BolaSkor.com - Laga Paris Saint-Germain (PSG) kontra RB Leipzig pada semifinal Liga Champions 2019-2020 menjadi panggung Angel Di Maria unjuk kemampuan. Ia membuktikan masih menjadi salah satu winger terbaik dunia.

Dalam laga yang berlangsung di Estadio da Luz, Rabu (19/8) dini hari WIB, PSG menang dengan skor telak 3-0 dan melaju ke final. Di Maria terlibat langsung dalam ketiga gol tersebut.

Di Maria memberikan assist kepada Marquinhos dan Juan Bernat untuk gol pertama dan ketiga PSG. Sementara untuk gol kedua, pemain berkebangsaan Argentina itu sendiri yang mengeksekusinya.

Baca Juga:

Julian Nagelsmann Akui RB Leipzig Kalah Kelas dari PSG

Mentalitas dan Rasa Lapar Jadi Kunci PSG Taklukkan RB Leipzig

7 Fakta Menarik di Balik Keberhasilan PSG Melaju ke Final Liga Champions 2019-2020

Reputasi Di Maria sebagai pemain berkategori bintang memang tak perlu diragukan. Deretan trofi bergengsi yang ia dapatkan di level klub menjadi buktinya.

Namun Di Maria juga seperti sering terlupakan. Hal itu bisa dilihat dari tidak pernah masuknya nama mantan pemain Benfica tersebut dalam daftar nominasi pemain terbaik dunia.

Padahal Di Maria punya pengalaman memperkuat klub-klub top Eropa. Ia juga menjadi satu dari sedikit pemain yang memiliki pengalaman tampil di tiga liga elite Eropa.

Sebelum memperkuat PSG, Di Maria pernah menjadi andalan Real Madrid selama empat musim pada periode 2010 hingga 2014. Ia mampu mempersembahkan hampir semua gelar bergengsi termasuk trofi LaLiga dan Liga Champions.

Meski begitu, Di Maria gagal menegaskan diri sebagai bintang utama Madrid. Sinarnya kalah terang dengan Cristiano Ronaldo.

Padahal kontribusi Di Maria dalam permainan Madrid sangatlah besar. Selain deretan gol dan assist, gelar Man of the Match pada laga final Liga Champions 2013-2014 juga menjadi salah satu buktinya.

Hal yang sama juga ia rasakan di level timnas. Di Maria kurang mendapat pengakuan bersama Timnas Argentina karena semua sorotan tertuju kepada Lionel Messi.

Kurang diakuinya kemampuan Di Maria terlihat dari sikap manajemen Madrid yang justru menjualnya ke Manchester United. Momen tersebut terjadi kurang dari tiga bulan usai mempersembahkan trofi Liga Champions.

Berkarier di Inggris sempat membuat reputasi Di Maria rusak. Ia gagal menjawab ekspektasi tinggi penggemar Setan Merah yang menjadikannya seperti dewa selamat dengan seragam bernomor punggung tujuh.

Sempat tampil memikat di awal kedatangannya, Di Maria kemudian tergeser ke bangku cadangan karena kesulitan menerapkan filosofi permainan sang manajer, Louis Van Gaal. Faktor non teknis juga membuat situasi yang dihadapi pemain kelahiran Rosario kian sulit.

Demi menyelematkan kariernya, Di Maria memutuskan hengkang ke PSG pada musim panas 2015. Bersama Les Parisiens, ia kembali membuktikan kualitasnya.

Sayangnya Di Maria juga tak mampu merebut status sebagai bintang utama PSG. Apalagi setelah Neymar dan Kylian Mbappe bergabung dua musim berselang.

Nampaknya Di Maria memang tidak ditakdirkan untuk berperan sebagai pemeran utama. Namun hal itu harusnya tidak menghapus reputasinya sebagai salah satu pemain terbaik dunia.

Bukan tidak mungkin Di Maria akan kembali menjadi pembeda pada laga final Liga Champions mendatang. Bayern Munchen atau Olympique Lyon tentu wajib memberikan perhatian khusus kepadanya.