BolaSkor.com – "The Liverpool gentleman and the Manchester man". Klasik. Itulah ejekan di masa lalu ketika menggambarkan kehidupan dua kota yang tadinya menjadi bagian Lancashire, Liverpool dan Manchester.

Pada era revolusi industri (medio 1760 sampai di antara 1820 dan 1840), tiap kota dan daerah di Inggris saling bersaing untuk jadi yang terbaik dari sisi ekonomi. Liverpool dan Manchester pun demikian. Liverpool, dengan kelebihan sisi geografis yang berada di pinggiran pantai Inggris, memegang kendali pelabuhan terbesar se-Britania Raya.

Segala aktivitas terjadi di sana: impor dan ekspor barang hingga menjadi tempat singgah kapal-kapal besar dari luar negeri. Manchester tidak memiliki kemewahan pelabuhan seperti Liverpool. Mereka mengimbanginya dengan fokus bidang yang bergerak di tekstil dan kapas.

Liverpool dengan kesibukannya di area pelabuhan dan Manchester dengan fashion yang mereka miliki. Persaingan keduanya untuk jadi kota yang terbaik di Inggris mencapai klimaks di tahun 1894. Pembangunan Kanal Kapal Manchester menjadi titik awal sejarah besar kedua kota.

Baca Juga:

North West Derby: Semua Berawal dari Kanal Kapal Manchester

Premier League Boikot Medsos, Duel MU Vs Liverpool Terasa Sunyi

3 Alasan Liverpool Masih Terlalu Kuat untuk Manchester United

Kanal Manchester

Manchester jengah dengan dominasi Liverpool yang punya pelabuhan terbaik di Inggris, hingga mereka ‘seenaknya’ menainkkan biaya ekspor dan impor. Kanal Kapal Manchester pun dibuat dan nyatanya ‘mematikan’ bisnis di pelabuhan Liverpool.

Kanal Kapal Manchester membuka jalan bagi jual-beli, barter, perdagangan, dan keluar-masuknya kapal asing ke Kota Manchester, tanpa harus melalui pelabuhan Liverpool.

Hanya dalam kurun waktu tiga bulan menjelang pertemuan pertama dua tim perwakilan Liverpool dan Manchester, Liverpool FC dan Newton Heath, perseteruan terjadi antara kelas pekerja pelabuhan Liverpool dengan buruh Manchester. Titik itulah yang mengawali istilah “North West Derby” yang bisa diterjemahkan menjadi Derby Barat Laut.

Persaingan Menjalar dari Sekedar Adu Kekuatan Ekonomi

Waktu berlalu, kedua kota masih bersaing dari segi ekonomi dan terus berkembang menjadi fase persaingan baru yang mencangkup: musik, arsitektur, dan tentunya ... sepak bola.

Tanyakan kepada generasi X (Y juga bisa), apakah mereka mengenal band populer dan ikonik bernama The Beatles. (Hampir) semua orang di dunia tahu The Beatles yang pastinya identik dengan Liverpool. Inggris punya pop kultur yang berevolusi ke dunia – dikenal banyak orang.

The Beatles

Lantunan lagu-lagu berjudul “Hey Jude”, “Yesterday”, “In My Life” eksis hingga di era modern. Fans sepak bola Inggris zaman sekarang pun banyak menyanyikan “Hey Jude”.

Manchester tidak mau kalah bersaing dengan kemunculan band-band lokal seperti The Stone Roses, New Order, The Smiths, hingga yang paling populer, Oasis.

Persaingan di industri berlanjut dan melebar hingga ke sepak bola. Mudah untuk mendeskripsikan pertemuan Liverpool dengan Manchester United dengan sebutan North West Derby karena sejarah keduanya.

Oasis

Apapun itu ajangnya, pertemuan kedua tim itu tidak kalah seru dari Der Klassiker (Bayern Munchen dan Borussia Dortmund) atau El Clasico (Real Madrid dan Barcelona).

Duel Dua Tim Tersukses Inggris

Merangkumnya lebih singkat, Manchester United (yang dahulu bernama Newton Heath) telah meraih total 20 Premier League dan Liverpool 19. Itu juga diratakan dengan istilah Premier League.

Tapi jika dibagi dengan format lama, First Division, lalu membandingkan dengan perolehan titel kasta satu divisi sepak bola Inggris sejak Premier League dikenalkan pada 1992, maka Man United terdepan dengan raihan 13 trofi yang semuanya diraih di era manajer legendaris, Sir Alex Ferguson.

Bagaimana dengan Liverpool? Satu trofi. Ke-18 trofi yang mereka raih datang ketika masih menggunakan format lama. Liverpool memang jauh terlebih dahulu sukses di masa lalu, sekiranya pada rentang waktu 1973 hingga 1990-an, ketimbang Man United yang baru memulai kesuksesan di tahun 1993.

Liverpool baru mengakhiri puasa gelar liga selama 30 tahun di bawah arahan Jurgen Klopp pada 2020, menambah koleksi total titel liga Liverpool menjadi 19.

Liverpool juara liga pada 2020

Status kedua tim itulah yang menjadikan persaingan keduanya selalu jadi panas dalam berbagai aspek. Mulai dari fans kedua tim, persaingan dalam sebuah pertandingan, hingga kebanggaan pemain asli kelahiran masing-masing klub.

Sederhananya, simak saja komentar dari dua legenda, Steven Gerrard dan Gary Neville. Sama-sama Inggris, namun punya kebanggaan tersendiri sebagai pria kelahiran Merseyside dan Greater Manchester.

“Saya tidak tahan dengan Liverpool, saya tak tahan dengan orang-orangnya, saya tak tahan dengan segala hal yang berkaitan dengan mereka,” ucap Neville.

Begitu juga Gerrard, legenda dan mantan kapten Liverpool, ketika ditanya alasan dia selalu menunjukkan angka lima dengan jarinya tiap kali menjebol gawang United.

"Saya hanya ingin mereka tahu bahwa Liverpool masih di atas mereka dengan menjuarai Piala Champions (format lama Liga Champions) lima kali, jadi mereka tidak usah sombong dengan trofi ke-20 Premier League yang mereka raih.”

“Saya tidak membenci mereka. Saya hanya membenci cara mereka dalam merayakan gelar ke-20, itu terlalu sombong dan menganggap kami remeh,” terang Gerrard.

Sir Alex Ferguson di North West Derby

Begitu mendarah dagingnya kebencian kedua klub, Ferguson sampai punya komitmen jelas di awal kariernya melatih United dengan sebuah ikrar janji yang begitu menohok.

“Tantangan terbesar saya adalah menyingkirkan Liverpool dari hierarki sepak bola Inggris, dan Anda bisa mengingatnya dengan baik,” ucap Ferguson.

Tahun demi tahun berlalu. Satu per satu pemain dan manajer yang pernah tercatat dalam sejarah kedua klub pergi, pensiun, dan banting setir ke profesi lainnya.

Dunia berubah, persaingan Arsenal dengan Man United tidak sepanas ketika masih ada Roy Keane dan Patrick Vieira, tetapi suasana panas North West Derby tak lekang oleh waktu.