BolaSkor.com - Manajemen Persebaya Surabaya tidak mau mengomentari hukuman yang dijatuhkan Komisi Disiplin (Komdis) PSSI terhadap Arema FC. Mereka hanya mengimbau agar hukuman ini menjadi pelajaran bagi suporter Persebaya, yakni Bonek.

Singo Edan mendapat hukuman berat dari Komdis PSSI. Mereka harus bertanding tanpa penonton pada sisa laga home musim ini. Selain itu, suporter Arema juga dilarang menyaksikan partai away Singo Edan hingga Liga 1 2018 berakhir.

Bukan hanya itu, Arema juga dijatuhi denda Rp 100 juta. Denda tersebut adalah buah dari Aremania yang menyalakan flare dan melakukan pelemparan botol ke arah stadion. Kemudian, dirigen Aremania Yuli Sumpil dan satu orang Aremania bernama Fandy, dilarang untuk masuk ke stadion wilayah Indonesia selama seumur hidup.

Saat ditanya mengenai tanggapan atas hukuman Arema FC, Persebaya tegas menolak. "Kami tidak ingin mengomentari hal itu," tegas Sekretaris tim Persebaya Ram Surahman.

Menurut Ram, hukuman itu adalah ranah Komdis PSSI. Walaupun demikian, Ram meminta Bonek belajar dari hukuman yang diterima dirigen Aremania Yuli Sumpil. Yuli Sumpil mendapatkan hukuman tak kalah berat, yakni dilarang memasuki stadion di seluruh Indonesia seumur hidupnya.

Hukuman tersebut menimpa Yuli Sumpil dan salah satu rekannya setelah melakukan aksi provokasi kepada pemain Persebaya, Sabtu (6/10) lalu. Pada saat itu Yuli menghambur-hamburkan uang di depan penggawa Persebaya yang sedang pemanasan.

“Ini menjadi pelajaran semua. Khususnya bagi Bonek. Bonek harus lebih menata dan berbuat lebih baik lagi. Sebab, bukan tidak mungkin Bonek juga akan mengalami hal serupa,” pinta pria yang juga menjabat General Coordinator panitia pelaksana (panpel) pertandingan Persebaya ini.

Agar tren serta image positif yang mulai melekat di Bonek terus terjaga, Persebaya akan semakin mengintensifkan komunikasi dan koordinasi dengan Bonek.

"Kami perlu untuk terus merapatkan barisan untuk terus memperbaiki kualitas pertandingan kandang. Kami percaya Bonek pasti bisa,” tutur Ram. (Laporan Kontributor Keenan Wahab/Surabaya)