BolaSkor.com - Supernova dalam arti yang sebernarnya merupakan peristiwa di mana riwayat sebuah bintang berakhir di galaksi. Bintang yang mengalami supernova akan melepaskan energi sebesar matahari, memancarkan cahaya yang kilaunya bisa mencapai ratusan juta kali lebih besar dari sebelumnya.

Melihat arti dari Supernova, rasanya memang pantas Indonesia Basketball League (IBL) menjadikan peristiwa galaksi tersebut sebagai tema dari partai All Star yang bakal digelar di Sritex Arena, Solo, Minggu (13/1).

Laga All Star merupakan partai yang jamak dilakukan setiap liga basket profesional. Di sini, peran penggemar sangat penting untuk bisa memasukkan pemain idolanya ke skuat All Star.

Di IBL ada dua tim Merah dan Putih yang dihuni pemain terbaik pilihan penggemar. Setelah melalui proses pengumpulan suara, akhirnya terpilih sepuluh bintang yang akan menjadi starter pada laga IBL All Star 2019. Nantinya 10 pemain tersebut akan dibagi ke dalam dua tim.

Baca Juga:

Pemain Lokal IBL Terlalu Terlena dengan Kehadiran Penggawa Asing

Daniel Wenas, 17 Poin, dan Pembuktian ke Fictor Roring

Para bintang inilah yang akan melalui proses Supernova. Memancarkan kilau cahaya yang lebih besar daripada sebelumnya.

Divisi merah terdiri dari tiga pemain Satria Muda Pertamina, Arki Dikania Wisnu, Jamarr Johnson, dan Dior Lowhorn. Dua lagi adalah Galank Gunawan (Bima Perkasa Jogja) dan Abraham Wenas (Hang Tuah).

Sementara Pelita Jaya, mendominasi tim putih dengan empat pemain yaitu Andakara Prastawa, Adhi Pratama, Wayne Bradford, dan Kore White. Satu lagi adalah Abraham Damar Grahita (Stapac Jakarta).

Rangkaian nama tersebut mungkin sudah tidak asing. Prastawa, Arki, Adhi, dan Jammar memang bintang yang selalu bersinar terang dan rasanya sudah tidak perlu lagi menjalani proses Supernova.

Sorotan lebih besar seharusnya diberikan kepada bintang yang baru bersinar seperti penggawa NSH Jakarta, Andre Rorimpandey. Cahayanya memang belum seterang Prastawa, tetapi penampilannya pada IBL 2018/2019 tak bisa dipandang sebelah mata.

Direktur IBL, Hasan Ghozali, mengatakan laga All Star diciptakan untuk para pemain. Sebuah partai untuk mengapresiasi para bintang.

"IBL All Star kami persembahkan untuk para pencinta basket di Indonesia. Terima kasih telah mendukung IBL selama ini. Selain itu, ini juga bentuk apresiasi pemain," tutur Hasan.

Lalu, apresiasi kepada siapa jika pemain seperti Andre yang berhasil membawa NSH Jakarta memuncaki klasemen Divisi Merah tak ada di dalam skuat All Star? Tentu aneh melihat tim pemuncak divisi hanya diwakili satu pemain yakni Anthony Simpson di bangku cadangan.

IBL tentu tidak bisa disalahkan, pemilihan pemain dilakukan melalui voting penggemar. Namun, IBL juga tidak memberikan penggila basket pilihan dengan menyajikan statistik para pemain.

Di halaman resmi IBL, informasi tentang statistik setiap tim dan pemain tidak tersaji lengkap. Beberapa bahkan tidak bisa diakses.

Hal ini membuat pilihan penggemar terbatas. Mereka tentu cenderung memilih pemain yang kadung terkenal, padahal tidak semuanya layak masuk ke dalam tim All Star musim ini.

Hasilnya, isi tim All Star hanya didominasi pemain dari dua tim besar, Pelita Jaya dan Satria Muda. Padahal, kedua tim tersebut performanya tengah merosot musim ini.