BolaSkor.com - Timnas Maroko beberapa waktu lalu berada di situasi yang tak pernah terduga sebelumnya. Tim arahan Vahid Halilhodvic terjebak dalam situasi politik kudeta militer di Guinea.

Maroko sedianya diagendakan melawan Guinea pada lanjutan Kualifikasi Piala Dunia 2022 Zona Amerika, tetapi pertandingan ditunda karena situasi yang memanas di Guinea ketika kudeta yang dipimpin militer menangkap Presiden Alpha Conde.

Timnas Guinea dan Maroko kala itu berada di Ibu Kota Conakry. Setelah situasi memanas dan militer menutup akses keluar masuk negara, Maroko sempat terjebak di dalam hotel sebelum akhirnya bisa dievakuasi.

Dalam skuad Maroko ada beberapa pemain yang namanya tenar di Eropa seperti Achraf Hakimi, Adel Taarabt, Sofyan Amrabat, dan Youssef En-Nesyri. Amrabat, pemain Fiorentina, menceritakan pengalamannya berada di situasi tersebut kala tembakkan senjata terdengar di area sekitar.

Baca Juga:

Kualifikasi Piala Dunia 2022: Kudeta Militer di Guinea, Maroko Dievakuasi

Hasil Kualifikasi Piala Dunia 2022: Inggris Tertahan, Italia dan Jerman Pesta Gol

Harry Kane Minta Insiden pada Duel Polandia Vs Inggris Diinvestigasi

Sofyan Amrabat

“Anda tidak berharap untuk menjalani tugas internasional dan berakhir di tengah kudeta militer,” tutur Amrabat kepada De Telegraaf.

“Pada Minggu pagi, Adel Taarabt bertanya apakah saya mendengar suara tembakan. Saya tertawa pada awalnya dan mengatakan itu pasti kembang api, karena terkadang fans lokal melakukannya di luar hotel tim tamu untuk mengganggu istirahat mereka."

“Tetapi kemudian kami melihat di internet apa yang sebenarnya terjadi. Keluarga saya sangat khawatir dan semua orang menulis surat untuk menanyakan apakah kami baik-baik saja. Kami harus tetap profesional, tetapi menakutkan ketika Anda mendengar suara tembakan, lalu diam, lalu lebih banyak tembakan.”

Maroko pada akhirnya keluar dari Guinea setelah Raja Maroko Mohammed VI turun tangan menghubungi Pemimpin Baru Guinea. Maroko menuju pesawat terbang dengan kawalan militer.

“Kami tiba di bandara dan pesawat kami berada di sana di landasan pacu, tetapi militer telah menguncinya dan mendesak semua orang untuk kembali dan pulang," tambah Amrabat.

“Hanya dengan intervensi dari Raja Maroko, yang menghubungi para pemimpin baru Guinea, mereka mengizinkan kami naik ke pesawat dengan pengawasan militer. Sangat aneh melihat kendaraan militer di sisi bus tim," pungkas dia.