BolaSkor.com - Il Principino (Pangeran Kecil). Itulah julukan legenda Juventus, Claudio Marchisio, yang semakin populer disebut demikian setelah komentator sepak bola legendaris Italia, Claudio Zuliani, seringkali mengucapkannya.

Julukan itu merujuk kepada gaya pakaian Marchisio di awal karier yang elegan, begitu juga dengan cara bermain dan keperawakannya yang terkesan santai. Di balik ketenangannya itu, Marchisio selalu jadi serdadu yang siap berperang dan 'mati' untuk pelatih serta klubnya.

Sayang, cedera menganggunya untuk menampilkan performa terbaik dengan Juventus (di penghujung karier) dan pada akhirnya, Marchisio memutuskan pensiun meski baru setahun (2018-2019) bermain dengan Zenit Saint Petersburg.

Baca Juga:

Legenda Juventus Ingin Jurgen Klopp Latih Bianconeri jika Allegri Hengkang

Meski Dibuang, Claudio Marchisio Doakan Juventus Menangi Liga Champions

Akhir Perjalanan Panjang Claudio Marchisio di Juventus

Claudio Marchisio

“Saya memutuskan untuk pensiun, saya rasa sekarang adalah waktu yang tepat untuk mengumumkan hal tersebut,” ucap Marchisio dalam surat perpisahannya di Instagram.

"Saya telah membuat janji kepada anak-anak yang bermimpi untuk menjadi pemain bola. Saya akan terus bermain sampai saya merasa keajaiban datang dalam lapangan pertandingan. Saya tak lagi memenuhi janji, itulah mengapa saya lebih pensiun."

"Jadi, terima kasih kepada Anda, mimpi, Anda memberikan saya kekuatan, kesuksesan, dan kebahagiaan!"

“Saya belum tahu apa yang akan saya lakukan selanjutnya. Namun, keluarga saya selalu meyakinkan untuk tidak takut dalam menghadapi masa depan," tegas Marchisio.

Selayaknya Kapten Tsubasa (karakter fiktif dalam anime Captain Tsubasa) yang memberi semangat kepada generasi penerusnya, Marchisio juga melakukan hal yang sama dalam surat perpisahannya. Cedera tak kunjung henti jadi alasannya pensiun.

Claudio Marchisio

Kariernya singkat di Rusia. Tapi, kisah legendaris Marchisio sebenarnya diukir jauh sejak ia bermain untuk Juventus dari medio 1993 hingga 2018 (dari akademi hingga ke tim utama), sempat dipinjamkan ke Empoli.

Di sana, dengan total 12 musim memperkuat Juventus, Marchisio sudah tampil 389 kali, mencetak 37 gol, serta mengunci tujuh titel Serie A, empat Coppa Italia, tiga Super Italia. Kesuksesan itu, uniknya, meninggalkan penyesalan dalam diri Marchisio.

“Penyesalan terbesar saya selama berkarier adalah tidak menjuarai Liga Champions bersama Juventus dan Piala Eropa bersama Italia," ungkap Marchisio.

“Jika bisa mengulang waktu, saya ingin kembali ke dua final tersebut dan mengubah hasil akhir,” sambungnya.

Mencapai final dan tidak menjuarainya memang pahit, tapi fakta tersebut harus 'ditelan mentah-mentah' Marchisio. Dua kali ke final Liga Champions pada 2015 dan 2017, dua kali juga Juventus gagal menang kontra Barcelona dan Real Madrid.

Begitu juga dengan timnas Italia. Mencapai final pada Piala Eropa pada 2012, Gli Azzurri kalah 0-4 dari timnas Spanyol yang sedang dalam era keemasan mereka.

Kendati demikian, dua penyesalan, menurut Marchisio itu, tidak menutupi ukiran sejarah yang sudah dibuatnya di Turin. Marchisio tetap sosok gelandang serba bisa yang dapat bermain di seluruh posisi di lini tengah dan sosok pekerja keras.