BolaSkor.com - Serie A, liga yang memberikan cinta kepada penggemarnya melalui sajian aksi para aktor sepak bola di atas rumput hijau, duel penuh intrik, pertarungan sengit antarklub, dan adu jenius pelatih.

Semua keindahan Serie A itu hadir di era 90-an. Seluruh pecinta sepak bola dibius dengan keberadaan bintang-bintang kelas dunia yang ada di dalamnya.

Bukan cuma di Italia dan Eropa saja, Indonesia juga termasuk salah satu negara dengan pecinta Serie A terbanyak di dunia. Tidak heran jika di Indonesia ada basis fans Sampdoria, Lazio, hingga Parma.

Padahal, dahulu kala Parma merupakan klub idola bagi penggemarnya kala diperkuat pemain seperti: Fabio Cannavaro, Lilian Thuram, Gianluigi Buffon, Hernan Crespo, dan Juan Sebastian Veron.

Baca Juga:

Analisis – Atalanta, Sang Dewi yang Terus Berlari Kencang di Eropa

Nostalgia - Kisah Cinderella Hellas Verona di Musim 1984-1985

Klub Serie A Terancam Tak Terima Uang Hak Siar

Tapi yang berlalu biarlah berlalu. Serie A tidak akan pernah sama lagi seperti waktu itu. Namun, sekarang ini jadi waktu yang tepat untuk kembali menyaksikannya. Serie A tengah bangkit sejak kedatangan megabintang yang sudah meraih lima Ballon d’Or dan lima titel Liga Champions, Cristiano Ronaldo.

Kedatangannya bukan cuma menguntungkan Juventus di berbagai aspek, efek domino juga terjadi dengan semakin bertambah kompetitifnya Serie A. Persaingan di bawahnya tim-tim papan atas juga semakin bertambah seru. 19 tim lainnya seolah termotivasi untuk membuktikan bahwa Serie A bukan liga yang lemah.

Beberapa klub bersaing menjadi juara dengan Juventus, beberapa tim lainnya bertarung masuk zona Eropa, dan sisanya ingin terhindar dari zona degradasi.

Selayaknya Premier League dengan persaingan yang sulit diprediksi dari tim-tim semenjana yang dapat menganggu tim top, Serie A juga demikian.

Hal tersebut membuktikan Serie A kembali kompetitif. Jarang-jarang publik melihat tim semenjana bersaing di papan atas Serie A yang didominasi oleh Juventus, Inter Milan, AC Milan, Napoli, dan AS Roma.

Sejauh ini, hanya ada sedikit klub semenjana yang mampu mengejutkan Serie A. Di antaranya adalah kelima tim berikut ini:

1. Chievo Verona (2001-02)

Chievo Verona

Berstatus tim promosi Serie A 2001-02, Chievo Verona sedianya diprediksi banyak orang bakal turun lagi ke Serie B. Tapi nyatanya, Si Keledai Terbang – julukan Chievo – malah terbang tinggi di Serie A dan sempat menduduki puncak klasemen selama enam pekan di bawah asuhan Luigi Delneri.

Kekuatan Chievo berpusat di kedua sayap. Dalam formasi 4-4-2, Eriberto dan Christian Manfredini selalu jadi momok bagi pertahanan lawan dengan kemampuan mereka melakukan penetrasi dan memberikan umpan silang. Massimo Marazzina juga memperlihatkan ketajamannya di lini depan melalui total 13 gol yang dicetaknya di Serie A.

Selain itu, skuat Delneri juga memiliki pemain-pemain berpengalaman seperti Nicola Legrottaglie, Eugenio Corini, Simone Perrotta, Fabio Fimani, dan Bernardo Corradi. Mereka bertahan lama di papan atas klasemen dan pada akhir musim, Chievo finish di urutan lima klasemen yang berhadiah tiket Piala UEFA (kini bernama Liga Europa).

Saking heroik dan hebatnya perjalanan Chievo di musim 2001-02, Marco Vitale terinspirasi dan membuat buku sepak bola ekonomis berjudul “Fenomeno Chievo. Economia, costume, societa”.

2. Sampdoria (1990-91)

Sampdoria

Sepanjang berdirinya klub asal Genoa selama 72 tahun, Sampdoria hanya sekali memenangi Serie A, yakni pada musim 1990-91 – di era ketika Serie A tengah harum-harumnya. Roberto Mancini, Attilio Lombardo, Gianluca Pagliuca, Gianluca Vialli, dan Pietro Vierchowod, menjadi kunci sukses Sampdoria asuhan pelatih asal Serbia, Vujadin Boskov.

Vialli mencetak 19 gol di Serie A dan Mancini menjadi tandem sehatinya di lini depan. Sampdoria mengaplikasikan strategi serangan balik yang efektif dalam perjalanannya di musim 1990-91. Kokoh di lini belakang, Sampdoria tajam seperti pisau di lini depan.

Dalam tulisannya di Guardian, David Lacey (mantan koresponden Guardian) menggambarkan tim Sampdoria sebagai tim yang terjaga (dari sisi pertahanan) dan diam-diam (tanpa disadari, Sampdoria bisa mencetak gol dengan cepat).

Sementara kritikus seni asal Belanda, Rudi Fuchs, menggambarkan Sampdoria sebagai perwakilan sepak bola Italia secara menyeluruh. "Orang Italia menyambut dan menarik Anda, menggoda Anda dengan pendekatan halus mereka, lalu menceak gol setajam ujung pisau."

Sampdoria hanya menelan tiga kekalahan, kebobolan 24 gol – terbaik kedua setelah Milan, dan mencetak total 57 gol – terbanyak di antara 17 klub lainnya.