BolaSkor.com - Keberhasilan atlet Indonesia meraih medali pada Olimpiade Tokyo 2020 dibalas dengan bonus besar. Tak hanya dari pemerintah, apresiasi juga datang dari pihak swasta.

Dari pemerintah, bonus sebesar Rp milyar akan didapat peraih medali emas Olimpiade Tokyo 2020, Greysia Polii/Apriyani Rahayu. Selain itu, The Smilling Champions juga mendapat beberapa apresiasi lain seperti rumah, apartemen, hingga sapi.

Mantan petinju Indonessia di Olimpiade 1984 Los Angeles yang sekarang menjabat Kepala Divisi Hubungan Internasional (Kadiv Hubinter) Polri, Irjen Pol Johni Asadoma, menyampaikan apresiasi tinggi kepada para atlet yang berlomba. Dia menilai atlet berprestasi sudah selayaknya mendapat hadiah yang besar.

"Bonus itu sesuatu yang wajar diberikan kepada atlet kita yang berprestasi," kata Asadoma.

Bonus besar juga bisa menjadi alasan mengapa menjadi atlet itu menjanjikan di Indonesia. Bila penghasilan tidak besar, para orang tua kemungkinan tidak akan mendukung pilihan anak.

"Kalau tidak dihargai malas lah atlet ini, orang tua tidak mendukung di olahraga. Orang tua lebih mendukung anaknya berkarier di seni, sinetron dan lain-lain, Ini kan bahaya. Tapi dengan penghargaan luar biasa, kemudian responnya luar biasa dari masyarakat ini betul-betul akan memotivasi," kata Asadoma.

Baca Juga:

Setelah 25 Tahun, Viktor Axelsen Sudahi Puasa Denmark

Betapa Bahagianya Menpora Sambut Emas Greysia/Apriyani

“Filipina saja Rp 11 M untuk 1 medali emas. Jangan pikir besarnya. Tapi kalau tdak ada Indonesia Raya berkumandang, Merah Putuh berkibar di sana (Olimpiade) malu kita, bangsa keempat terbesar penduduknya di dunia. Sekarang sudah juara kita berikan mereka bonus sebesar-besarnya, sebanyak-banyaknya," imbuhnya.

Kendati demikian, sebagai peraih medali emas kelas layang Sea Games 1983 di Singapura, Asadoma tak memungkiri memiliki kesedihan tersendiri. Sebab, sudah 4 kali Olimpiade, Indonesia tidak bisa mengirim atlet cabang tinju. Padahal negara tetangga Filipina bisa mencapai partai final di cabang tinju.

"Saya tuh tadi juga kagum dan bangga dengan Filipina, tapi saya juga sedih bagaimana mengangkat Indonesia itu butuh pekerjaan besar yang perlu dilakukan bersama-sama mulai dari tingkat Sasana, kabupaten/kota, pengurus provinsi sampai pusat," kata Asadoma.

Peraih medali emas Piala Presiden 1984 itu beranggapan Indonesia memiliki banyak bibit unggul atlet tinju. Namun, butuh pembinaan yang baik dan dukungan finansial dari luar pemerintah agar bisa memajukan olahraga ini.

"Sebetulnya banyak (bibit unggul) terutama kelas-kelas bawah, kelas ringan, kelas bulu, kelas layang, kelas terbang di bawah 60 kg itu sebetulnya banyak bibit kita, kalau kelas di atas 60 itu kurang sekali karena postur kan," ucap Asadoma.