu penalti.

Penampilan gemilang tersebut membuat Madrid tergoda meminang Navas. Los Blancos bahkan tak ragu menebus klausul pelepasannya di Levante seharga 10 juta euro.

Perjudian Madrid pada akhirnya berbuah manis. Navas memainkan peran penting dalam kesuksesan raksasa Spanyol itu menjuarai tiga edisi Liga Champions secara beruntun.


5. Franck Ribery

Franck Ribery menjadi rising star Timnas Prancis di Piala Dunia 2006. Meski berusia muda, ia tak canggung bermain bersama sederet pemain senior seperti Thierry Henry, Lilian Thuram, hingga Zinedine Zidane.

Ribery menjadi tumpuan serangan Prancis di sisi kanan. Ia sukses menorehkan satu gol dan satu assist sepanjang turnamen.

Usai Piala Dunia 2006, Ribery menjadi rebutan banyak klub. Arsenal dan Real Madrid menjadi yang paling bernafsu membajaknya dari Olympique Marseille.

Namun rasa cinta suporter Marseille membuat Ribery bersedia bertahan satu tahun lagi. Ia kemudian dibajak Bayern Munchen dengan biaya 25 juta euro pada musim panas 2007.

Bersama Munchen, Ribery sukses menyentuh level tertinggi. Hampir semua gelar mampu dipersembahkannya untuk Die Roten.

Di level individu, Ribery sempat menempati peringkat ketiga Ballon d'Or 2013. Bahkan tak sedikit yang menilainya lebih pantas keluar sebagai pemenang.