BolaSkor.com - Fenomena yang terjadi kepada Atalanta di musim ini cukup unik. Bagaimana tidak, La Dea - julukan Atalanta - tampil ganas di Serie A 2019-20 dan menjadi kuda hitam perebutan Scudetto. Sebaliknya di Liga Champions, performa Atalanta melempem.

Teranyar, seolah tak mau kalah dari Leicester City yang menang 9-0 atas Southampton di Premier League, Atalanta juga pesta gol dengan hasil akhir mencolok 7-1 atas Udinese dalam lanjutan pekan sembilan Serie A di Atleti Azzurri d'Italia, Minggu (27/10) malam WIB.

Eks striker Udinese, Luis Muriel, menorehkan hat-trick (35' penalti, 47', dan 75' penalti), kemudian gol lainnya dicetak Josip Ilicic (21' dan 43'), Mario Pasalic (52'), dan Amad Diallo Traore (83'), yang diperkecil gol Stefano Okaka di menit 11.

Baca Juga:

Hasil Kompetisi Eropa: Atalanta Pesta Gol, AC Milan Terkapar

Ingat Atalanta, di Liga Champions Tak Cukup Hanya Bermodal Semangat

Mengulas 3 Kekuatan Utama Atalanta: Ukir Sejarah dan Sensasi Ketenaran Cristiano Ronaldo

Kemenangan itu terjadi setelah mereka dilumat Manchester City di Liga Champions dengan skor 1-5. Perbedaan yang sangat kontras dari performa mereka di Liga Champions dan Serie A. Ini menarik karena pada dasarnya Gian Piero Gasperini tidak merombak formasi dan susunan pemain secara besar-besaran.

Di kedua laga itu contohnya, Gasperini tetap memainkan taktik 3-4-1-2 dengan variasi lainnya. Perbedaan besar hasil-hasil yang diraih Atalanta di Serie A dan Liga Champions itu disinyalir terjadi karena beberapa faktor: pengalaman, taktik kuno, dan kekuatan finansial yang jomplang.

Gian Piero Gasperini

"Gaji-gaji (pemain) tidak bertanding dan memberikan Anda kemenangan. Kendati demikian, aspek finansial, krusial karena ini memaksa Anda menjual pemain-pemain sebesar 20-25 juta euro, ketika tim-tim besar dapat membayar lebih," tutur Gasperini beberapa waktu lalu kepada Corriere dello Sport.

"Tidak ada meritokrasi (kekuatan yang berdasarkan talenta, usaha keras, kolektif) di sepak bola Italia, jadi jika Atalanta finish di urutan tiga, empat, atau lima selama tiga musim beruntun, ini tidak bisa menjembatani jarak dengan tim-tim besar."

Betapa 'kecilnya' Atalanta di Eropa itu bisa dilihat dari tiga kekalahan beruntun di fase grup Liga Champions ketika melawan: Dinamo Zagreb (0-4), Shakhtar Donetsk (1-2), dan Manchester City (1-5). Pengalaman berbicara di ketiga laga itu.

Dibanding Atalanta yang baru pertama kali bermain di Liga Champions, Dinamo, Shakhtar, dan Man City lebih berpengalaman. Atalanta, yang mewakili kota di Italia dengan jumlah penduduk tidak lebih dari 100.000 orang, tak mampu bersaing dengan mereka.

Gaji pemain-pemain Atalanta, meski berhasil lolos Kualifikasi Liga Champions, masih kalah besar dibanding tim-tim lainnya (bahkan tidak masuk 10 besar di Italia). Sulit bagi Atalanta bersaing dengan mereka di Eropa - level yang terlalu tinggi saat ini.

Atalanta

Akan tapi ketika berbicara persaingan di Serie A, Atalanta bak Leicester City ketika menjadi kejutan juara Premier League 2015-16. Meski publik membandingkan keduanya, Gasperini tidak setuju dengannya.

"Apa yang dilakukan Leicester tidak akan terulang di mana pun di dunia. Itulah mengapa ini hanya cerita dongeng. Kendati demikian, kami tidak memikirkan mereka (Juventus). Pikiran kami lebih kongkrit," kata Gasperini.

Atalanta saat ini berada di urutan tiga klasemen dari sembilan laga Serie A dan terpaut tiga poin dari pemuncak klasemen, Juventus, dan dua poin dari Inter Milan di peringkat dua. Di antara empat tim teratas Serie A, Atalanta jadi tim dengan serangan terbaik dan telah mencetak 28 gol.

Uniknya bak pisau bermata dua, pertahanan mereka juga yang paling parah dengan jumlah kebobolan 14 gol.

"Kekuatan kami di lini depan dapat menutupi kesalahan yang kami lakukan di lini belakang, tapi jika kami memiliki pertahanan terbaik, kami mungkin ada di puncak klasemen," ujar Gasperini.

Celah di pertahanan itulah yang menjadi titik lemah Atalanta, yang menyulitkan mereka di Eropa. Pasalnya, klub-klub Eropa acapkali bermain lebih efektif dalam memanfaatkan kesalahan lawan - apalagi saat melawan tim dengan pertahanan yang tidak bagus.

Berbeda dengan Eropa, di Italia, Atalanta menutupi kekurangan tim dalam bertahan dengan lini tengah dan depan yang bagus. Apabila Atalanta bisa konsisten menjaga performa mereka di Italia, Juventus dan Inter boleh jadi siaga mewaspadai mereka.