BolaSkor.com - Newcastle United sedang menjadi sorotan menyusul rencana dari sebuah konsorsium yang didanai Pengeran Mahkota Arab Saudi untuk mengakuisisi klub. Apakah pengambilalihan tersebut akan mengembalikan kejayaan The Magpies?

Jika melihat ke belakang, akuisisi klub bisa menjadi awal dari kesuksesan. Lihat saja bagaimana Chelsea langsung dominan setelah Roman Abramovich masuk. Pun demikian dengan Manchester City yang disokong Abu Dhabi. Begitu pula dengan Paris Saint-Germain, yang serupa dengan City melejit usai diakusisi konsorsium dari Timur Tengah.

Suporter Newcastle saat ini tengah was-was menanti apakah akuisisi bakal berjalan lancar. Kebanyakan mereka berharap kepemilikian klub segera berpindah tangan. Pasalnya mereka sudah muak dengan pemilik saat ini Mike Ashley yang terkenal pelit.

Baca Juga:

Arturo Vidal Tertarik Hengkang ke Newcastle jika Massimiliano Allegri Jadi Manajer

3 Dampak Besar yang akan Terjadi jika Newcastle United Diakuisisi PCP Partners

Adu Kaya Pemilik Manchester City Kontra Calon Induk Semang Newcastle United

Akan tetapi, jika kembali melihat sejarah, tidak semua pengambilalihan klub oleh saudagar kaya raya berbuah manis dan sukses. Lihat bagaimana kacaunya Liverpool saat diambil alih oleh dua orang kaya asal Amerika Serikat, Tom Hicks dan George Gillett pada 2007 lalu.

Lihat juga bagaimana perjalanan Queens Park Rangers saat diambil alih bos AirAsia Tony Fernandes. Tidak hanya itu, tidak perlu jauh-jauh, lihat bagaimana Newcastle United setelah diambil alih oleh Mike Ashley pada 2007.

Arsenal juga bisa menjadi contoh. Sudah rahasia umum bahwa suporter The Gunners tidak menyukai Stan Kroenke pengusaha Amerika Serikat yang menjadi pemilik klub.

Di Spanyol, Malaga bisa menjadi contoh akuisisi klub yang tidak berbuah manis. Pada 2010, pengusaha Qatar bernama Muhammad Nasser bin Abdullah Al Thani mengambil alih kepemilikan Malaga. Dengan dana investasi yang tersedia, Malaga jor-joran membeli pemain macam Julio Baptista, Martin Demichelis, Joaquin Sanchez, Jeremy Toulalan, Santi Cazorla, hingga Ruud van Nistelrooy.

Malaga pun mampu melejit hingga berhasil meraih tiket ke Liga Champions pada musim 2011-12 setelah finis di peringkat keempat LaLiga.

Namun setelah itu, Malaga justru terbelit masalah keuangan. Bahkan pada musim 2013-14 mereka dilarang tampil di kompetisi Eropa karena melanggar aturan Finansial Fair Play (FFP). Setelah itu Malaga melorot drastis hingga ahirnya terdegradasi pada musim 2017-18.

Klub lain yang bisa menjadi contoh adalah AC Milan yang justru kacau balau setelah Silvio Berlusconi melepas kepemilikan kepada konsorsium asal China yang dipimpin Li Yonghong. Hingga saat ini, Milan masih mengalami kesulitan meski klub saat ini sudah diambil alih oleh Elliott Management.

Dalam beberapa kasus di atas harapan besar dari investor yang royal berubah jadi mimpi buruk karena klub justru salah urus. Pemilik baru kerap dinilai tidak memiliki keterikatan dengan klub karena hanya melihat sisi bisnis.

Jadi, pergantian pemilik, meskipun kaya raya, tidak selalu menjamin kesuksesan sebuah klub. Sejarah sudah membuktikannya.