BolaSkor.com - Pada 18 Mei 1994, Olimpic Stadium, Athena, Yunani, menjadi saksi bagaimana AC Milan meluluhlantakkan Barcelona dengan skor telak 4-0 di laga pemuncak Liga Champions. Tidak sedikit yang menyebut keberhasilan Milan sebagai malam matinya sebuah impian. Di sisi lain, laga ini merupakan definisi dari sepak bola modern.

Sejak memastikan diri melaju ke final, Milan sudah menjadi kubu yang tidak diunggulkan menghadapi The Dream Team Barcelona asuhan Johan Cruyff. Para pengamat dan penggila sepak bola sudah menerka ke mana arah final berjalan.

Di kubu Barcelona, pasukan Cruyff merupakan unggulan, yang dua tahun sebelumnya merupakan kampiun Eropa. Mereka juga datang setelah mendominasi LaLiga selama tiga musim beruntun. Sukses yang tidak lepas dari sentuhan Cruyff dalam meracik deretan bintang seperti Romario, Hristo Stoichkov, Ronald Koeman, hingga Pep Guardiola.

Baca Juga:

Nostalgia - Gol Sundulan Jadi Salam Perpisahan Zidane Kepada Publik Santiago Bernabeu

Mengenal Yasir Al-Rumayyan, Calon Pemilik Baru Newcastle United Kepercayaan Pangeran Salman

Nostalgia - Final Piala Winners 1964, Sejarah Sporting dan Legenda Cantinho do Morais

Di kubu lain, Milan yang diasuh Fabio Capello disebut sebagai tim yang tidak memiliki permainan seelegan dan secantik Barcelona. Meski begitu, Milan tetaplah tim yang menakutkan. Mereka mendominasi sepak bola Italia dan merupakan finalis Liga Champions tahun sebelumnya. Memang kali ini Milan tidak bisa memainkan Marco van Basten yang menderita cedera panjang.

"Barcelona adalah favorit. Kami lebih komplet, kompetitif, dan berpengalaman. Milan bukan apa-apa. Permainan mereka mengandalkan pertahanan, sedangkan kami menyerang," ujar Cruyff sebelum laga.

Belakangan diketahui, perkataan Cruyff tersebutlah yang menjadi pelecut bagi para pemain Milan. "Ucapan Cruyff sangat tidak pantas dan membuat kami kesal. Jika dia tidak mengucapkan itu, ceritanya bisa jadi berbeda," ujar bek Milan Alessandro Costacurta.

Memang banyak yang menyebut perkataan Cruyff itu arogan. Kesombongan yang menular hingga ke persiapan mereka menjelang final. Ya, Barcelona terkesan santai atau bisa dikatakan tanpa melakukan persiapan apapun untuk melawan Milan. Bagi mereka, permainan menyerang akan memenangi laga.

Bisa dikatakan, sejak saat itu "pertarungan" antara permainan menyerang progresif melawan sistem bertahan reaktif muncul, hingga saat ini.

Pada 1994, menyerang lebih superior daripada bertahan mengemuka. Percaya atau tidak, puluhan tahun kemudian pelatih yang menjadikan pertahanan sebagai prioritas, bermain pragmatis, dan serangan balik masih menjadi bahan "celaan". Inilah cerminan sepak bola modern.

Dan, pendekatan Fabio Capello untuk laga di Athena menjadi awal semuanya. Atau paling tidak Capello kembali membuktikan jika permainan yang fokus pada pertahanan bisa dijadikan pilihan menuju kesuksesan. Kemenangan mengejutkan 4-0 Milan atas Barcelona tidak hanya disebut sebagai malam matinya The Dream Team, tetapi juga malam kelahiran kembali taktik reaktif.

Apa yang ditampilkan Milan besutan Capello seakan menjadi jawaban kelihaian dalam menerapkan taktik menjadi kunci keberhasilan. Dengan taktik yang menyesuaikan permainan lawan, Milan mampu menjadikan permainan menyerang Barcelona sebagai senjata.

