BolaSkor.com – Semifinal Liga Champions 2020-2021 musim ini cukup menarik perhatian. Di kala Raja Eropa Real Madrid ditantang oleh Chelsea, semifinalis lainnya mempertemukan dua tim dalam tajuk ‘Derby Minyak’ antara Manchester City kontra PSG (Paris Saint-Germain).

Derby Minyak tidak seperti El Clasico, Derby Manchester, Derby Merseyside, atau derby lainnya di Eropa, sebab itu adalah sindiran yang mengacu kepada cara kedua klub dibangun selama sedekade terakhir: dengan kekayaan pemilik klub.

Manchester City sudah diakuisisi oleh Sheikh Mansour pada 2008, sedangkan PSG dibeli oleh Nasser Al-Khelaifi dan perusahaannya pada 2011. Terpaut tiga tahun dari perubahan kepemilikan klub di antara PSG dan Man City.

Baca Juga:

Man City Juara Piala Liga, Pep Guardiola Ukir Rekor Spesial

Jadwal Siaran Langsung Leg Pertama Semifinal Liga Champions 2020-2021

Adu Mahal Pemain PSG Vs Man City Usai Diakuisisi Pengusaha Timur Tengah

PSG vs Manchester City (BolaSkor.com/Aji Wandi)

Kendati demikian cara keduanya membangun tim tidak berbeda. Gelontoran uang bak tanpa seri dari kedua klub mendatangkan bintang-bintang ternama, semisal di PSG ada Zlatan Ibrahimovic, Angel Di Maria, Edinson Cavani, David Beckham, hingga Neymar dan Kylian Mbappe.

Man City juga dengan nama-nama seperti Sergio Aguero, David Silva, Yaya Toure, Kevin De Bruyne, Robinho, dan Vincent Kompany. Pembangunan skuad instan untuk meraih trofi dengan cepat dilakukan oleh kedua klub.

Tak heran apabila keduanya mendominasi raihan titel domestik baik itu dari Ligue 1 hingga Premier League. Kepuasaan dari segi domestik telah dimiliki, kini Man City dan PSG berambisi merajai Eropa dengan memenangi Liga Champions.

Ketika sepak bola memberikan passion kepada pemain dan fans melalui drama di lapangan pertandingan, Man City dan PSG coba ‘membeli’ titel Liga Champions dengan kekuatan uang mereka. FFP (Financial Fair Play) pun tak mampu membendung keduanya untuk mengakali aturan tersebut.

Javier Tebas, Presiden LaLiga paling vokal meminta UEFA untuk menegakkan FFP kepada kedua klub tersebut.

Javier Tebas

“Klub milik negara seperti Man City dan PSG - klub-klub ini perlu dikontrol dengan ketat,” kata Tebas beberapa waktu lalu dalam konferensi pers virtual. "Mereka belum melakukan sesuatu yang keterlaluan sejauh ini, tapi kita lihat saja nanti."

Dengan kritikan dan harapan beberapa fans sepak bola Eropa yang tak ingin kedua klub juara Liga Champions, Man City dan PSG tetap fokus mengejar ambisi juara. Keduanya akan bentrok di semifinal setelah berulang kali jatuh dan gagal memenanginya di masa lalu.

Pengeluaran Besar

Investasi yang dilakukan Man City dan PSG di tengah cibiran publik tidak main-main. Satu triliun poundsterling lebih sudah dihabiskan Man City dalam membangun skuad hingga gonta-ganti pelatih.

Mulai dari Mark Hughes, Roberto Mancini, Manuel Pellegrini, hingga kini ditangani oleh Pep Guardiola, City yang selalu jadi kandidat juara di Premier League sudah sering bongkar pasang pemain dalam skuad. Tidak ada keraguan ketika mereka merekrut pemain.

Kevin De Bruyne

Man City tak pernah diragukan dengan daya beli mereka jika sudah mengincar satu pemain. Kevin De Bruyne direkrut dari Wolfsburg sebesar 76 juta euro pada 2015, Ruben Dias diboyong dari Benfica pada 2020 sebesar 68 juta euro, atau Riyad Mahrez dengan banderol 67,8 juta euro ketika direkrut dari Leicester City pada 2018.

PSG lebih parah lagi. Untuk membeli Neymar saja PSG mengeluarkan 222 juta euro kala merekrutnya dari Barcelona pada 2017 (saat ini masih rekor transfer dunia), serta membeli Kylian Mbappe dari Monaco sebesar 145 juta euro pada 2019.

Inflasi pesat harga pemain yang terjadi sebelum pandemi virus corona memang terjadi di Eropa, namun kedua klub itu – seperti halnya Chelsea dan Madrid di masa lalu – berpengaruh besar meningkatkan harga-harga pemain. Semua itu demi ambisi juara dengan cepat baik di kancah domestik serta ambisi juara di Eropa.

Neymar

Kesabaran membangun skuad yang diperlihatkan Liverpool, Manchester United, Juventus, dan AC Milan di masa lalu sudah menjadi suatu hal yang langka saat ini.

Perjalanan PSG dan Man City di Liga Champions

Segalanya membutuhkan uang, tetapi uang tidak bisa ‘membeli’ segalanya, termasuk trofi. Ketika sudah berbicara ranah Eropa maka ada sejumlah faktor yang memengaruhi tim memenanginya, mulai dari keberuntungan, pengalaman, hingga DNA serta mentalitas.

Madrid bisa menjadi juara 13 titel Liga Champions karena pengalaman besar serta mentalitas yang sudah tertanam. Mentalitas itu yang acapkali jadi sandungan bagi Man City dan PSG.

Ekspresi Neymar di final Liga Champions 2020

Pencapaian terjauh Man City sebatas menembus semifinal pada 2016 dan kalah oleh Real Madrid, sedangkan PSG nyaris memenanginya kala mencapai final musim 2019-2020, tetapi pada akhirnya kalah oleh Bayern Munchen.

Secara tradisi Man City dan PSG bukan klub yang disegani di Eropa di masa lalu, tetapi setidaknya untuk saat ini salah satu di antara keduanya akan melaju ke final dengan peluang besar memenangi titel Liga Champions.