BolaSkor.com - Peran gelandang bertahan dalam sepak bola selalu jarang mendapatkan sorotan karena tugas mereka tidak terlihat selayaknya penyerang (mencetak gol) atau kiper ketika melakukan penyelamatan fantastis.

Meski begitu posisi gelandang bertahan sangat diapresiasi rekan setim karena tugas mereka sangat penting bagi tim: melapis lini belakang, menangkal serangan lawan (melakukan tugas kotor), hingga mengawali transisi bermain.

"Saat bermain di lapangan, saya terkadang melihatnya (N'Golo Kante) dua kali. Yang satu di kiri, yang satu di kanan. Tidak salah lagi, saya bermain dengan orang kembar!" tutur Eden Hazard 2017 silam mengenai peran gelandang bertahan N'Golo Kante

"Dia adalah pemain fantastis dan sangat membantu tim ini. Jadi, kami bahagia bisa memilikinya di tim ini."

Baca Juga:

16 Tahun Penantian Berakhir, Leeds United Kembali ke Premier League

4 Hal Menarik Mengenai Rodrigo, Striker yang Datang ke Leeds United karena Marcelo Bielsa

5 Bintang Klub Promosi yang Siap Mengguncang Premier League 2020-2021

Eden Hazard sangat mengapresiasi peran N'Golo Kante kala membela Chelsea

Begitulah sosok gelandang bertahan yang sangat penting bagi rekan setim. Kante hanya salah satu contoh gelandang bertahan yang menjalankan perannya dengan sangat baik.

Seiring berjalannya perkembangan sepak bola modern peran gelandang bertahan tak melulu soal permainan kotor atau mencegah serangan lawan. Namun juga membangun serangan (deep-lying playmaker) yang bisa dilihat dalam diri pemain seperti Andrea Pirlo, Xabi Alonso, dan Sergio Busquets.

Posisi gelandang bertahan itu juga krusial dalam skema bermain Gareth Southgate di timnas Inggris. Saat ini posisi tersebut ditempati gelandang berusia 21 tahun West Ham United Declan Rice.

Eks pemain akademi Chelsea cenderung nyaman di posisinya karena tak ada penantang serius sebelumnya. Tapi Rice bisa jadi akan berpikir dua kali jika melihat Kalvin Phillips dan James Ward-Prowse.

Nama yang disebut terakhir sudah cukup terkenal karena ia produk akademi Southampton dan bermain di sana dengan kelebihan mengambil tendangan bebas. Tapi Kalvin Phillips bak enigma ketika dipanggil Southgate masuk timnas Inggris.

"Saya terbang ke bulan," begitulah ucapan Phillips saking senangnya dan tidak menyangka masuk skuad Three Lions. Southgate tentu memanggil pemain Leeds United itu bukan karena asal pilih pemain.

Piawai Mengawali Transisi Bermain

Kalvin Phillips

"Saya sebenarnya cukup klasik: saya suka melakukan tekel, suka terlibat perebutan bola, suka mengoper dan mengontrol bola," tutur Kalvin Phillips.

Apa yang diucapkannya memang tugas utama gelandang bertahan. Phillips (24 tahun) bukan nama tenar di Inggris dan juga rekrutan mahal Leeds dari klub lain, tetapi dia adalah produk akademi yang dikembangkan oleh Marcelo Bielsa.

Dalam permainan Leeds yang mendominasi penguasaan bola dan ofensif Phillips bermetamorfosis menjadi gelandang bertahan modern: bisa bertahan dan juga naik membantu serangan - melakukan transisi bermain.

Keberhasilan Leeds promosi ke Premier League dengan menjuarai Championship melalui 77 gol tak lepas dari peran vital Phillips. Kualitasnya kala bertahan membantu Leeds memperkuat lini belakang dan kebobolan hanya 35 gol.

Tak ayal Marcelo Bielsa mengapresiasi pemanggilannya ke timnas Inggris. Bielsa memberikannya baju klub prestisius dari Argentina Newell's Old Boys.

Marcelo Bielsa berjasa besar dalam pengembangan karier Kalvin Phillips

"Ini (jersey Newell's) adalah jersey lama dari dulu dia bermain, yang akan saya minta dia tanda tangani," kata Phillips dikutip dari Telegraph.

"Dia juga mengirimi saya pesan kecil, saya akan membingkainya, dikatakan bahwa kerja keras saya telah membuahkan hasil, tetapi tidak berhenti di sini."

Jasa Bielsa memang besar dalam mengembangkan aspek permainannya. Sejak promosi pada 2014 Phillips yang tadinya sekedar tahu bagaimana tugas utama gelandang bertahan bertransformasi menjadi kunci dalam transisi bermain.

"Dia (Phillips) sangat bagus dalam merebut bola dan menempatkannya ke ruang lain, ruang yang lebih baik. Dia sangat bagus saat harus melindungi tim saat full-back kami menyerang. Dan saat kami kalah jumlah, dia sangat bagus dengan caranya bertahan," ucap Bielsa soal Phillips.

Julukan Yorkshire Pirlo lahir dan merujuk kepada tempat kelahirannya serta maestro sepak bola Italia yang kini melatih Juventus Andrea Pirlo.

Bersaing Ketat dengan Declan Rice

Declan Rice

Persaingan ketat di satu posisi bagus bagi tim mana pun karena itu akan membuat para pemain tetap tampil kompetitif. Begitu juga di antara Declan Rice dan Kalvin Phillips di timnas Inggris.

"Posisi tempatnya (Rice) bermain butuh kompetisi untuk perebutan tempat," begitulah ucapan Southgate di balik alasan pemanggilan Phillips.

Menilik catatan dari WhoScored statistik keduanya cukup berimbang. Declan Rice unggul ketika bertahan dan Kalvin Phillips kala tim membangun serangan dan ia jadi katalisator di lini tengah.

Akan tapi perbedaan itu terjadi karena gaya main berbeda West Ham arahan David Moyes yang lebih bertahan dan mengandalkan serangan balik, sementara Leeds bermain ofensif dan senang mendominasi penguasaan bola.

Rice tampil 38 kali musim lalu dengan rataan tekel 3,1 per 90 menit laga dan Phillips di 37 laga punya rataan tekel 2,7 per 90 menit laga. Akurasi operan Rice unggul 86 persen berbanding 81,8 persen.

Phillips punya keunggulan dalam hal memenangi penguasaan bola di lini tengah pada sepertiga akhir pertahanan lawan (4,7 poin berbanding 4,1). Operan per 90 menit laga Phillips juga unggul 56,1 berbanding 45,6 Rice serta akurasi bola jauh sebanyak 5,4 berbanding 3,4.

“Saya sangat terkejut ketika manajer memberi tahu saya tentang peralihan posisi karena saya adalah gelandang box-to-box nomor 8 dan bahkan bermain sebagai nomor 10 dan mencetak beberapa gol," imbuh Phillips.

"Butuh enam atau tujuh bulan bagi saya untuk membiasakan diri dan memahami posisi harus berada di lapangan, kapan mendapatkan bola, kapan tidak mendapatkan bola, dan saya juga harus bekerja di sisi pertahanan saya."

Kiprah Kalvin Phillips akan sangat dinantikan di musim 2020-2021. Musim ini akan jadi ujian baginya karena level bermain Premier League yang berbeda dari Championship serta potensi lawan-lawan yang lebih hebat akan dihadapinya nanti.