BolaSkor.com - Legenda Barcelona, Xavi Hernandez, menjabarkan dengan jelas dan terperinci soal filosofi sepak bola yang dipercayainya dalam peran sebagai pelatih profesional. Jawabannya sederhana: penguasaan bola.

Xavi, 39 tahun, merupakan jebolan akademi La Masia, bermain di tim utama Barcelona (1998-2015), dan menjadi juara dunia dan Eropa dengan timnas Spanyol. Semua kesuksesan itu diraih berkat kepercayaannya akan satu filosofi sepak bola.

Penguasaan bola, bermain ofensif dan menghibur sudah tertanam dalam diri Xavi sejak masih bermain dulu. Kini, ia menerapkannya dengan klub asal Qatar, Al-Sadd. Satu langkah telah dilewatinya pada perhelatan Piala Dunia Antar Klub.

Xavi membawa Al-Sadd ke perempat final usai menang 3-1 atas Hienghene di Jassim Bin Hamad Stadium, Kamis (12/12) dini hari WIB, melalui gol yang dicetak Baghdad Bounedjah (26'), Abdelkarim Hassan (100'), dan Ro-Ro (114') yang membalas gol dari Antoine Roine (46').

Baca Juga:

Profil 7 Klub Piala Dunia Antarklub 2019

Xavi Hernandez Antarkan Al-Sadd ke Perempat Final Piala Dunia Antar Klub

Xavi Hernandez

Di pertandingan tersebut, Al-Sadd belum sesempurna yang dibayangkan Xavi, tapi DNA permainan Xavi sudah sedikit tertanam melalui 69 persen penguasaan bola berbanding 31 persen, dengan total tendangan 37 dan 15 tepat sasaran.

Jumlah operan sebanyak 806 kali dan akurasi operan 84 persen. Tapi, dengan hitungan 15 tendangan tepat sasaran dan 37 tendangan, dengan hanya torehan tiga gol, Al-Sadd belum bermain efisien.

"Kami menyiakan beberapa kans mudah (untuk mencetak gol); kami tak mampu mencetak gol. Di babak tambahan, kami mampu mencetak gol dan beruntung tak berlanjut ke adu penalti. Saya bahagia melaju ke tahapan berikutnya turnamen," tutur Xavi di laman resmi Al-Sadd.

Lolos ke perempat final, Al-Sadd akan bertemu dengan klub asal Meksiko, Monterrey. Klub ini jauh lebih berbahayaa ketimbang Hienghene karena mereka memiliki pemain-pemain internasional yang memperkuat timnas.

Al-Sadd vs Hienghene

Beberapa nama itu seperti Miguel Layun, Maximiliano Meza. dan Jonathan Urretaviscaya, serta mantan striker timnas Belanda, Vincent Janssen. Tugas berat menanti Xavi untuk membawa Al-Sadd melaju sejauh mungkin di Piala Dunia Antarklub.

Satu hal pasti yang menarik untuk dinanti pada laga nanti adalah permainan Al-Sadd melawan tim yang lebih cepat, kuat dari segi kualitas individu. Tidak mudah mendominasi penguasaan bola, namun, filosofi penguasaan bola akan tetap diusung Al-Sadd jika mereka tak ingin ... menderita.

"Saya menggambarkan diri saya sebagai seseorang yang suka memiliki bola. Saya ada di sana area teknis menderita jika tim saya tak menguasai bola. Sama halnya seperti saat saya bermain: saya suka menguasai bola," kata Xavi di laman resmi FIFA.

"Apa yang saya inginkan untuk tim saya adalah kontrol dan saya pikir Anda memilikinya ketika Anda menguasai bola. Begitulah cara saya diajari di Barca dan timnas. Saya pastikan kami terus bekerja soal penguasaan bola di tiap sesi latihan dan saya punya pemain yang mencoba memenangi bola secepat mungkin."

"Itulah filosofi saya: menguasai bola - tidak hanya duduk dan menanti (bertahan) - dan terus menyerang, karena semakin sering Anda menciptakan peluang, lebih banyak kans Anda menang. Saya terkejut pada diri saya sendiri ketika mulai melatih saya tak banyak berpikir soal sisi defensif pertandingan."

"Tapi sekarang Anda menderita. Anda menderita ketika Anda tak menguasai bola. Itu 30-40 persen penguasaan yang tidak Anda miliki ketika bekerja sekeras mungkin," pungkas Xavi.