BolaSkor.com - Apa yang terjadi jika Filippo Inzaghi bermain pada era sekarang, saat video pembantu wasit atau VAR selalu menangkap posisi offside penyerang? Apakah Inzaghi akan bisa sukses jika main di era saat ini?

Pertanyaan itu acap muncul tiap kali ada gol yang dibatalkan wasit karena offside setelah mendapatkan bantuan dari VAR. Pertanyaan itu muncul saat pemain tertangkap offside karena VAR menangkap ujung sepatunya ada lebih depan.

Ya, Inzaghi dan offside memang tidak bisa dilepaskan. Ada banyak tipe striker di dunia, namun Inzaghi merupakan salah satu mesin gol yang bakal selalu ada dalam memori penggila sepak bola.

Baca Juga:

Upaya Tak Kenal Lelah Inter Milan Bajak Franck Kessie

Persamaan Cristiano Ronaldo dan Zlatan Ibrahimovic di Mata Carlo Ancelotti

Tak Ada Gading yang Tak Retak, Kekurangan Ibrahimovic di Mata Arrigo Sacchi

Inzaghi dikenal sebagai penyerang lapar gol yang piawai dalam mengambil posisi. Sebagai penyelesai akhir, Inzaghi adalah gambaran penyerang poacher paling top di eranya. Dia selalu tahu di mana bola akan dengan mudah diceploskan ke dalam gawang.

Dan, tentu saja, kepiawaian dalam mengambil posisi juga yang membuatnya akrab dengan offside. Meski demikian, keakrabannya itu pula yang memnbuatnya seperti memiliki resep untuk mematahkan offside.

“Pemain itu pasti lahir dalam posisi offside,” ujar manajer legendaris Manchester United Sir Alex Ferguson tentang Filippo Inzaghi.

Keahlian Inzaghi dalam lolos dari jebakan offside bukan sembarangan. Dia sering menipu barisan pertahanan lawan dan lepas dari perangkap offside sebelum menyarangkan bola ke dalam gawang.

“Sebenarnya dia sama sekali tidak bisa bermain bola. Dia hanya selalu berada dalam posisi yang tepat," ujar mendiang Johan Cruyff.

Inzaghi boleh saja disebut sebagai pemain yang paling sering terkena offside, tapi di sisi lain dia juga banyak mencetak gol setelah lolos dari jebakan offside. Apa yang dilakukan Inzaghi adalah sebuah seni.

Bisa dilihat bagaimana Inzaghi mengatasi tekanan bek terakhir dan memanfaatkan margin kesalahan yang sangat tipis. Untuk bisa mematahkan offside, Inzaghi harus memperhatikan posisi dirinya, bek pengawal, dan pengumpan, serta harus memilih waktu dan situasi sekitarnya.

Banyak yang menyebut semua itu tidak lepas dari keberuntungan, tapi tidak sedikit yang mengatakan apa yang dilakukan Inzaghi memerlukan apa yang disebut footballing intelligence.

Salah satu contoh keahlian Inzaghi bisa tersaji saat dia mencetak gol ke gawang Bayern Munchen di Liga Champions 2006-07. Ketika itu saat Clarence Seedorf mengumpan, tanpa diduga Inzaghi dengan lihainya lepas dari jebakan offside dan akhirnya dengan mudah menjebol gawang.

Eks striker Juventus dan AC Milan yang kini menjadi pelatih Benevento ini merupakan pembunuh paling mematikan di kotak penalti lawan. Sepanjang kariernya, Inzaghi mencetak 288 gol dalam 623 pertandingan.

Mulai dikenal sejak di Atalanta, Inzaghi semakin menunjukkan tajinya saat hijrah ke Juventus di mana dia mencatat 58 gol dalam empat musim. Sedangkan di AC Milan, Super Pippo bertahan 11 musim dan menjadi bagian kesuksesan Rossoneri merengkuh dua gelar Liga Champions.

Namun, sekali lagi pertanyaan muncul. Akankah Inzaghi bisa menjadi penyerang sukses di era sekarang? Berapa kali wasit akan meminta bantuan VAR tiap kali Inzaghi mencetak gol?