BolaSkor.com - Roda kehidupan bisa berubah cepat dari satu musim ke musim berikutnya. Manchester City merupakan contoh nyata hasil perputaran roda kehidupan itu. Pada akhir musim 2016/17, Man City benar-benar dikritisi publik karena mengakhiri musim nirgelar di musim perdana Pep Guardiola melatih klub.

Namun, fans, pemain, dan petinggi klub tidak buru-buru mengambil kesimpulan untuk mengambinghitamkan Guardiola. Mereka tahu, dibutuhkan kesabaran dalam proses adaptasi Man City bersama eks pelatih Barcelona dan Bayern Munchen itu. Kesabaran pun berbuah hasil manis. Man City meraih double winners trofi Piala Liga dan Premier League.

Man City tidak meraihnya dengan permainan yang monoton, kemenangan demi kemenangan yang diraih dengan skor 1-0, atau strategi bertahan lalu melancarkan serangan balik, tidak. Mereka menuai pujian dari permainan ofensif yang disebut terbaik di Eropa. Permainan ofensif yang sangat menghibur bagi pecinta sepak bola menyerang.

Pola serangan Man City tidak kaku dilancarkan dari sisi sayap saja, melainkan dari tengah dengan mengandalkan kreativitas David Silva dan Kevin De Bruyne. Bahkan, bek-bek Man City juga bisa muncul sebagai solusi mencetak gol. Permainan ofensif mereka juga diimbangi sistematis bertahan yang kompak, dengan menerapkan high pressing ketika kehilangan bola yang dimulai dari lini depan, tengah, hingga belakang.

Man City tercatat sebagai tim dengan penilik penguasaan bola rata-rata terbaik di Premier League, dengan rataan 65,9 persen per laganya dan akurasi operan mereka mencapai 88,8 persen - hampir seluruh operan sampai tepat di kaki rekan setim. Penguasaan yang mereka miliki pun jarang sia-sia, karena penciptaan peluang yang juga sangat berbahaya.

The Citizens bisa mencetak rataan 2,8 gol per laga dengan jumlah tendangan mencapai 17,6. Tendangan itu bisa dikategorikan sepakan dari dalam area 16 meter atau luar kotak penalti. Melihat statistik tersebut, terlihat jelas betapa ofensifnya Man City musim ini.

"Saya musim lalu melakukan wawancara ketika mereka (Man City) banyak dikritik, lalu saya berkata, bahwa dia (Guardiola) hanya butuh waktu. Jika mereka bersabar dengannya, maka dia akan berakhir dengan kesuksesan," tutur Xavi Hernandez, mantan anak asuh Guardiola di Barcelona.

Kesabaran itu benar-benar memberikan Man City kesuksesan musim ini. Meski kandas oleh Liverpool di Liga Champions, Man City terbilang sukses karena mampu menaklukkan Premier League dengan keyakinan bermain Guardiola. Man City sangat konsisten di puncak klasemen dan sudah dianggap sebagai juara berbulan-bulan yang lalu.

Kesuksesan Man City saat ini baru awal perjalanan Guardiola. Ia dikontrak selama tiga musim, namun, Man City bisa saja mengontraknya dengan jangka panjang untuk memulai rezim baru untuk Manchester Biru. Fans rival sekota Man City yang berada di Manchester United boleh jadi khawatir, bakal melihat Man City keluar dari bayang-bayang kesuksesan Man United dan sukses selama bertahun-tahun lamanya. Laiknya Man United di era Sir Alex Ferguson. Kekhawatiran yang dapat dimaklumi.

Rival Inkonsisten, Man City Stabil

Di antara tim-tim papan atas Premier League saat ini, hanya Man City yang stabil. Baik itu dari segi kedalaman skuat, finansial yang kuat, hingga permainan ofensif yang sudah menjadi identitas bermain mereka. Sementara tim lainnya: Man United, Chelsea, Liverpool, Tottenham Hotspur, dan Arsenal, memiliki masalahnya masing-masing.

