BolaSkor.com - Sejak bergabung dengan Liverpool, nama Sadio Mane melesat. Dia disebut-sebut menjadi salah satu penyerang terbaik di Premier League, Eropa, bahkan dunia.

Dalam film dokumenter terbaru yang bertajuk "Sadio Mane: Made In Senegal" digambarkan perjalanan karier sang bintang. Dari awal yang penuh kesulitan hingga meraih impiannya sebagai pemain sepak bola dunia.

"Saya ingin memperlihatkan kepada semua orang, Anda bisa meraih apapun di dunia jika Anda siap membangun impian dan bekerja keras. Saya adalah buatan Senegal," ujar Mane kepada The Guardian.

Baca Juga:

Sebelum Hengkang ke Liverpool, Sadio Mane Mendambakan Manchester United

Alasan Sadio Mane dan Mohamed Salah Tidak Akan Tinggalkan Liverpool

Liverpool Diminta Tak Ngotot Pertahankan Sadio Mane dari Incaran Real Madrid

Perjalanan karier Mane di dunia sepak bola tidak akan terjadi tanpa Academie Generation Foot atau lebih dikenal Ganeration Foot. Klub sepak bola yang didirikan di Dakar pada 2000. Di sinilah Mane bermula.

Tahun lalu, tim senior Generation Foot berhasil menjadi juara Senegal Premier League. Sebelumnya mereka juga pernah menjadi kampiun pada 2017.

Rahasia sukses mereka adalah dengan mengandalkan para talenta muda. Bayangkan, rata-rata usia pemain tidak lebih dari 18 tahun. Para pemain ini menjadikan kiprah mereka sebagai batu pijakan sebelum berpetualang ke Eropa.

Hingga saat ini, lebih dari 30 pemain pemain jebolan Generation Foot merumput di Eropa. Selain Mane, mantan penyerang West Ham Diafra Sakho, winger Watford Ismaila Saar, dan eks Newcastle Papiss Cisse adalah lulusan Generation Foot.

Pada 2003, tertarik dengan pembinaan yang dilakukan, klub Prancis FC Metz menjadi mitra eksklusif. Dengan kerja sama ini Metz berhak menjadi klub pertama yang merekrut pemain. Hal ini yang terjadi kepada Mane, Sakho, dan Cisse.


Otak di Balik Generation Foot

Adalah Mady Toure, seorang mantan pemain yang menjadi otak lahirnya Generation Foot. "Saya memulainya hanya dengan sebuah meja dan dua buah bola," ujar Toure dalam wawancara dengan Dakarswagg.

"Cuma sedikit yang percaya dengan proyek ini saat diluncurkan. Saya memiliki rancangan dan target yang harus dicapai. Saya tahu bisa."

Dengan dukungan dari FC Metz, Generation Foot bisa beroperasi dengan lancar dan mampu memberi uang saku kepada pemain.

"Kami memberi kesempatan kepada anak-anak muda. Memberi mereka makan, tempat tinggal, pendidikan, dan latihan," papar Toure.

Di awal, sekitar 120 pemain muda, usia mulai dari 12 tahun, menjalani latihan selama enam tahun yang dirancang untuk menjadikan mereka siap bertarung di Eropa.

"Saya ingin mendidik pemain agar bisa mengatasi sepak bola Eropa. Beberapa pemain Afrika tiba di Eropa tanpa pengetahun, misalnya saja soal kontrak. Saya ingin memberi mereka kunci sukses," ujar Toure.


Sentuhan Prancis

PAda 2013, Generation Foot kedatangan Olivier Perrin, seorang manajer asal Prancis. Perrin membantu menguatkan organisasi Generation Foot.

"Kami tidak hanya menghasilkan 110 pemain profesional dari 110 anak, tapi juga memiliki peran sosial di Senegal, untuk memperbaiki kondisi mereka," ujar Perrin.

Generation Foot tidak menerima uang transfer jika pemain mereka digaet FC Metz. "Sebagai imbal balik, FC Metz membayar biaya akademi setiap bulannya," Perrin menjelaskan.

Dengan semakin berkembangnya reputasi Senegal di dunia sepak bola, apa yang dilakukan Generation Foot terbukti memiliki peran besar dalam menghasilkan talenta masa depan.

Jadi bukan tidak mungkin, dalam beberapa waktu ke depan akan muncul lagi Sadio Mane baru.