Rio de Janiero - Legenda Real Madrid dan Timnas Brasil, Roberto Carlos, angkat bicara mengenai tersingkirnya Spanyol dari Piala Dunia 2014. Menurutnya, Iker Casillas adalah biang keladi kegagalan La Furia Roja. Timnas Spanyol menjadi tim yang paling dijagokan tampil sebagai pemenang pada Piala Dunia 2014 di Brasil. Alasannya, performa gemilang mereka dalam beberapa tahun terakhir. La Furia Roja adalah juara Piala Dunia 2010 Afrika Selatan dan menyempurnakan kesuksesan mereka dengan merengkuh trofi Piala Eropa dua tahun berselang. Namun, nyatanya Spanyol tak mampu berbuat banyak. Xabi Alonso dan kawan-kawan takluk dengan skor mencolok 1-5 melawan Timnas Belanda pada pertandingan pertama Grup B. Lima hari berselang, Tim Matador kembali kalah 2-0 melawan Chili. Spanyol bangkit di pertandingan terakhir Grup. Menghadapi Australia di Stadion Arena da Baxiada, Curitibia, Senin (23/6) malam WIB, La Furia Roja menang tiga gol tanpa balas. Ketiga gol Spanyol di laga ini masing-masing dilesakkan David Villa, Juan Mata, dan Fernando Torres. Namun, hasil itu tak mampu mengantar mereka ke babak 16 besar. "Iker Casillas tak dalam performa terbaik. Tapi, yang lain juga tak membantunya. Ada dua pemain di lapangan yang tak boleh melakukan kesalahan, penyerang dan kiper," ungkap Carlos seperti dilansir situs resmi FIFA. "Casillas harus bertanggung jawab. Sebagai teman, saya turut menyesal baginya dan timnya. Kemmapuan Anda harus terus meningkat karena kita tak hidup di masa lalu, tapi masa kini," ia menambahkan. Banyak pihak menganggap bahwa kegagalan ini menandai berakhirnya era keemasan Spanyol. Tak hanya itu saja, semua orang kini beranggapan bahwa pakem Tiki-taka, yang dianggap sebagai gaya permainan sepak bola terbaik, kini sudah tidak ampuh lagi. "Gaya permainan Tiki-taka belum berakhir. Spanyol, seperti Brasil, memiliki gaya permainannya sendiri. Mereka mengoper, mengoper dan mengoper. Mereka mengandalkan gaya permainan lambat. Gaya tersebut sudah ada sejak tahun 1970," demikian Carlos.