BolaSkor.com - Krisis semakin menjadi di Liverpool pada musim ini. Bukan krisis karena perpecahan internal, melainkan krisis kepercayaan diri yang dapat terlihat dari pertandingan-pertandingan yang dilalui.

Teranyar di pekan 24 Premier League Liverpool kalah 1-3 dari Leicester City di King Power Stadium, Sabtu (13/02) malam WIB. The Reds sempat unggul 1-0 namun dalam kurun waktu delapan menit tuan rumah mencetak tiga gol dari James Maddison, Jamie Vardy, dan Harvey Barnes.

Liverpool kini ada di peringkat empat klasemen dengan raihan 40 poin, terpaut 13 poin dari Manchester City di puncak klasemen dan City masih punya satu laga tunda. Target titel liga sudah menjauh dan Liverpool kini membidik zona Liga Champions.

Buruknya performa Liverpool itu menular kepada salah satu pemain yang musim lalu banyak dipuji atas performa hebatnya, Trent Alexander-Arnold. Full-back kanan asal Inggris disebut salah satu talenta terbaik di posisinya.

Baca Juga:

Prediksi Cafu: Trent Alexander-Arnold Bisa Jadi Pemain Terbaik Dunia

Leicester 3-1 Liverpool: Delapan Menit yang Menghancurkan The Reds

Kalah Tiga Kali Beruntun, Liverpool Juara Bertahan Liga Terburuk

Trent Alexander-Arnold

Bahkan CIES selaku pusat observatori sepak bola dunia memasukkannya dalam salah satu bek termahal dunia. Alexander-Arnold baru berusia 22 tahun, punya kemampuan membaca permainan bagus, dapat memberi umpan silang, dan mengambil tendangan bebas.

Namun performanya musim ini bertolak belakang dari musim lalu. Melawan Leicester dari catatan Opta Alexander-Arnold kehilangan bola 45 kali dari 128 sentuhan bola (35,2 persen penguasaan bola hilang).

Angka itu sudah menjadi catatan terbanyak di antara liga top Eropa pada kategori jumlah waktu kehilangan bola di satu laga selama 90 menit. Alexander-Arnold juga melakukannya kontra Burnley (Liverpool kalah 0-1 di Anfield).

Kala itu Alexander-Arnold kehilangan bola 39 kali dari 119 sentuhan bola (32,8 persen). Melawan Leicester mencatatkan jumlah terbanyak di atas Angel Di Maria sebanyak 35 kali dari 100 sentuhan pada laga PSG kontra Metz.

"Ada saat-saat musim ini saya merasa seperti saya bermain cukup baik. Baru-baru ini saya mencoba untuk kembali ke ritme yang saya bicarakan sebelumnya dari sudut pandang pribadi," tutur Alexander-Arnold kepada Sky Sports.

"Itu adalah alasan yang sulit dalam hal itu hanya mencoba menemukan ritme itu dan kembali ke dalamnya dan membiarkan hal-hal terjadi secara alami. Itu cukup sulit."

"Tapi sekali lagi tidak ada alasan. Saya ingin mencoba membuat sesuatu terjadi untuk tim dan tampil sebaik mungkin untuk membantu kami memenangkan pertandingan dan itulah yang saya coba lakukan," tegas dia.

Tanpa adanya pesaing di posisi yang ditempati Alexander-Arnold maka Klopp tak memiliki opsi lain untuk terus memainkannya.