Jose Mourinho, manajer Man United, belum sepenuhnya memegang "kontrol" karena ia lebih banyak memicu kontroversi dengan pemainnnya sendiri seperti Luke Shaw dan Paul Pogba. Bahkan, kedatangan Alexis Sanchez justru menguatkan rumor hengkang Anthony Martial dan Marcus Rashford.

Permainan Man United juga belum konsisten hingga Mourinho mencapai satu kesimpulan: belanja lebih banyak pemain di bursa transfer. Kedatangan pemain-pemain top memang bisa mengangkat permainan tim, namun, jika mentalitas Man United tidak berubah dengan gaya bermain mereka yang cenderung hati-hati, bertahan, dan monoton, maka kehadiran pemain baru bisa jadi percuma. Masalah Man United saat ini adalah "penolakan" para pemain untuk bermain pragmatis seperti yang dipikirkan Mourinho.

Lalu untuk Chelsea, masalah mereka lebih kompleks karena ketidakpastian masa depan Antonio Conte, serta beberapa pemain andalan layaknya Thibaut Courtois dan Eden Hazard. Andai musim depan Chelsea tak lagi dilatih Conte, maka The Blues akan memulai dari nol lagi proses adaptasi dengan manajer baru. Sukses atau tidaknya mereka bergantung kepada pemahaman para pemain, dengan konsep yang dibawa manajer baru.

Sedangkan untuk Liverpool, Arsenal, dan Tottenham, mereka disinyalir takkan mengalami perubahan manajerial. Jurgen Klopp, Arsene Wenger, dan Mauricio Pochettino akan masih bertahan bersama klubnya masing-masing. Di antara ketiganya, mungkin cuma fans Arsenal yang khawatir dengan prospek klub kesayangan mereka di bawah asuhan Wenger.

Bukan apa-apa, The Gunners sudah mengalami kemunduran belakangan ini dengan terdepak dari posisi empat besar Premier League alias zona Liga Champions. Padahal, Arsenal cukup konsisten melakukannya. Plus, skuat mereka tidak pernah cukup untuk bersaing merebutkan titel Premier League yang terakhir diraih pada tahun 2004. Arsenal bisa menjuarai Liga Europa musim ini dan bermain di Liga Champions musim depan. Tetapi, hal itu takkan cukup bagi fans apabila Wenger masih irit belanja pemain di bursa transfer pemain.

Liverpool dan Tottenham diprediksi mampu menyaingi Man City musim depan. Namun, keduanya juga memiliki masalah yang sama, yaitu konsistensi bermain di Premier League. Dengan fokus yang terbelah di kompetisi lain, Liverpool dan Tottenham seringkali kehilangan fokus di Premier League.

Guna mengakali hal tersebut, kedalaman skuat kedua tim haruslah bagus dan saat ini, kedua tim tidak memilikinya. Liverpool memang memiliki trisula Mohamed Salah, Roberto Firmino, dan Sadio Mane di depan. Namun, bagaimana jika mereka cedera? Liverpool tak punya pelapis sepadan. Pun demikian dengan Tottenham yang selalu mengandalkan Harry Kane, Dele Alli, Christian Eriksen, dan Son Heung-min.

Terlebih, masalah utama Tottenham adalah mentalitas bermain mereka yang tampaknya, cukup puas dengan hanya sekedar berkembang, tanpa ambisi untuk meraih trofi. Ditambah gaji pemain andalan yang berada di bawah angka rata-rata, eksodus bisa saja terjadi di bursa transfer mendatang.

Nah, seluruh permasalahan itu tidak dimiliki Man City. Jika mental Man City dipertanyakan saat ini, maka jawabannya sederhana: Pep bisa menanamkan mentalitas juara jika ia terus bertahan. Memiliki skuat muda, yang bahkan belum mencapai puncak performa mereka, serta manajer yang memiliki visi jangka panjang, Man City jelas dapat mempermanenkan status mereka sebagai penguasa baru Premier League.