BolaSkor.com - Persaingan Serie A di musim 2021-2022 berjalan seru dengan ketatnya perebutan Scudetto di tiga besar yang direbutkan Inter Milan (juara bertahan), AC Milan, dan Napoli, serta perebutan zona Liga Champions.

Sampai pekan 22 Serie A Inter memimpin dengan 50 poin dari 21 laga diikuti Milan (48 poin) dari 22 laga, serta Napoli (46 poin) dari 22 laga, dan Atalanta (42 poin) dari 21 laga. Sementara tim seperti Juventus, Fiorentina, AS Roma, dan Lazio merebutkan zona Liga Champions.

Musim ini Serie A menjadi seru karena sejumlah faktor, salah satunya pergantian pelatih seperti Simone Inzaghi di Inter, Luciano Spalletti di Napoli, Massimiliano Allegri di Juventus, Maurizio Sarri di Lazio, hingga Jose Mourinho di Roma.

Nama pelatih yang disebut terakhir menjadi sorotan besar. Untuk kali pertama sejak meninggalkan Italia pada 2010, selepas memberikan treble winners bersejarah untuk Inter Milan, Mourinho kembali ke Serie A.

Baca Juga:

Mourinho Temukan Berlian Muda di Tim Muda Roma, Felix Afena-Gyan

Alumni Premier League dalam Skuad AS Roma Kian Bertambah

11 Tahun Perjalanan Karier Jose Mourinho Pasca-Meninggalkan Inter Milan

Animo besar muncul dari fans Roma mengingat sosok Mourinho sebagai salah satu pelatih tersukses dunia, terlepas dari periode singkat dan kegagalannya melatih di Manchester United dan Tottenham Hotspur.

Itu pun Mourinho sukses memenangi trofi bersama Red Devils di musim pertamanya melatih. Tak ayal Mourinho disambut positif oleh fans Roma yang belum pernah melihat timnya memenangi trofi sejak 2008 atau 21 tahun sejak Roma memenangi Scudetto.

Bukan perkara mudah mempersembahkan trofi untuk Roma, sebab Roma tim bersejarah di Italia dan Eropa tapi bukan langganan bertarung untuk trofi setiap musimnya. Itulah alasan klub merekrut Mourinho.

Dukungan Direksi dan Performa Roma

Dengan total investasi mencapai 100 juta euro, Direksi Roma mendukung Mourinho yang merekrut Matias Vina, Rui Patricio, Marash Kumbulla, Eldor Shomurodov, dan Tammy Abraham. Pada Januari ini kabarnya Roma mengincar Tanguy Ndombele.

Awalan Roma pun bagus dengan tujuh kemenangan dari delapan pertandingan, tapi lambat laun saat musim dingin masuk bensin Roma bak habis dengan kekalahan di Derby melawan Lazio, kalah dari Juventus, AC Milan, Venezia, Bologna, hingga kekalahan memalukan dari Bodo/Glimt.

Kekalahan 1-6 dari Bodo/Glimt di Europa Conference League meninggalkan aib dalam karier Mourinho, sebab untuk kali pertama tim yang dilatihnya kebobolan enam gol.

Terbaru adalah kekalahan 3-4 Roma dari Juventus di Stadio Olimpico pada laga Serie A. Roma sudah unggul 3-1 tapi kemudian kalah 3-4. Mourinho menilai skuadnya mengalami keruntuhan psikologis.

“Kami berada dalam kendali penuh selama 70 menit,” kata Mourinho kepada DAZN.

“Tim bermain sangat baik dan memiliki mentalitas mengambil kendali, kami keluar dan memulai dengan kuat. Kami memiliki gagasan tentang tekanan tinggi, mengendalikan tempo dan mengambil inisiatif."

“Sangat bagus selama 70 menit, lalu ada keruntuhan psikologis ini. 3-2 membunuh kami, karena Felix (Afena-Gyan) memiliki permainan yang luar biasa, yang diakhiri dengan sprint melawan (Juan) Cuadrado. Saya melepasnya dan penggantinya (Eldor Shomurodov) tidak bermain benar."

“Ketika kami membiarkan mereka kembali untuk 3-2, tim dengan mentalitas yang kuat seperti Juventus, karakter yang kuat, ketakutan muncul. Kompleks psikologis. Tidak masalah bagi saya memiliki 3-2, itu masalah bagi mereka. Untuk tim saya."

“Pada akhirnya, ketika Anda berada dalam masalah, Anda bangkit kembali dan menemukan karakter Anda. Tapi ada pemain di ruang ganti ini yang agak terlalu baik, agak terlalu lemah."

“Saya sudah mengatakan kepada para pemain, jika pertandingan berakhir pada menit ke-70, itu akan menjadi penampilan yang luar biasa. Sayangnya, itu tidak berakhir saat itu," terang Mourinho.

Jose Mourinho Layak Lanjutkan Pekerjaan di Roma?

Roma sampai pekan 22 Serie A masih berada di urutan tujuh klasemen. Di Serie A Roma hanya bisa berharap merebutkan zona Eropa (Liga Champions), tapi kans untuk memenangi trofi terjadi di Eropa.

Roma masih berpatisipasi Europa Conference League dan menembus fase gugur. Terakhir kali Roma memenangi titel Eropa 61 tahun lalu. Selain di Eropa, kans lain Roma untuk memenangi trofi ada di Coppa Italia.

Mourinho disinyalir memprioritaskan kedua turnamen itu untuk mencoba memenangi trofi, meski performa Il Giallorossi angin-anginan di Serie A. Roma belum bermain sesuai keinginan Mourinho, tapi dukungan masih diberikan fans dan juga direksi.

"Penggemar Roma menganggap Mourinho sebagai kesempatan terakhir - jika dia tidak bisa berhasil, tidak ada yang bisa," kata Matteo De Santis, seorang jurnalis La Stampa di Roma.

"Sangat romantis membayangkan dia akhirnya akan membawa trofi ke klub karena dialah yang berbicara tentang 'nol gelar' Roma pada 2009 ketika dia masih di Inter."

"Dia salah satu manajer paling sukses yang pernah ada. Terlebih lagi, orang-orang menyukai sikapnya. Dia tidak takut menghadapi wasit dan jurnalis dan membuat permintaan khusus kepada klub. Fans bersamanya tanpa syarat."

Keseimbangan bermain belum dimiliki Roma, baik itu kekuatan bertahan yang acapkali identik dengan tim Mourinho, juga lini serang yang belum konsisten. Tapi Mourinho harus diberi waktu untuk membangun skuad yang diinginkannya di Roma.