BolaSkor.com – “Tidak ada dinasti yang bertahan selamanya, tidak ada dinasti yang terus berlanjut tanpa pernah rusak. Suatu hari nanti, Anda dan saya akan menjadi legenda. Segala yang penting adalah apa yang kita lakukan di dalam hidup yang diberikan ini.”

Kutipan mutiara itu diucapkan oleh Krishna Udayasankar, penulis buku kelahiran India berpaspor Singapura yang terkenal dengan karyanya dalam serial novel “Aryavarta Chronicles”. Krisna tidak relevan dengan dunia sepak bola, namun, kutipannya itu relevan dengan nasib Arsenal dan Manchester United saat ini.

Dua klub bersejarah dan prestisius di Inggris, bertempur selama bertahun-tahun di masa lalu, kini sama-sama merasakan kesulitan setelah dinasti mereka runtuh. Di momen ketika Sir Alex Ferguson dan Arsene Wenger meninggalkan jabatan ‘raja’ mereka, Arsenal dan Man United tak lagi sama.

Baca Juga:

Norwich City 2-2 Arsenal: Aubameyang Selamatkan Debut Ljungberg

Arsene Wenger Dapat Pekerjaan Baru, Bukan Latih Bayern

Skuat Terkini Manchester United Seharusnya Belajar dari Legenda Treble Winners

Sir Alex Ferguson telah terlebih dahulu meninggalkan singgasana itu di tahun 2013 setelah 26 tahun menebar rasa takut kepada lawan-lawannya di Eropa, khususnya di Inggris.

Bukti itu bisa dilihat melalui raihan 13 titel Premier League, dua Liga Champions, dan lima Piala FA. Sampai saat ini Manchester United masih jadi tim dengan jumlah trofi Premier League terbanyak (20 trofi).

Sir Alex Ferguson
Sir Alex Ferguson

Selepas Ferguson pensiun dengan titel Premier League 2012-13, cerita selanjutnya menjadi sejarah keruntuhan dinasti tim legendaris Man United-nya Ferguson. Masa transisi dilalui kesulitan tingkat tinggi dan dibayar dengan hilangnya faktor X berupa rasa takut dari lawan.

Berita-berita negatif tidak lagi menjadi hal yang tabu di Manchester United sejak Ferguson pensiun. Manajer silih berganti datang dari David Moyes, Ryan Giggs (interim), Louis van Gaal, Jose Mourinho, dan kini dengan Ole Gunnar Solskjaer.

Nama yang disebut terakhir merupakan legenda klub yang memiliki DNA Man United. Tapi apakah itu jaminan klub langsung kembali ke masa kejayaannya? Tidak. Faktanya United masih kesulitan untuk menemukan permainan dengan konsistensi yang bagus.

Era Ferguson tidak akan terulangi lagi. Ferguson adalah Ferguson. Man United sekarang ini tengah mencari jati diri baru di bawah asuhan Solskjaer. Tentu saja dengan asumsi Solskjaer terus dipercaya melatih klub dan petinggi Man United bersabar dengannya.

Tanpa mengurangi rasa respek kepada Chelsea, Man United memang telah menjadi ‘Chelsea’ dari sisi manajerial dengan silih bergantinya manajer klub dalam enam tahun terakhir. Sekedar informasi, pergantian manajer Chelsea di era Roman Abramovic bukan lagi hal yang baru didengar.

Tak ayal papan tengah klasemen dan kesemenjanaan sudah akrab dilihat pada Manchester United pasca era Ferguson. Jangankan menjadi juara Premier League, bersaing masuk empat besar (zona Liga Champions) sulit mereka lakukan dengan konsisten tiap musimnya.

Man United dan fans mereka telah terlebih dahulu merasakan masa sulit dalam transisi era yang terus berlanjut sampai saat ini. Kini, Arsenal, sang rival bebuyutan United di masa lalu, mulai menapaki jejak tersebut.