BolaSkor.com - Namanya memang tak sebesar I Gusti Putu Yasa maupun I Made Pasek Wijaya. Namun, Ida Bagus Mahayasa merupakan saksi hidup dari perjalanan klub kebanggaan Bali, Gelora Dewata 89.

Ida Bagus Mahayasa merupakan pemain generasi pertama Gelora Dewata. Dia gabung bersama Kadek Suartama dan Wayan Kana. Dari awal klub berdiri, klub berjaya hingga klub masa akhir di Bali, Ida Bagus Mahayasa jadi ujung tombak.

Badannya memang kecil. Namun insting gol tinggi yang membuat Ida Bagus Mahayasa bertahan begitu lama bersama Gelora Dewata. Sebelas tahun dia menjadi bagian Gelora Dewata, dari tahun 1989 hingga 1999.

Sebelas tahun merupakan waktu yang sangat lama. Beragam cerita dikenang Ida Bagus Mahayasa. Sebuah kebanggaan ketika bisa mengharumkan nama Bali di persepak bolaan nasional.

"Sangat bahagia ketika menjadi bagian dari tim Bali. Saat itu Gelora Dewata begitu menggeliat. Kita belum berpikir yang namanya finansial. Fokusnya meraih prestasi dan antusiame jadi bagian tim Bali," terang Ida Bagus Mahayasa.

Baca Juga:

Yabes Tanuri Yakin Profesionalisme Pemain Bali United

Gelandang Bali United Kadek Agung Ungkap Kerinduan dan Berharap Ada Turnamen jika Liga Disetop

Pretasi tertingginya tentu saat membawa Gelora Dewata juara Piala Galatama 1993 dan Liga Galatama 1993/1994. Inilah momen yang sangat dinanti. Tiket ke Winners Asia 1995 didapat Ida Bagus Mahayasa bersama Gelora Dewata.

Dia sudah gembira ketika bisa menyingkirkan Kuala Lumpur FA. Kala itu, Gelora Dewata kalah 1-2 di Malaysia dan menang 2-0 di Stadion Ngurah Rai, Denpasar. Ida Bagus Mahayasa mencetak gol bersama Vata Matanu Garcia pada laga kedua.

"Sebagai seorang penyerang, saya diinstruksikan untuk membuat setiap peluang menjadi gol. Pastinya sangat berkesan ketika mencetak gol lawan klub Malaysia. Kita bisa menang 2-0," tuturnya.

Ida Bagus Mahayasa
Ida Bagus Mahayasa (kedua dari kiri) saat memperkuat Mitra Devata dalam pertandingan melawan ofisial Bali United. (Mitra Devata)



Sayang, sebuah petaka menimpa Gelora Dewata. Ternyata, pemain yang didatangkan dari Vitoria Setubal, Mbog Nyetam Jeremy dianggap ilegal. Proses kepindahan internasional dari Portugal menuju Indonesia belum dibereskan sang agen.

Gelora Dewata pun gagal melenggang ke fase berikutnya melawan wakil Thailand, Telephone Org. Mereka terpaksa memfokuskan diri pada Liga Indonesia 1994/1995. Padahal, saat itu Gelora Dewata sudah meminjam bek tangguh, Aji Santoso.

Perjalanan Ida Bagus Mahayasa selesai tahun 1999. Kala itu, setelah sebelas tahun berada di Bali, dirinya merantau ke PSIM Yogyakarta. Setahun dirinya menjadi bomber tim Laskar Mataram.

"Setelah semusim di PSIM, saya pulang ke Bali membela Persegi Gianyar. Semusim di Persegi, saya memutuskan pensiun di tahun berikutnya. Sampai sekarang menjadi pelatih anak-anak," ucapnya.

Gelora Dewata memang sudah tidak ada di Bali. Sejak awal 2000-an, mereka hengkang ke Sidoarjo. Ida Bagus Mahayasa lega kini ada Bali United yang menjaga marwah sepak bola Bali.

"Keberadaan Bali United membuat anak-anak muda berminat untuk melatih lagi. Sepak bola usia dini juga semakin tumbuh. Sekarang putra Bali sudah ada sasaran atau wadah, yaitu di Bali United," pungkasnya. (Laporan Kontributor Putra Wijaya/Bali)