BolaSkor.com - Peningkatan sepak Bola Vietnam dalam sekedade terakhir sangatlah signifikan. Dalam 10 tahun terakhir peringkat FIFA Vietnam meningkat 43 peringkat dari urutan 137 menjadi urutan 94. Itu menjadikan Vietnam sebagai satu-satunya negara ASEAN yang berada di 100 besar peringkat FIFA.

Kebangkitan sepak bola Vietnam dilandaskan dari konsistensi yang diperlihatkan VFF (Federasi Sepak Bola Vietnam) kepada proyek jangka panjang yang mereka miliki. Kesabaran itu mulai membuahkan hasil dalam tiga tahun terakhir.

Pembangunan tim untuk jangka panjang dengan melibatkan pemain-pemain muda berjalan baik. Pelatih asal Korea Selatan, Park Hang-seo ditunjuk sebagai pelatih yang menangani Timnas Senior Vietnam dan juga usia muda.

Baca Juga:

Sukses di Barcelona, Pep Guardiola Dianggap Hanya Beruntung

Pep Guardiola Bukan Pelatih yang Bagus untuk Pemain Bertahan

Wawancara Luis Milla: Rahasia Transfer Barcelona ke Real Madrid hingga Sepak Bola ala Jurgen Klopp-Guardiola

Dengan menunjuknya sebagai pelatih dari usia muda ke senior diharapkan Park dapat melanjutkan pengembangan pemain muda hingga regenerasi skuat tidak berhenti. Keputusan VFF menunjuk Park sudah tepat.

VFF melanjutkan budaya menunjuk pelatih asing untuk melatih timnas dengan harapan mereka membawa filosofi sepak bola baru, kultur baru yang dipadukan dengan karakteristik bermain Vietnam.

"Kami menyadari perlunya perubahan dalam perkembangan sepak bola (Vietnam) dengan wawasan sepak bola mereka (pelatih asing) jika kami ingin menaikkan standar ke level yang lebih tinggi," begitu ucapan Le Khanh Hai, Presiden VFF kepada FIFA.

"Tuan Park di antara pelatih-pelatih asing tersukses yang melatih timnas kami selama beberapa tahun terakhir ini. Di bawah arahannya, tim bermain dengan determinasi tinggi dan mendapatkan pencapaian yang bagus."

Park Hang-seo

Karl Heinz Weigan, Alfred Riedl, Henrique Caliston, Edson Tavares, hingga Toshiya Miura adalah lima pelatih asing Vietnam sebelum kedatangan Park. Tradisi menunjuk pelatih asing itu berdampak kepada kedisiplinan pemain Vietnam dan cara mereka beradaptasi dengan kultur asing.

"Dari kerja sama dengan pelatih-pelatih asing, kami telah belajar profesionalisme, kehati-hatian, dan kedisiplinan di sesi latihan. Wawasan yang kami dapat bahkan melebihi sisi teknik dan taktik, dan sekarang kami, contohnya, menyadari pentingnya mentalitas dan nutrisi," tambah Le Khanh Hai.

Hasilnya pun signifikan. Vietnam menjadi kekuatan utama yang disegani di ASEAN selain Thailand, menjuarai Piala AFF dua kali dan empat kali menempati urutan tiga dalam sedekade terakhir.

Di ajang SEA Games menjadi juara pada 2019 dan tiga kali jadi runner-up dalam sedekade terakhir, lalu pada tingkatan yang lebih tinggi, yakni Piala Asia, Vietnam menembus perempat final dua kali pada 2007 dan 2019.

Pada 2019 Vietnam lolos sebagai peringkat tiga terbaik dari fase grup di bawah Iran dan Irak di atas Yemen. Di 16 besar mereka menyingkirkan Yordania via drama adu penalti (4-2) setelah laga berakhir imbang 1-1 di waktu normal.

Lalu di perempat final Vietnam benar-benar menyulitkan Jepang. Meski pada akhirnya kalah 0-1 dari Jepang yang berhasil ke final, perjuangan Vietnam hingga ke perempat final menjadi kejutan dari tim Asia Tenggara - bahkan Thailand tak dapat melakukannya.

Semua itu berkat proses berkelanjutan yang tidak terhenti di tengah jalan yang dilakukan VFF untuk sepak bola Vietnam, apalagi pada 2017 Vietnam U-20 juga mengirim perwakilannya ke Piala Dunia U-20. Itu jadi bukti regenerasi yang terus berjalan dari tingkatan muda hingga senior.

Sorotan diberikan kepada VFF dan Park atas peningkatan sepak bola Vietnam, namun sedianya ada lagi sosok yang tidak kalah penting yang bekerja di balik layar dan berkontribusi. Dia adalah Hans-Jurgen Gede.