BolaSkor.com - Arema FC memang berkomitmen untuk tetap memenuhi kewajibannya terkait hak-hak anggota tim. Terutama gaji bagi semua pemain, staf pelatih dan ofisial, selama masa penundaan kompetisi.

Namun di tengah ketidakjelasan status Liga 1, tidak ada lagi pendapatan yang diraup. Subsidi alias hak komersial klub berhenti, begitu pula dengan suntikan dana segar dari pihak sponsor.

"Lantas, uangnya dari mana? Kembali lagi ke pihak owner (jajaran direksi) klub. Selama ini, mereka yang memenuhi kebutuhan biaya operasional tim," ungkap General Manager Arema FC, Ruddy Widodo.

Baca Juga:

Alasan Kiper PSIS Ingin Teruskan Lisensi Pelatih hingga A AFC

Target Persib Usai Lolos AFC Club Licensing 2020

Sebenarnya, tim Singo Edan cukup antusias dengan komitmen PT Liga Indonesia Baru yang akan memberi semacam kompensasi atas penundaan kompetisi. Yakni berupa 25 persen dari Rp800 juta dari dana hak komersial untuk setiap klub.

Sayang, skema pencairannya kembali mengendurkan semangat klub. Pasalnya, LIB baru akan mencairkan dana itu ketika kompetisi Liga 1 resmi kembali bergulir, yang diperkirakan pada awal Februari 2021 nanti.

"Kalau ada pemasukan, sebenarnya tidak masalah. Nah, kalau tidak ada pemasukan, jelas sangat berat bagi klub," urai Ruddy Widodo.

"Saya juga sempat berharap masalah (pencairan hak komersial) itu disinggung pada SK (nomor 69). Ternyata tidak," tambahnya.

Sesuai SK tersebut, Arema FC harus kembali mematok anggaran ekstra untuk membayar gaji anggota timnya. Yaitu sebesar 25 persen pada Oktober, November dan Desember 2020, dan mungkin hingga Januari 2021. (Laporan Kontributor Kristian Joan/Malang)