BolaSkor.com – Pada tanggal 17 Juni 1970, fokus penduduk Meksiko terpecah menjadi dua seiring berlangsungnya dua laga semifinal Piala Dunia di waktu yang sama: Uruguay melawan Brasil-nya Pele dan Italia melawan Jerman Barat. Satu pertandingan berlangsung di Estadio Jalisco, dan satunya lagi di Estadio Azteca.

Duel sesama tim Amerika Selatan dan duel duo Eropa. Keberadaan Pele di Timnas Brasil jelas menjadi atensi tersendiri untuk penggemarnya. Namun, bagi mereka yang suka melihat adu taktik antar-tim, maka laga Italia kontra Jerman Barat menjadi opsi terbaik.

Pertemuan kedua tim tersebut dilabeli pertandingan terbaik di abad ke-20. Sama kuat 1-1 hingga 90 menit pertandingan, hujan gol tiba-tiba terjadi di waktu tambahan. Tiga gol tambahan diciptakan Italia yang dibalas dua gol oleh Jerman Barat. Laga berakhir 4-3 untuk kemenangan Italia.

Bintang pertandingan tersebut bukanlah Luigi Riva, Giacinto Facchetti, Enrico Albertosi, atau Sandro Mazzola, melainkan pemain kelahiran 18 Agustus 1943, Gianni Rivera.

Baca Juga:

Analisis: Debut Bruno Fernandes Positif, tapi Pergerakan Lini Depan Man United Masih Kaku

Revolusi Red Bull di Dunia Sepak Bola, Kontroversi, dan Investor Bervisi Pengembangan Klub

Analisis – Atalanta, Sang Dewi yang Terus Berlari Kencang di Eropa

Dua umpan panjangnya berakhir dengan gol Tarcisio Burgnich dan Riva. Rivera juga mencetak gol terakhir Italia tak lama setelah kick off.

Cara mencetak golnya tipikal gelandang box to box: berlari dari lini kedua, mencari ruang di dalam kotak penalti lawan, dan mengonversi umpan rekan setimnya menjadi gol. Gol identik dari seorang Rivera yang kala itu dalam usia yang produktif, 28 tahun.

Rivera bukan seorang penyerang, melainkan gelandang yang produktif mencetak gol. The Great Rivera dijuluki Golden Boy karena permainannya yang elegan, diberkahi talenta alamiah, dan kecerdasan bermain tingkat dewa.

Rivera dianggap sebagai salah satu pesepakbola terbaik Italia sepanjang masa.

Pergerakannya tidak cepat, tidak. Justru terbilang lamban dan menjadi kelemahan terbesar Rivera. Tapi itu tidak berarti apa-apa karena efektivitas pergerakannya pada ruang yang berada di antara lini tengah dan lini depan.

Selama bermain untuk AC milan pada tahun 1960 hingga 1979, Rivera telah membukukan 122 gol dari total 501 pertandingan.

"Anda menyaksikan video pertandingan di masa lalu dan semuanya terlihat lebih lamban dari saat ini, Rivera mungkin terlihat lebih lambat lagi dan terlalu lama menahan bola, tapi pergerakannya menginspirasi pemain di sekitar dan ia selalu bergerak maju, dengan insting gol di atas rata-rata gelandang lainnya," ucap kolumnis ESPN, Roberto Gotta, mengomentari gaya bermain Rivera.

Gianni Rivera

Efektivitas pergerakan Rivera di zona tersebut kala itu dikenal dengan istilah mezzala atau biasa disebut juga interno. "Dia selalu memiliki visi yang sempurna tentang cara bermain menyerang, dia tahu persis apa yang harus dilakukan untuk menciptakan peluang," kata eks pelatih Timnas Italia, Enzo Bearzot, mengenai Rivera.

Posisi bermain mezzala berbeda dari mediano (gelandang bertahan) atau centrocampista (gelandang tengah), namun mendekati gelandang serang.

Peran mezzala seperti halnya bunglon: samar-samar dalam sebuah pertandingan, karena posisi bermainnya ada di antara lini tengah dan depan, dan biasa beroperasi sebagai half-winger (gelandang setengah pemain sayap).

