BolaSkor.com - Inter Milan berada di puncak klasemen sementara Serie A. Meskipun musim 2019-20 belum separuh jalan dan masih bisa bertukar posisi dengan Juventus, pencapaian Inter terbilang luar biasa.

Untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun terakhir, Juventus menghadapi pertarungan sengit dalam lomba memperebutkan scudetto. Hal ini tidak lepas dari sentuhan tangan dingin Antonio Conte di Inter Milan.

Conte datang ke Inter dengan beban yang sangat berat. Eks manajer Chelsea itu dituntut misi mengembalikan kebanggaan klub yang dalam 10 terakhir tidak pernah menjadi kampiun Serie A. Tidak hanya itu, Conte datang sebagai sosok yang identik dengan rival sejati Inter, Juventus.

Baca juga:

Antonio Conte Disebut Sudah Terbiasa Mengeluh Sejak Masih di Juventus

Inter Milan Temui Agen Christian Eriksen

Sejak 2011, Inter selalu gagal mengangkat trofi meski sudah ditangani 11 pelatih, Conte sendiri masuk sebagai yang ke-12. Dengan akar Juventus, tidak sedikit pihak yang skeptis soal penunjukkan Conte. Tapi Conte tidak peduli dan hanya fokus bekerja. Beberapa pemain berhasil didatangkan, seperti Romelu Lukaku dan Alexis Sanchez.

Sejak menginjakkan kaki di Inter, Conte langsung menegaskan tidak akan tunduk kepada siapapun. Inilah keuntungannya datang sebagai orang luar, terlebih sebagai rival.

"Satu hal tentang mengambil alih Inter sebagai eks Juventus, saya berpikir untuk diri sendiri sebagai orang yang jujur dan loyal. Saya percaya kepada kerja keras, usaha, dan pengorbanan." ujar Conte kepada L'Equipe pada November lalu.

"Saya tidak akan mengubah kepribadian, saya bukan penjilat. Saya bisa seperti saat ini karena usaha sendiri. Saya tidak perlu berterima kasih kepada siapapun kecuali orang tua."

Sikap Conte itulah yang menjadi salah satu faktor keberhasilan dia membangkitkan Inter Milan. Kesuksesan yang di antaranya bisa terlihat dari ketajaman dua penyerang mereka, Lukaku dan Lautaro Martinez. Duet tersebut saat ini sudah membuat total 29 gol dari semua kompetisi.

Meski bergabung pada Mei, Conte membangun pasukan sesuai dengan visinya. Selain lini depan, Conte juga membangun barisan pertahanan tangguh dan disiplin. Dari 15 laga Serie A, gawang Inter baru kebobolan 13 kali.

Sikap keras tanpa tedeng aling-aling sebagai eks rival juga tercermin dari keberaniannya melontarkan kritik keras kepada klub. Hal ini bisa terlihat ketika Inter kesulitan di Liga Champions.

"Kesalahan besar sudah kami buat dalam perencanaan musim ini. Saya sudah bosan mengatakannya," tegas Conte setelah Inter dibekap Borussia Dortmund dan Barcelona.

"Saya tidak peduli soal Januari atau Februari. Kami seharusnya punya rencana yang jauh lebih baik."

"Kami sudah membuktikan bisa menyulitkan siapa saja saat dalam kondisi terbaik. Tapi ada pemain yang sudah bermain non-stop," lanjut Conte.

"Kami tidak bisa bermain di Serie A dan Liga Champions terus menerus gaspol. Saya kesal karena kami tidak bisa melakukan lebih."

Meski perencanaan klub yang dinilai tidak optimal, Conte masih berhasil melakukan perubahan signifikan pada skuat Inter Milan, khususnya di Serie A, meski pada laga pekan ke-15 mereka ditahan 0-0 oleh AS Roma di kandang. Di bawah Conte, para pemain seperti rela memberikan segalanya.

"Semua orang menghormati Conte. Saya sendiri melihat bagaimana hebatnya dia. Menurut saya, Conte adalah 'Messi-nya pelatih'," ujar Alessandro Bastoni, pemain belakang Inter.

Datang sebagai rival, Conte mengubah mentalitas Inter Milan dan kini berpeluang mengakhiri dominasi Juventus, bekas klub Conte.