"Kalian lebih baik daripada mereka, kalian akan menang," pesan Cruyff kepada pera para pemainnya. Justru sikap inilah yang akan terpatri dalam kepada pada pemain. Mereka hanya fokus pada mengeksploitasi kelemahan oposisi.

Seperti tim asuhan Diego Simeone atau Antonio Conte saat ini, sistem Capello adalah tentang kerendahan hati, kerja keras, pragmatisme, dan menihilkan kekuatan oposisi. Capello mengatur timnya untuk menekan hanya di area mereka sendiri. Mereka seperti mencekik lini tengah Barca dengan blokade sempit. Setelah itu, tanpa ampun mengekspos Barcelona di sisi sayap lewat serangan balik. Gol-gol dari Daniele Massaro, Dejan Savicevic, dan Marcel Desailly adalah buah dari strategi jitu Capello.

"Saat itu semua orang berpikir Barcelona adalah tim terbaik dan mustahil dikalahkan. Ini menjadi motivasi para pemain saya," ujar Capello.

"Barcelona baru memenangi LaLiga. Mereka sedang bahagia dan sangat percaya diri akan bermain bagus. Semua orang mengatakan mereka akan menang."

"Saya pikir, kadang ketika fokus dan mempersiapkan diri dengan sangat baik, serta benar-benar ingin mengalahkan tim lain, Anda akan menemukan energi untuk itu. Kami memiliki mentalitas pemenang," papar Capello.

"Kami bermain fantastis. Di atas lapangan para pemain melakukan semuanya secara sempurna. Barcelona hanya mampu menendang ke gawang sekali. Semua pemain kami tampil 100 persen. Inilah alasan kami mengalahkan Barcelona 4-0."

Usai laga, di ruang ganti Barcelona Cruyff terdiam. Sebuah era telah berakhir. Setelah Athena, Barcelona tidak lagi memenangkan trofi lain dan Cruyff akhirnya dipecat pada 1996.

Kehancuran Barcelona berdampak instan pada sepak bola Eropa. Seri A Italia menjadi kekuatan yang dominan hingga akhir 1990-an, sementara tiga Liga Champions berikutnya dimenangkan oleh Louis van Gaal, Marcello Lippi, dan Ottmar Hitzfeld, tiga pelatih yang memiliki karakter berbeda namun memiliki kesamaan dalam hal kehati-hatian dalam kreativitas dan reaktif dengan permainan lawan.

Cara bermain pasca-Cruyff mencapai puncaknya sekitar 2006, ketika Italia asuhan Lippi memenangkan Piala Dunia dengan latar belakang sepak bola defensif. Selang beberapa saat kemudian, permainan seperti itu dihentikan dengan kemunculan Pep Guardiola yang menghidupkan kembali metode mentornya di Barcelona.

Butuh lebih dari satu dekade bagi Barcelona untuk kembali ke khitah mereka. Menariknya, pada saat yang sama lagi-lagi gaya menyerang Barcelona mendapatkan saingan dari sistem yang berlawanan. Jika dulu Cruyff kontra Capello, kini Guardiola melawan Jose Mourinho, yang dengan sengaja menempatkan dirinya menjadi oposisi Guardiola.

Mourinho sekan sengaja menempatkan dirinya sebagai lawan yang menemukan kegembiraan dengan mengganggu dan menghapuskan estetika sepak bola ala Cruyff.

Sejarah sepak bola modern menggambarkan selalu membenturkan antara ekspansi dan kompresi, serangan dan pertahanan, penguasaan bola dan serangan balik. Begitu satu mencapai puncaknya, yang lain alami kemunduran, bergantian.

Sejak 1970-an, Total Football Belanda dan Catenaccio Italia telah secara luas meletakkan dasar bagi dua pihak yang berlawanan.

Capello dan Cruyff adalah lawan yang sempurna, pertemuan mereka di final Liga Champions merupakan momen yang mengkristal bagi dua aliran pemikiran yang saling bertentangan.

Jadi, ketika seorang Italia menggulingkan seorang Belanda di salah satu panggung sepak bola terbesar di Eropa, dia mengkalibrasi ulang masa depan sepak bola. Di Athena, sepak bola modern terdefinisikan.