Rivera bisa dibilang salah satu contoh terbaik mezzala di masa lalu. Peran mezzala mulai terlihat di sepak bola pada era 1970-an, dan menjadi salah satu elemen penting dalam taktik zona mista - evolusi taktik catenaccio.

Zona Mista memiliki arti mixed zone atau dalam arti harafiah, tempat di mana biasanya wartawan berkumpul pasca pertandingan untuk melakukan doorstop, atau wawancara kepada pemain yang pasti melewati area tersebut.

Tapi, dari sudut pandang taktik, zona mista merupakan istilah yang terkenal pada era 1970-an hingga pertengahan 1990-an.

Zona mista dipopulerkan oleh Luigi Radice dan Giovanni Trapattoni yang dahulu melatih Torino dan Juventus.

Giovanni Trapattoni

Dalam aplikasinya, zona mista mengacu kepada sistem zonal (daerah) yang mengharuskan pemain bergerak seirama, kolektif, dan terorganisir ketika bertahan maupun menyerang.

Apabila ada satu pemain yang meninggalkan zonanya, maka pemain lain akan menggantikannya.

Itulah kenapa zona mista disebut sebagai evolusi taktik catenaccio, karena memiliki kesamaan dari segi kolektivitas bermain. Taktik yang biasa digunakan dalam sistem bermain zona mista adalah 3-5-2 dan 4-3-3, yang juga melibatkan libero, bek sayap, penyerang sayap, dan tentunya, mezzala.

Karakteristik mezzala di masa lalu tidak diwajibkan membantu tim dalam fase bertahan. Namun, mereka juga harus tetap bergerak seirama untuk menjaga keseimbangan zonal marking zona mista.

Ketika menyerang, seorang mezzala biasanya pintar mencari posisi terbaik untuk melibatkan dirinya dalam proses serangan. Biasanya, mezzala selalu bergerak di area yang sempit di antara kawalan lawan, apalagi di masa lalu saat berhadapan dengan tim yang masih memeragakan catenaccio.

Karena tuntutan bermain yang sebenarnya sederhana, tapi rumit itu, seorang mezzala biasa diperankan oleh pemain yang berbakat, memiliki kemampuan teknik, kecerdasan membaca permainan, mampu mengoper bola, dan tahu kapan momen tepat untuk melakukan penetrasi ke dalam kotak penalti.

Peran yang sudah lama ada dalam sepak bola itu, saat ini kembali populer. Semua berkat...Football Manager.

Hubungan dengan Football Manager

Football Manager 2018

Jika ada pencipta untuk hak paten istilah mezzala, rasanya dia atau mereka harus berterimakasih kepada Sega, selaku pengembang Football Manager (FM), khususnya untuk serial FM 2018. Pasalnya, di dalam fitur taktik FM 2018, istilah mezzala kembali dipopulerkan.

Bagi beberapa orang, FM mungkin hanya sekedar game yang konyol untuk dibeli karena dalam permainannya, hanya melihat titik bola bergerak tanpa grafis seindah PlayStation 4. Namun bagi penggila sepak bola, game tersebut sangatlah realistis dengan detailnya yang lengkap akan pekerjaan pelatih atau manajer klub.

Bukan cuma memilih formasi yang dimainkan, gamer juga harus mempertimbangkan hal lainnya seperti mood pemain, kemampuan pemain bermain di posisi tertentu, protes fans, dan lain sebagainya.

Bahkan, pernah ada contoh kasus ketika maniak FM bernama Vugar Huseynzade dikontrak oleh klub Azerbaijan, Baku, untuk mengisi kursi manajer yang jelas tidak ditolaknya pada tahun 2013 lalu. Ini menegaskan, bahwa sistem FM merupakan real life simulation mengenai pelatih atau manajer klub sepak bola.

Tak ayal, ketika muncul istilah mezzala di dalam game FM 2018 yang diluncurkan November lalu, banyak penggemarnya yang juga mulai mencari tahu, apa itu mezzala. Ketika mengetahui peran mezzala, barulah fans berandai-andai siapa saja pemain yang bermain di posisi tersebut.