BolaSkor.com - Arsenal menuai hasil tidak memuaskan setelah ditahan imbang 1-1 oleh Wolverhampton Wanderers pada pekan ke-11 lalu. Arsenal kembali gagal memetik kemenangan meski unggul lebih dulu.

Di media sosial ramai dibincangkan soal kemungkinan manajer Arsenal Unai Emery tidak mempelajari lawan yang akan dihadapi. Rumor ini makin deras usai laga melawan Wolves. Muncul pendapat yang mengatakan taktik yang diterapkan memperlihatkan bahwa Emery sama sekali tidak tahu permainan lawan.

Baca Juga:

Arsenal 1-1 Wolverhampton: The Gunners Kembali Batal Menang

Pro-Kontra Jose Mourinho jika Melatih Arsenal

Angkat Bicara, Granit Xhaka Minta Maaf atas Sikapnya kepada Fans di Emirates Stadium

Saat menghadapi Wolves, Emery kembali memainkan taktik yang terbilang aneh. Dia mengusung formasi 4-4-2 berlian dengan Mesut Ozil ada di belakang dua penyerang. Dengan kata lain, Arsenal bermain narrow alias padat di tengah. Menariknya, Wolves sebagai lawan dikenal memiliki bek sayap yang berbahaya. Selain itu pemain depan Wolves juga senang bermain melebar.

Bagi yang memperhatikan permainan Wolves, sistem permainan ini amat kentara. Hampir semua lawan mengantisipasi cara bermain pasukan Nuno Espirito Santo. Namun Emery terkesan baru manyadari itu pada menir ke-73 ketika dia mengubah formasi Arsenal menjadi 4-2-3-1.

Sepanjang pertandingan Wolves mendominasi kedua sisi sayap. Dua gelandang Arsenal yang dimainkan, Lucas Torreira dan Dani Ceballos, sering terlambat membantu. Tidak heran Wolves sering mendapatkan keadaan dua melawan satu saat melancarkan serangan balik dari sayap. Hal ini juga terjadi saat Arsenal melawan Liverpool, ketika itu Emery seakan membiarkan kedua bek Liverpool leluasa mengirimkan umpan silang.

Boleh jadi Emery berpikir timnya akan mendominasi lini tengah karena memiliki jumlah pemain lebih banyak, dua melawan empat. Namun kenyataannya, gelandang-gelandang tampil solid dan mampu membuat lawan kehilangan ritme. Alhasil, sepanjang laga Wolves mampu melepaskan 25 tembakan, sedangkan Arsenal hanya 10.

Tidak antisipasi taktik lawan dan lamban bereaksi menghadapi situasi ini yang membuat publik Arsenal geram. Emery pun dibandingkan dengan Pep Guardiola yang pada pekan yang sama membuktikan kualitasnya sebagai pelatih papan atas.

Saat melawan Southampton, Manchester City tertinggal 0-1 terlebih dulu. Dalam kondisi ini, Guardiola menginstruksikan pasukannya makin banyak melancarkan umpan silang dan mengubah formasi menjadi 4-4-2 dengan memasukkan Gabriel Jesus. Dengan masuknya Jesus City memiliki dua penyerang yang meramaikan kotak penalti lawan dan siap menyambut hujan bola silang. Total, dalam laga melawan Soton, City melepaskan 62 umpan silang.

Permainan ini tentu terlihat aneh karena Guardiola dikenal terobsesi dengan penguasaan bola dengan umpan-umpan pendek merapat. Namun Guardiola melihat dengan melepaskan banyak umpan silang adalah formula paling tepat saat menghadapi lawan seperti Soton. Pada akhirnya pertahanan Soton jebol setelah dihujani umpan silang dan City menutup laga dengan kemenangan.

Apakah perbedaan ini membuktikan kalau Emery benar tidak mempelajari lawan yang akan dihadapi? Bisa jadi. Yang pasti Emery sendiri mengatakan dari pasukannya sudah menjalankan taktik dengan cara yang diinginkannya.