BolaSkor.com - Sebutan The Next Maradona, reinkarnasi Maradona, atau penerus Maradona, acap muncul tiap kali muncul talenta baru, khususnya dari Argentina.

Nama Lionel Messi tentu saja muncul setiap kali menyebut Diego Maradona. Jika ada pemain yang layak dibandingkan dengan sang legenda, Messi memang yang paling tepat. Paling tidak jika dibandingkan dengan para pendahulunya.

Ya, tidak semua pemain yang digadang-gadang The Next Maradona bisa sukses seperti Messi.

Memperingati ulang tahun ke-60 Diego Maradona, berikut 7 pemain yang dicap The Next Maradona.

Baca Juga:

Gemilang Melawan Juventus, Lionel Messi Dianggap seperti Harry Potter

Pemain Barcelona Lainnya Harus Beradaptasi dengan Lionel Messi

Menikmati Kisah Lionel Messi di El Clasico yang Hampir Berakhir

1. Diego Latorre

Dengan Maradona mengantarkan Argentina menjuarai Piala Dunia 1986, penggemar dan media sangat ingin menunjuk pewaris sang idola. Orang pertama yang dipilih adalah Diego Latorre.

Kemiripannya terlihat jelas. Dia memiliki fisik yang mirip, mengenakan nomor yang sama dan menjadi daya tarik bintang untuk Boca Juniors.

Permainannya dalam membantu Argentina meraih kesuksesan Copa America semakin menambah pujiannya. Cahaya terang Eropa memanggil dan Latorre tampaknya ada di jalur cepat menuju ketenaran.

Pada 1992, Fiorentina mendapatkan Latorre bersama dengan rekannya di Boca Juniors Gabriel Batistuta. Publik sepak bola tentu lebih akrab dengan Batistuta, sedangkan Latorre seperti tertelan bumi.

Batistuta kemudian menjadi pemain terhebat dalam sejarah Fiorentina. Latorre hanya bertahan kurang dari setahun sebelum pindah ke Tenerife.

Di sana semuanya menurun. Latorre menghabiskan 13 tahun berikutnya pindah dari klub ke klub tanpa membuat dampak yang nyata.


2. Ariel Ortega

Setelah Diego Latorre flop, penggemar dan media lebih berhati-hati dalam membebani pemain muda dengan perbandingan Maradona. Akan tetapi kemunculan Ariel Ortega terlalu sulit untuk diabaikan.

Ortega tidak hanya memiliki keahlian yang mirip dengan Maradona, tetapi dia dikutuk dengan kepribadian destruktif yang sama.

Sementara Maradona mampu menjaga "kenakalannya", Ortega tidak. Kariernya dirundung oleh alkoholisme dan emosi yang meledak-ledak.

Setelah kinclong di River Plate, pemaib berjuluk "El Burrito" (Keledai Kecil) mendapatkan bayaran besar untuk pindah ke Valencia. Namun, dia tidak bertahan lama, karena Claudio Ranieri tidak tahan dengan ulahnya.

Dia pindah ke Italia, pertama ke Sampdoria dan kemudian ke Parma, tetapi tidak berdampak besar. Parma akhirnya mengirimnya kembali ke River Plate.

Dia kembali ke Eropa dengan Fenerbahce pada 2002, tetapi meskipun awal yang cerah, dia dengan cepat memutuskan Turki bukan untuknya.

Sebagian besar penggemar sepak bola akan mengingatnya dengan penampilan bersama Argentina. Kariernya bersama tim nasional berlangsung selama 17 tahun, sebuah bukti kemampuannya, tetapi dunia akan selamanya mengingat aksinya menanduk kepala Edwin van der Sar di perempat final Piala Dunia 1998.


3. Marcelo Gallardo

Tidak lama setelah Ariel Ortega terbang ke Eropa, Akademi River Plate kembali menghasilkan playmaker yang dewasa sebelum waktunya. Pemain yang mirip dengan Maradona.

Meski pendek dan kekar, permainan Marcelo Gallardo jauh lebih teknis daripada Maradona, tapi itu tidak menghalangi perbandingan.

Dia jauh lebih nyaman mendikte tempo permainan daripada mengambil alih permainan seperti yang dilakukan Maradona.

"El Muneco" (Si Boneka) memiliki kiprah bagus di Eropa bersama AS Monaco pada awal 1990-an sebelum dia berselisih dengan manajer Didier Deschamps.

Setelah kembali sebentar ke River Plate, Gallardo kembali ke Prancis, kali ini bersama Paris Saint-Germain untuk periode singkat yang sarat masalah.

Pada 2008 Gallardo bergabung dengan DC. United di MLS, menjadi pemain dengan bayaran tertinggi ketiga di liga tersebut. Namun waktunya terkuras untuk pemulihan cedera. Sekali lagi dia kembali ke River Plate.

Dia menyelesaikan karier dengan Nacional di Uruguay pada 2011 dan dengan cepat ditunjuk sebagai pelatih. Dia memenangkan gelar liga di tahun pertamanya sebagai pelatih.


4. Juan Roman Riquelme

Meskipun ada banyak kesamaan dalam jalur karier Riquelme dan Maradona, perbandingan gaya tidak dapat dipisahkan lebih jauh.

Diego Maradona pendek dan galak, Juan Roman Riquelme tinggi dan elegan. Sementara Maradona memiliki kepribadian besar yang membuat orang tertarik, Riquelme pendiam dan penyendiri.

Seperti Maradona, Riquelme meninggalkan Boca dan bergabung ke Barcelona, hanya untuk segera pergi dan menemukan kesuksesan di Villarreal.

