BolaSkor.com - Setiap pelatih atau manajer memiliki ideologi atau filosofi masing-masing dalam pendekatan sepak bola yang ingin diterapkannya kepada timnya. Begitu juga salah satu pelatih top Eropa Carlo Ancelotti.

Pengalaman serta kariernya di Eropa tak perlu dipertanyakan lagi. Saat ini pelatih berusia 62 tahun melatih Real Madrid di periode kedua setelah kesuksesan memenangi Copa del Rey dan Liga Champions di periode pertama.

Ancelotti juga sukses meraih trofi prestisius bersama AC Milan, Chelsea, dan Bayern Munchen. Jadi, tidak ada keraguan mengenai kualitas dan pengalamannya. Filosofi sepak bola Ancelotti pun sederhana.

Apabila pelatih seperti Jurgen Klopp, Pep Guardiola, Maurizio Sarri, memiliki identitas dari permainan sepak bola yang mereka coba terapkan, maka Ancelotti tidak demikian. Menurutnya, pelatih yang bagus adalah pelatih yang dapat memaksimalkan karakter pemain-pemain di dalam skuad mereka.

Baca Juga:

Real Madrid Selangkah di Depan dalam Perburuan Haaland

Vinicius Junior yang Kian Gacor

Titik Nadir dan Kesedihan dalam Karier Eden Hazard

Carlo Ancelotti

“Pelatih yang cerdas adalah pelatih yang menyesuaikan permainan dengan karakteristik para pemainnya. Dia akan menjadi idiot jika, dengan penyerang seperti Vinicius, yang memiliki sepeda motor di bawah kakinya (kecepatan dan kelincahan), dia tidak bertaruh pada serangan balik," tutur Ancelotti dikutip dari ManagingMadrid.

"Contoh lain: jika saya memiliki Cristiano, saya sering mencari cara untuk memberikan bola kepadanya, saya tidak memintanya untuk bertahan. Begitu pula dengan Ibra (Zlatan Ibrahimovic)."
"Ada dua tipe pemain: mereka yang membuat perbedaan dan mereka yang harus berlari. Saya tidak percaya pada ideologi seperti Guardiolismo, Sarrismo... Saya percaya pada identitas tim," tegas dia.

Selain berbicara mengenai pandangannya akan filosofi sepak bola, Ancelotti juga menuturkan harapannya agar kalender sepak bola mengalami perubahan jadwal, khususnya dengan pengurangan kuantitas laga.

“Lebih sedikit pertandingan, saya tegaskan, dan dua jda internasional untuk tim nasional. Saya telah berbicara kepada (Arsene, Kepala Pengembangan Sepak Bola Global) Wenger. Para pesepak bola, saya yakin, akan menurunkan gaji mereka jika kalender dipotong, dan pelatihnya sama. Ide Liga Super lahir dari tuntutan perubahan itu," imbuh Ancelotti.

“Sepak bola harus berkembang cepat. Hal pertama adalah mengurangi permainan, itu dimainkan terlalu banyak dan buruk — kualitas performa sangat menurun. Para pemain sudah tidak tahan lagi, ada yang menolak ikut timnas. Kelelahan, cedera, pertandingan yang berakhir 10-0. Cukup sudah."