BolaSkor.com - Lima tahun lalu tepat di tanggal 6 Juni Olympiastadion, Berlin, menjadi saksi sejarah besar FC Barcelona di final Liga Champions melawan raksasa dari Italia, Juventus. Blaugrana menang telak dengan skor 3-1.

Ketiga gol Barcelona besutan Luis Enrique dilesakkan oleh Ivan Rakitic (4'), Luis Suarez (68'), dan Neymar (90+7') yang diperkecil Alvaro Morata di menit 55. Laga di Olympiastadion itu menjadi satu titik momen sejarah berbeda bagi kedua tim.

FC Barcelona mengukir sejarah meraih treble winners kedua dalam sejarah klub - dan masih jadi satu-satunya tim yang melakukannya - setelah meraihnya pada 2009 bersama Pep Guardiola. Pada 2015 pelatihnya adalah Luis Enrique.

"Dengan setengah bercanda saya bertanya kepada pemain-pemain, apa hal terburuk yang dapat terjadi kepada kami hari ini?" tutur Enrique bercerita kata-kata motivasi yang diberikan kepada Barca sebelum laga berlangsung.

Baca Juga:

Ketika Cristiano Ronaldo Ucapkan Selamat Tinggal Real Madrid di Kiev

Final Liga Champions 2017, Momen Real Madrid Hapus Kutukan Berumur 27 Tahun

5 Pemain Top yang Tidak Pernah Memenangi Titel Liga Champions

Luis Enrique

Para pemain senior Barca menjawab "Tidak bermain dengan gaya kami," dan bukan itu jawabannya. "Saya berkata hal terburuk yang dapat terjadi hari ini adalah menjadi pemain Juventus dan harus berhadapan dengan Barca!"

"Bayangkan Anda harus menjaga Luis Suarez, atau Neymar, atau Leo Messi, atau Andres Iniesta, atau Sergio Busquets!. Bayangkan mencoba menjebol gawang Marc-Andre ter Stegen. Menjadi Alvaro Morata dan coba mencetak gol melawan Javier Mascherano dan Gerard Pique. Lalu jadi Patrice Evra dan coba bertahan melawan Dani Alves."

"Saya mengatakannya dengan sedikit bercanda, tapi faktanya ... bayangkan kami tengah berbicara di antara skuat Juventus. Dan saya membicarakan Anda mengenai Barca. Anda pasti memikirkannya! tidak mungkin tidak!"

Pep talk ala Luis Enrique berhasil meredam Juventus. Carlos Tevez tak berkutik, Morata mencetak satu gol, Andrea Pirlo, Paul Pogba, dan Arturo Vidal tak kuasa menghadapi lini tengah Barcelona. Trisula lini depan Barca: Suarez, Neymar, dan Messi sangat berbahaya kala membangun serangan atau melakukan serangan balik.

Barcelona

Kekalahan di final itu menjadi nestapa bagi Juventus. Il Bianconeri gagal memupus penantian panjang titel Liga Champions yang terakhir diraih pada 1996. Parahnya lagi dua tahun berselang mereka gagal kembali lagi memenanginya dengan pelatih yang sama: Massimiliano Allegri.

Juventus

Ironisnya untuk Barcelona mereka tak lagi memenangi titel Liga Champions sejak malam spesial di Berlin, Jerman itu. Perjalanan Lionel Messi dkk dalam lima tahun terakhir selalu kandas di fase gugur.

Keadaan kian memburuk karena dalam dua kesempatan Barca - yang biasanya melakukan comeback dramatis - justru merasakan comeback dari lawan, yakni kala melawan AS Roma pada perempat final Liga Champions 2017-18 dan Liverpool di semifinal Liga Champions 2018-19.

Selama lima tahun terakhir itu juga Barcelona hanya bisa gigit jari melihat rival bebuyutan, Real Madrid memenangi tiga titel Liga Champions yang menegaskan status mereka sebagai Raja Eropa dengan raihan 13 titel.

Barca tak lagi sama sejak Ernesto Valverde melatih tim menggantikan Enrique dan kini ditangani oleh Quique Setien. Empat legenda klub, Andres Iniesta, Dani Alves, Xavi (pensiun), dan Neymar telah pergi. Kehilangan Neymar ke PSG dengan rekor transfer 222 juta euro pada 2017 sangat mengurangi daya serang mereka di lini depan.

Andrea Pirlo menangis selepas laga berakhir

Pun demikian Juventus. Kini klub asal Turin dilatih Maurizio Sarri dan tidak ada lagi nama Pirlo, Vidal, Pogba, Claudio Marchisio, Morata, Tevez dalam skuat tim. Tangisan Pirlo pada final Liga Champions 2015 seharusnya sudah cukup mewakilkan betapa besar hasrat fans Juventus dan dirinya meraih titel untuk klub. Bagi Pirlo itu adalah final turnamen antarklub Eropa terakhirnya sebelum gabung New York City dan pensiun pada 2017.