Di Barcelona Riquelme tidak cocok dengan Louis van Gaal. Selama tiga tahun yang tidak menyenangkan berakhir ketika dia memberi jalan untuk Ronaldinho. Awalnya dipinjamkan ke Villarreal dalam kesepakatan yang dibuat permanen dua tahun kemudian.

Di Villarreal Riquelme mulai memenuhi hype dan mengarahkan El Submarino Amarillo menanjak.

Riquelme kembali ke Boca Juniors dan membantu klubnya merebut kembali puncak sepak bola Argentina dan Amerika Selatan.

Meskipun belum mencapai ketinggian yang diprediksi, tidak ada keraguan, Riquelme memiliki karier yang sangat sukses. Dia akan dikenang oleh penggemar Villarreal dan Boca Juniors.

Di Boca sebuah patung didirikan untuk menghormatinya. Hanya ada dua pemain yang memiliki patung di Boca. Pemain lainnya? Diego Maradona.


5. Pablo Aimar

Pada 2001, pemain yang besinar bersama River Plate mencuri perhatian ketika bergabung dengan Valencia. Sekali lagi, pemain Argentina dengan postur pendek mencoba peruntungan di Eropa. Satu lagi pemain yang digadang-gadang sebagai penerus Maradona. Seperti Maradona, dia pendek, cepat, dan menunjukkan kecerdasan yang luar biasa saat menguasai bola.

Tidak seperti mereka yang datang sebelumnya, Aimar sukses besar saat tiba di Eropa. Dia memberikan percikan kreatif dalam tim Valencia yang memenangkan dua gelar LaLiga dan Piala UEFA, serta mencapai final Liga Champions 2001.

Sayang serangkaian cedera serta penyakit yang tidak menguntungkan menyebabkan sang bintang meredup.

Mampir sebentar di Real Zaragoza, Aimar kemudian bergabung dengan Benfica pada 2008. Di Benfica kariernya mendapatkan momentum baru. Chemistrynya dengan rekan senegaranya dan temannya Javier Saviola membawa Benfica meraih sukses Liga pada 2009.

Lepas dari Benfica pada 2013, Aimar secara mengejutkan bergabung dengan klub kaya Malaysia Johor Darul Ta'zim dan menutup buku sebagai pemain pada 2018.

Aimar akan dikenang sebagai pemain yang bersinar terang sebelum menghilang, kemudian bangkit sekali lagi untuk kembali menghilang.


6. Javier Saviola

Pemain berikutnya dalam daftar adalah yang paling dikenal oleh sebagian besar penggemar sepak bola. Sebagai seorang striker, Javier Saviola mendapatkan cap New Maradona.

Penggemar dan jurnalis mengira dia adalah bakat yang bisa dikembangkan Argentina untuk tahun-tahun yang akan datang.

Pada saat Barcelona menggaetnya pada 2001, "El Conejo" telah membangun catatan karier gemilang. Dia telah mencetak 45 gol dalam 86 pertandingan untuk River Plate, menjadi pencetak gol terbanyak dalam sejarah Piala Dunia Remaja dan dinobatkan sebagai Pemain Terbaik Amerika Selatan pada usia 18 tahun.

Dia menikmati awal yang cerah di Barcelona, mencetak 21 gol di tahun pertamanya. Faktanya, sulit menyebut Saviola gagal di Barcelona, klub di mana dia mencetak rata-rata 20 gol per musim.

Tapi dia dianggap surplus karena status pemain luar Uni-Eropa. Saviola kemudian dipinjamkan, pertama ke Monaco dan kemudian Sevilla, untuk memberi jalan bagi Samuel Eto'o yang masuk.

Ketika kontraknya habis, banyak yang merasa waktunya di level atas telah selesai. Karena itu, kepindahannya ke Real Madrid terbilang mengejutkan.

Melihat ke belakang, dia mungkin lebih baik pindah ke tempat lain, karena dia menghabiskan dua tahun di Madrid berjuang untuk mendapatkan posisi utama.

Ketika pindah ke Benfica pada 2009 Saviola menegaskan kembali dirinya dengan menikmati sukses selama tiga tahun di sana.

Setelah berpetualang ke Malaga, Olympiacos, Verona, dan kembali ke River Plate, Saviola akhirnya gantung sepatu di usia 34 tahun pada 2015.


7. Andres D'Alessandro

Pada 2001, media Inggris tersihir dengan pemain bernama Andres D'Alessandro yang menghabiskan beberapa pekan pelatihan dengan West Ham di bawah Harry Redknapp. Pada akhirnya sang pemain batal merumput di Inggris dan kembali ke River Plate.

"El Cabezon" pada akhirnya pindah ke Wolfsburg pada 2003 dengan rekor pembelian 9 juta euro. D'Alessandro menjelma menjadi bintang bersama Wolsburg.

Redknapp tampaknya terkesan dengan kemampuan D'Alessandro. Pada 2006, saat melatih Portsmouth, Redknapp mendatangkan sang pemain sebagai pinjaman.

D'Alessandro melakukan beberapa penampilan terbaik, termasuk mencetak gol seperti Maradona saat melawan Charlton. D'Alessandro kemudian hijrah ke Spanyol dan bergabung dengan Real Zaragoza pada 2007.

Semuanya menurun dari sana, saat dia berjuang untuk membuat dampak. Ketika Zaragoza terdegradasi pada 2008, dia mengemasi tasnya dan kembali ke Argentina dan kemudian pergi ke Internacional di Brasil.