BolaSkor.com - 28 Oktober selalu dilewati dengan penuh semangat. Euforia Hari Sumpah Pemuda yang menjadi cikal bakal berdirinya Indonesia selalu dimaknai dengan berbagai versi.

Pada 28 Oktober 1993, semangat Sumpah Pemuda lahir di basket Indonesia. 27 tahun silam, Satria Muda mulai mencapkan kuku di industri olahraga Tanah Air.

Tujuan utama berdirinya Satria Muda sederhana. Awalnya, klub bentukan Doedi Gambiro itu ingin memberikan wadah kepada pemuda Indonesia

“Banyak anak muda kita saya kira belum mendapat wadah yang cukup. Gimana kalau kita masukin Kobatama, paling taruhannya rumah,” ujar Doedi Gambiro.

Semangat Doedi dan Satria Muda besar, tetapi perjalanan mereka tidak mulus. Benar perkiraan Doedi, mengelola klub basket tidak murah, dan rumah menjadi pertaruhan.

Namun, Doedi enggan menyerah. Satria Muda harus tetap ada. Melalui visi yang sama, Doedi merangkul Erick Thohir untuk melanjutkan Satria Muda.

“Permintaan saya sama dia satu, jangan hapus saya sebagai pendiri,” ujar Doedi.

Di tangan Erick, Satria Muda menjelma menjadi klub yang menakutkan. Bukan hanya prestasi, tetapi juga manajemen.

Jika sebelumnya Satria Muda hampir gulung tikar akibat kesulitan finansial, Erick mengubah klub tersebut menjadi lahan bisnis. Hasilnya, Satria Muda bukan hanya klub bermahkota, tetapi juga well organised.

Predikat klub basket Indonesia paling profesional memang layak disemat ke Satria Muda. Jika berkaca dari para peserta Kobatama, klub yang bermarkas di Mahaka Arena itu mampu bertahan.

Sebut saja beberapa klub Kobatama yang akhirnya gugur seperti Indonesia Muda, Bhineka, PanAsia, hingga teranyar Aspac yang akhirnya pamit musim lalu.

Baca Juga:

Jelang Kualifikasi FIBA 2020, Timnas Basket Indonesia Wanti-wanti Pemain

Batalnya IBL 2020 dan Pengaruh untuk Timnas Basket Indonesia

“Sebab, tidak mungkin menjalankan klub basket hanya berdasarkan sumbangan, atau hobi tapi benar-benar harus dikelola secara profesional. Dengan mendapatkan income dan lain-lain," kata Erick.

“Itu semua itu bisa diselamatkan karena profesional dan gotong royong. Hasilnya bisa dilihat sekarang, Satria Muda dari 14 kali masuk final kami bisa 10 kali juara," imbuh dia.

27 tahun berjalan, Satria Muda masih punya banyak target yang belum dicapai. Kini, Erick tak hanya menginginakan prestasi, tetapi juga legacy.

“Cita-cita masih banyak. Yang namanya sebuah klub itu kan tujuannya juara, tidak ada puas-puasnya. Tapi kami mengharapkan bahwa fanskami juga tidak kalah dengan sepakbola," ujar Erick.

“Jika kita melihat sepakbola bisa diisi 40 ribu penonton. Nah, lapangan bola basket 3000 maksimal tapi bagaimana dengan jumlah itu secara konsisten nonton. Ini yang kami perjuangkan. Apalagi, kita akan jadi tuan rumah FIBA 2023,” tutur Menteri BUMN tersebut.

Total, 10 gelar juara sudah direbut Satria Muda. Catatan tersebut terjadi mulai Kobatama (1999), IBL (2004, 2006, 2007, 2008, 2009, dan 2017-2018), NBL Indonesia (2010-2011, 2011-2012, dan 2014-2015 IBL (2018).