BolaSkor.com - Josep Maria Bartomeu menolak keras tuduhan dirinya menjadi biang kerok dari krisis keuangan Barcelona. Mantan presiden Blaugrana itu kini mulai melakukan pembelaan.

Barcelona memang tengah mengalami krisis keuangan yang akut. Hal itu membuat El Barca harus kehilangan sejumlah bintangnya termasuk Lionel Messi.

Joan Laporta selaku presiden klub yang baru menuduh Bartomeu sebagai penyebab utama masalah ini. Ia membuka fakta-fakta terkait kondisi keuangan pada kepengurusan sebelumnya.

Baca Juga:

Joan Laporta Ungkap Bobroknya Keuangan Barcelona Era Bartomeu

Partner Bartomeu Klarifikasi Tuduhan dalam Skandal Barcagate

Linimasa Skandal Barcagate di Balik Penangkapan Josep Maria Bartomeu

Josep Maria Bartomeu dan Joan Laporta

Salah satunya yaitu lonjakan utang dan beban gaji Barcelona. Nilainya bahkan mencapai 103 persen dari total pendapatan.

Bartomeu juga dituduh tidak proporsional dalam menyusun neraca keuangan Barcelona. Hal ini yang membuat pengeluaran membengkak.

Namun Bartomeu kini membantah tuduhan tersebut. Ia menilai keterpurukan Barcelona murni karena efek pandemi virus corona (Covid-19).

“Kami ingin menekankan dampak yang ditimbulkan covid-19. Dimulai pada Maret 2020, ketika pendapatan tiba-tiba anjlok dalam semalam dan klub tidak menghasilkan cukup uang untuk terus membayar gaji," kata Bartomeu kepada Diario Sport.

“Yang ingin kami jelaskan kepada para anggota klub adalah bahwa situasinya tidak seserius yang dibuat karena manajemen. Namun ini adalah situasi yang disebabkan oleh covid-19.”

Krisis finansial Barcelona memang terungkap tak lama setelah masa pandemi ditetapkan pada Maret 2020. Tak lama kemudian, manajemen klub mulai menerapkan pemotongan gaji yang ketat.

Bartomeu juga menjawab kritikan terkait struktur kepengurusannya. Ia tidak terima dengan tuduhan Laporta.

“Apakah manajemen kami sudah menjadi bencana? Saya tahu itu adalah ungkapan yang sudah berjalan tetapi manajemen kami sangat serius dan bertanggung jawab, ketat dengan proyek dan rencana strategis yang ditetapkan pada tahun 2015,” tambahnya.

"Kami telah melakukan banyak proyek dan kami adalah dewan yang paling aktif. Namun pada Maret 2020, manajemen yang serius dan ketat itu terpotong oleh munculnya pandemi yang secara drastis menurunkan pendapatan sehingga sejak saat itu kami menderita luka yang dalam.”